Website Berita dan Opini
Indeks

Tidakkah Letih Kakimu Berlari? Istirahatlah dalam Dekapan Sang Maha Kasih

Foto: Okezone lifestyle. Seorang wanita yang sedang dirundung permasalahan.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Di tengah gemuruh kehidupan, di mana langit dan bumi seakan bertaut dalam pusaran waktu, ada seorang lelaki yang hatinya remuk redam oleh beban kesedihan. Langkahnya gontai, matanya sayu, dan jiwanya terasa seperti terpenjara dalam sangkar duka.

Dia datang menghadap Sayidina Ali bin Abi Thalib, sang Amirul Mukminin, dengan harapan menemukan secercah cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

“Wahai Amirul Mukminin,” ujarnya dengan suara lirih, “aku datang kepadamu karena aku sudah tidak mampu lagi menahan beban kesedihanku. Duniaku terasa sempit, dan hidupku bagai terombang-ambing di lautan yang tak bertepi.”

Sayidina Ali, dengan wajah yang tenang dan penuh kebijaksanaan, memandang lelaki itu dengan tatapan yang menembus relung jiwa. “Kemarilah,” katanya dengan suara yang lembut namun penuh makna, seperti lirik lagu Ghea Indrawari yang berjudul “Jiwa Yang Bersedih”:

“Singgah dulu sebentar. Perjalananmu jauh, tak ada tempat berteduh.”

Lelaki itu terdiam, air matanya mulai mengalir, seolah-olah kata-kata itu menyentuh hatinya yang paling dalam. Sayidina Ali melanjutkan, “Menangislah, kan kau juga manusia. Mana ada yang bisa berlarut-larut berpura-pura sempurna?”

Lelaki itu pun mulai bercerita, mengungkapkan segala beban yang selama ini dipendamnya. Sayidina Ali mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu berkata, “Aku akan bertanya dua pertanyaan padamu. Jawablah dengan jujur.”

Lelaki itu mengangguk, “Ya, tanyakanlah.”

“Apakah engkau datang ke dunia ini bersama dengan masalah-masalah yang kini kau tangisi?” tanya Sayidina Ali.

Lelaki itu terdiam sejenak, lalu menjawab, “Tentu tidak.”

“Lalu,” lanjut Sayidina Ali, “apakah kau akan meninggalkan dunia ini dengan membawa masalah-masalah itu?”

“Tidak juga,” jawab lelaki itu dengan suara yang semakin lirih.

Sayidina Ali tersenyum, senyum yang penuh ketenangan dan kebijaksanaan. “Lalu mengapa kau harus bersedih atas apa yang tidak kau bawa saat datang, dan tidak akan mengikutimu saat kau pergi?” ujarnya dengan lembut.

Baca Juga:  Tentang Mencintai dan Dicintai: Sebuah Renungan Jiwa yang Abadi

“Seharusnya hal ini tidak membuatmu bersedih seperti ini. Bersabarlah atas urusan dunia. Jadikanlah pandanganmu ke langit lebih panjang dari pandanganmu ke bumi. Di sana, di balik awan yang kelam, ada cahaya yang menantimu. Kau akan menemukan apa yang kau cari, asalkan kau tetap teguh dan yakin.”

Lelaki itu terdiam, seolah-olah kata-kata itu menyentuh hatinya yang paling dalam. Sayidina Ali melanjutkan, “Tersenyumlah, karena rezekimu telah dibagi dan disusun oleh Allah. Urusan hidupmu telah diatur oleh Yang Maha Pencipta. Dunia ini hanyalah panggung sandiwara, dan kita hanyalah pelakon yang memainkan peran kita. Urusan dunia tidak layak untuk membuatmu bersedih semacam ini, karena semuanya ada di tangan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.”

Sayidina Ali kemudian mengajak lelaki itu untuk merenungkan hakikat kehidupan seorang mukmin. “Seorang mukmin,” katanya, “hidup dalam dua keadaan: kesulitan dan kemudahan. Keduanya adalah nikmat jika ia sadari. Di balik kemudahan, ada rasa syukur yang harus kita panjatkan. Allah berfirman, ‘Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.’ (QS. Ali Imran: 144).

Sementara di balik kesulitan, ada kesabaran yang akan mengantarkan kita pada pahala yang tak terhingga. Allah berfirman, ‘Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.’ (QS. Az-Zumar: 10).”

“Bagi seorang mukmin,” lanjut Sayidina Ali, “kesulitan dan kemudahan adalah ladang untuk menabung pahala dan hadiah dari Allah SWT. Lalu, mengapa masih bersedih? Jangan selalu mengeluh, ‘Oh, masalahku begitu besar.’ Tapi katakan pada masalah itu, ‘Sungguh, aku punya Allah yang Maha Besar.’”

Kata-kata itu seperti air jernih yang mengalir ke dalam hati lelaki itu, membersihkan keruhnya kesedihan dan mengisi kekosongan jiwanya dengan ketenangan. Dia pun tersadar bahwa semua urusan dunia ini hanya kecil. Kitalah yang seringkali membesarkannya, menjadikannya seperti gunung yang menghalangi pandangan kita terhadap langit yang luas.

Baca Juga:  Manusia Itu Tempatnya Berubah

“Semoga ini menjadi pedoman bagi kita semua,” ujar Sayidina Ali dengan penuh ketulusan. “Dalam menghadapi cabaran hidup di dunia ini, ingatlah bahwa hanya kepada Allah sajalah kita menyerahkan urusan hidup ini. Dan hanya kepada Allah sajalah tempat kita bergantung harap dan memohon pertolongan.”

Lelaki itu pun bangkit dari duduknya, hatinya terasa lebih ringan, dan senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. Dia pun pergi dengan langkah yang lebih mantap, membawa pesan kebijaksanaan yang akan selalu menjadi penuntunnya dalam menghadapi liku-liku kehidupan.

Dan di balik semua itu, ada satu kebenaran yang tak terbantahkan: Semua urusan dunia ini hanyalah kecil. Yang besar hanyalah kepercayaan kita kepada Allah, Yang Maha Besar.

Seperti lirik lagu Ghea Indrawari yang mengalun lembut:

“Sampaikan pada jiwa yang bersedih, begitu dingin dunia yang kau huni. Jika tak ada tempatmu kembali, bawa lukamu biar aku obati.”

Lelaki itu pun berbisik dalam hatinya, “Tidakkah letih kakimu berlari? Ada hal yang tak mereka mengerti. Beri waktu tuk bersandar sebentar. Selama ini kau hebat, hanya kau tak didengar.”

Tapi kini, dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Ada Allah yang selalu mendengar, ada Sayidina Ali yang memberinya nasihat, dan ada hati yang mulai pulih dari luka.

Di ujung perjalanan, ketika kesedihan telah berlalu, dan jiwa yang bersedih telah menemukan ketenangan, kita akan menyadari bahwa dunia ini hanyalah sementara. Yang abadi hanyalah kepercayaan kita kepada Allah, Yang Maha Besar.

“Selama ini kau hebat, kau pasti kan didengar.”

Dan dengan keyakinan itu, jiwa yang bersedih pun menemukan kedamaian.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *