Website Berita dan Opini
Indeks

Kabinet Prabowo: Dari Ekspektasi Emas ke Realita Gerbong Tidur?

Kabinet Prabowo: Dari Ekspektasi Emas ke Realita Gerbong Tidur?
Foto Republika.online

Kabinet baru Prabowo akhirnya resmi dilantik. Nama-namanya sudah diumumkan, lengkap dengan menteri dan wakil menteri yang sebagian terasa déjà vu—kayak playlist Spotify yang isinya lagu-lagu lama tapi diganti cover baru.

Ada wajah lama yang naik pangkat, ada juga wajah baru yang masuk entah karena prestasi, loyalitas, atau sekadar “jatah politik.”

Buat rakyat, momen ini mirip pengumuman lineup konser besar: semua penasaran siapa headliner-nya. Tapi begitu nama-nama keluar, banyak yang merasa, “Oh, ini lagi. Yaudah deh, nonton karena nggak ada pilihan lain.”

Kabinet Expendables Penuh Otot Politik

Bayangkan kalau ini film. Kabinet Prabowo bisa disebut The Expendables versi politik. Isinya jagoan-jagoan partai, konglomerat yang nyambi negarawan, dan loyalis yang siap jadi bodyguard kebijakan. Bedanya, kalau Expendables pakai senjata, kabinet ini pakai kursi dan stempel.

Erick Thohir misalnya, mendadak dipindahkan jadi Menpora. Dari Menteri BUMN ke olahraga, itu kayak Cristiano Ronaldo tiba-tiba main futsal RT—skill ada, tapi penonton bingung: ini strategi atau sekadar ngisi slot kosong?

Baca Juga:  Reshuffle Ketiga, Prabowo Lantik Sejumlah Menteri dan Wamen Baru

Wajah Lama, Masalah Baru?

Banyak yang bilang kabinet ini penuh “wajah lama.” Dan wajah lama biasanya bawa masalah lama. Kalau ganti-ganti jabatan tapi pola pikir tetap copy-paste, jangan kaget kalau kebijakan yang muncul juga terasa kayak tugas kuliah hasil Ctrl+C Ctrl+V.

Di sisi lain, politik akomodasi memang tidak bisa dihindari. Semua partai besar kebagian jatah. Hasilnya? DPR bisa jadi super adem. Nggak ada oposisi, nggak ada debat panas, paling banter debat pilihan menu katering rapat.

Rakyat Jadi Penonton Setia

Masalahnya, rakyat cuma bisa nonton. Kalau tiket bioskop aja sekarang makin mahal, jangan sampai tiket hidup sehari-hari juga ikut naik. Bayangkan subsidi dicabut, harga BBM naik, sementara kabinet masih sibuk bagi-bagi kursi.

Pertanyaannya sederhana: kabinet ini bakal jadi lokomotif yang ngebut ke Indonesia Emas 2045, atau malah jadi gerbong tidur yang adem tapi nggak jalan?

Catatan Kecil untuk Kabinet Besar

Indonesia butuh kabinet yang lebih dari sekadar komposisi politik. Butuh kabinet yang ngerti: rakyat bukan statistik, tapi manusia dengan nasi, bensin, dan kuota internet. Kalau semua hanya jadi panggung kekuasaan, rakyat bisa-bisa jadi penonton setia tanpa pernah dapat popcorn.

Daras.id percaya: kabinet ini masih punya peluang buat jadi legenda, tapi syaratnya satu—berhenti jadi “Expendables politik,” dan mulai jadi “Avengers rakyat.”

Wallahu’alam

(Daras.id, Newsroom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *