
Oleh dr. Andi Talman Nitidisastro*
Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Pada tahun 2025 ini, Republik Indonesia memasuki usia ke-80. Pertanyaannya, mungkinkah Indonesia bisa bangkit kembali dari keterpurukan?
Jika diamati secara objektif, Indonesia memiliki potensi luar biasa. Tanahnya subur, dengan hasil tambang bernilai tinggi di pasar internasional: nikel nomor 1 di dunia, batu bara nomor 3, dan emas nomor 6. Lautan Indonesia seluas daratan Eropa, ditambah pantai-pantai indah, sinar matahari sepanjang tahun, serta populasi lebih dari 270 juta jiwa.
Apabila potensi tersebut dikelola dengan baik, Indonesia bisa menjadi tujuan wisata dunia sekaligus gudang pangan global, tanpa harus terus-menerus menggali tambang mineral. Sumber daya alam adalah warisan antargenerasi, bukan hanya untuk dimanfaatkan segelintir penyelenggara negara yang rakus dan abai terhadap nasib rakyat.
Ke depan, dengan hadirnya pemimpin yang mengerti persoalan dan peduli pada rakyat, kesejahteraan bangsa Indonesia tentu bukan sekadar harapan. Namun, ada sejumlah faktor internal dan eksternal yang masih menjadi hambatan besar.
Faktor Internal
1. Primordialisme, feodalisme, dan korupsi
Korupsi merajalela, berpadu dengan kolusi dan nepotisme. Mindset buruk sebagian besar penyelenggara negara hanya memelihara kemiskinan dan kebodohan rakyat. Sistem bernegara tidak konsisten, menghasilkan berbagai mafia di hampir semua sektor.
2. Minim pemahaman Pancasila
Pancasila seharusnya menjadi sistem tata kelola negara dan jalan hidup bangsa. Namun, praktiknya hanya sebatas lips service. Banyak penyelenggara negara tidak mengerti arah hidup ber-Pancasila.
3. Sistem politik dan ekonomi yang liberal
Neoliberalisme dan demokrasi liberal yang tak terkendali melahirkan oligarki politik, konglomerasi, serta dominasi pemodal. Akibatnya, rakyat kehilangan kedaulatan, keadilan sulit tercapai, dan banyak yang tetap miskin serta bodoh.
Faktor Eksternal
1. Tekanan globalisasi dan revolusi industri
Arus informasi, megatren global 2000, hingga revolusi industri berbasis digitalisasi, big data, dan AI seharusnya memberi peluang. Namun, Indonesia tidak siap. Akibatnya, banyak lapangan kerja hilang, pengangguran meningkat, dan kemiskinan bertambah. Muncul pula ideologi transnasional yang memicu radikalisme, intoleransi, dan anarkisme.
2. Strategi oligarki dunia
Oligarki global berusaha menjerat negara berkembang dengan utang dari lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Mereka juga memengaruhi pasar melalui perang, penyakit, serta ketergantungan industri. Perang di Ukraina dan konflik di Iran bahkan memunculkan anomali penurunan dominasi dolar, yang seharusnya menjadi momentum Indonesia untuk memperkuat ekonomi nasional.
Kembali pada Pancasila dan Trisakti
Apabila penyelenggara negara tetap berkhianat, rakus, dan abai, ditambah faktor internal-eksternal yang menekan, keterpurukan Indonesia bisa semakin dahsyat. Distrust masyarakat terhadap hampir semua institusi negara berpotensi memicu disintegrasi bangsa.
Hal ini hanya bisa dicegah dengan implementasi nyata Pancasila sebagai sistem tata kelola negara. Ekonomi kapitalis dan konglomerasi yang jahat harus diubah menjadi ekonomi jalan tengah, yaitu sosialisme Indonesia. Prioritasnya adalah kesejahteraan petani, nelayan, buruh, dan aparatur negara.
Indonesia perlu membangun ekonomi berdikari dengan mengurangi ketergantungan pada modal asing. Modal asing tetap diterima, tetapi harus untuk sektor produktif. Tugas koperasi, BUMN, dan swasta harus didefinisikan ulang agar jelas secara filosofi dan implementasi.
Oligarki politik dan pemodal partai harus dibatasi dengan sanksi tegas melalui peradilan yang bebas dari mafia hukum. Di saat yang sama, budaya bangsa harus dijadikan pilar keutuhan Republik, dengan menghargai kearifan lokal serta mendorong budaya intelektual berupa kritik argumentatif.
Secara garis besar, jalan tercepat menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah kembali kepada landasan strategis Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Semoga eksistensi Republik Indonesia tetap utuh dan terjaga. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
*Penulis: Soekarnois dan Aktivis Angkatan 66
Editor: San






