
Oleh Nurdin Qusyaeri
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn……
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Menyatukan, yang pada hari penuh berkah ini mempertemukan dua keluarga, dua niat baik, dan dua hati dalam satu ikatan suci bernama pernikahan.
Yang kami hormati keluarga besar pengantin laki-laki, para sesepuh, alim ulama, serta hadirin yang dimuliakan Allah.
Pada kesempatan yang sarat makna ini, kami berdiri di sini, mewakili keluarga besar bapak …………………, bukan sekedar untuk menerima seserahan, tetapi untuk menerima amanah kehidupan.
Amanah yang lahir dari niat suci, cita-cita mulia dan kesungguhan, dibingkai oleh adat, dan disucikan oleh syariat.
Setelah kami mendengarkan dengan saksama penyampaian penyerahan dari keluarga besar mempelai lelaki, dengan tutur yang jernih, susunan kalimat yang rapi dan niat tujuan yang tulus, terus terang hati kami bergetar:
Mulut ini terasa kelu untuk mengucapkan kata, tangan ini terasa berat untuk menuliskan isi hati.
Bahasa seakan tak lagi mampu merangkai rasa, tinta pun seolah tak sanggup menuliskan luapan kebahagiaan yang memenuhi relung hati.
Kami hanya mampu mengucap satu kata yang lahir dari kedalaman jiwa:
Alhamdulillahi rabbal Aalamiin.
Hari ini, Sabtu 27 Desember 2025 adalah hari yang telah lama ditunggu, bukan hanya oleh waktu, tetapi oleh doa yang diam-diam dipanjatkan di sepertiga malam.
Kini saat itu telah tiba.
Bahagia pun hadir, bukan sebagai gemuruh pesta, melainkan sebagai ketenangan yang pelan-pelan menyentuh relung jiwa.
Dengan disaksikan oleh keluarga besar dari kedua belah pihak, para saksi, wali, serta aparatur negara yang bertugas dai Kementrian Agama, maka dengan penuh keikhlasan kami menerima ananda: ….,…………, untuk dipersandingkan dan dinikahkan dengan putri kami tercinta: ……………….
Insya Allah, pernikahan ini tidak akan ditangguhkan, akan dilaksanakan pada hari ini juga, karena seluruh rukun, syarat agama, serta ketentuan adat telah terpenuhi dengan sempurna.
Adapun seluruh rangkaian seserahan yang diusung, dijinjing, dijunjung, dan ditanggung, kami pahami bukan semata sebagai benda, melainkan sebagai bahasa diam seorang lelaki yang menyatakan kesiapan dan kesanggupan.
Kesiapan untuk menafkahi, menjaga, dan memimpin mahligai rumah tangga dengan tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.
Semoga semua itu dicatat sebagai amal saleh, sebagai tanda cinta yang beradab, dan sebagai niat baik yang kelak akan dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Tiada ungkapan yang lebih pantas selain jazakumullāh khairan katsīran, atas ketulusan, kesungguhan, dan kehormatan yang telah diberikan.
Ya Allah Yang Maha Pengasih, jadikanlah: ……………. dan …………. pasangan suami istri yang menenteramkan hati dan menyejukkan jiwa.
Mampukan mereka mengarungi samudra rumah tangga dengan iman sebagai kompas dan sabar sebagai layar.
Ya Allah Yang Maha Penyayang,
karuniakanlah kepada mereka keturunan yang saleh dan salehah, generasi yang dekat dengan ibadah dan lembut dalam akhlak.
Limpahkan kepada kami semua rezeki yang halal, agar hidup ini menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar perjalanan duniawi.
Ya Allah,
setiap getar hati yang hari ini terucap melalui lisan penuh rasa, kami yakini Engkau dengar.
Sebab Engkau tidak pernah ingkar janji, dan tidak pernah mengecewakan hamba yang berserah diri kepada-Mu.
Subhānaka Allāhumma wa bihamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaika.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





