
Oleh Nurdin Qusyaeri
Muqaddimah: Ironi Perut yang Tak Pernah Kenyang
Hari ketiga. Lidah mulai beradaptasi. Perut mulai pasrah. Tapi mata—oh, mata ini tetap saja jelalatan melihat iklan-iklan makanan yang bertebaran di mana-mana. Dari baliho raksasa di persimpangan jalan, hingga video pendek di media sosial yang dengan sadis menampilkan daging sapi berlemak yang meleleh di atas teflon.
Kita hidup di zaman di mana makanan tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi tontonan. Food vlogger meraup jutaan subscriber hanya dengan menunjukkan cara mereka mengunyah. Restoran berlomba-lomba menciptakan menu “instagramable” yang lebih cantik dipotret daripada enak dimakan.
Manusia modern tidak lagi makan karena lapar, tetapi karena lapar mata, karena FOMO (fear of missing out), karena tekanan sosial untuk mencoba apa yang sedang viral.
Di tengah hiruk-pikuk peradaban konsumerisme yang memuja perut ini, tiba-tiba datang perintah: “Berhentilah makan! Berhentilah minum! Dari fajar hingga maghrib, selama sebulan penuh!”
Perintah ini terasa absurd. Tidak masuk akal. Bahkan cenderung “melawan arus” peradaban. Tapi justru di situlah letak keagungannya. Puasa, pada hakikatnya, adalah protes Ilahi atas peradaban yang menjadikan konsumsi sebagai tujuan hidup.
Ia adalah deklarasi perang terhadap kapitalisme yang telah mengubah manusia menjadi mesin pencerna tanpa henti.
Maka, mari kita renungkan bersama: apa yang sebenarnya Tuhan protes?
Landasan Dalil: Kritik Langit atas Bumi yang Rakus
- Larangan Berlebihan dalam Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 31:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini turun dalam konteks yang sangat menarik. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa orang-orang Arab Jahiliyah dulu melakukan tawaf dengan telanjang—sebuah bentuk “kesederhanaan” yang ekstrem.
Mereka juga makan dengan cara yang aneh: ada yang hanya makan makanan tertentu saat ihram, ada yang mengharamkan lemak bagi dirinya. Lalu Allah menurunkan ayat ini untuk meluruskan: kalian boleh makan, boleh minum, boleh berhias, tapi jangan berlebihan.
Menariknya, kata israf (berlebihan) dalam ayat ini tidak hanya merujuk pada kuantitas, tetapi juga kualitas.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud berlebihan adalah melampaui batas dalam halal, apalagi sampai ke haram. Termasuk di dalamnya adalah makan sampai kekenyangan yang membuat malas beribadah, atau membeli makanan mewah yang sebenarnya tidak mampu.
- Hadis tentang Cukup Beberapa Suap
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus (makan lebih banyak), maka hendaknya ia membagi perutnya menjadi tiga: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (nafas).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad; dishahihkan Al-Albani)
Hadis ini sangat terkenal, tetapi sering hanya dibaca secara harfiah: jangan kebanyakan makan. Padahal, ada pesan peradaban yang sangat dalam di sana. Rasulullah tidak sekadar mengajarkan pola makan sehat, tetapi sedang membangun etika baru:
bahwa manusia bukan budak perutnya. Bahwa tujuan hidup bukanlah memuaskan nafsu makan.
Bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar mengisi lambung.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengomentari hadis ini dengan sangat tajam. Beliau berkata:
“Perut adalah sumber segala kerusakan. Dari perut yang kenyang lahir syahwat, dari syahwat lahir maksiat, dari maksiat lahir api neraka.” Maka, mengendalikan perut adalah fondasi dari segala kebaikan.
Membongkar Ideologi Konsumerisme
- Manusia Modern: Antara Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu prestasi terbesar kapitalisme adalah mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Iklan tidak pernah menjual “kebutuhan”, ia menjual “keinginan”.
Anda tidak butuh mobil mewah, tapi iklan membuat Anda menginginkannya. Anda tidak butuh smartphone terbaru, tapi iklan membuat Anda merasa butuh.
Anda tidak butuh makanan kekinian yang harganya selangit, tapi media sosial membuat Anda iri jika tidak mencobanya.
Akibatnya, manusia modern hidup dalam lingkaran setan: bekerja keras untuk mendapatkan uang, menghabiskan uang untuk memuaskan keinginan yang dikonstruksi industri, lalu bekerja lebih keras lagi karena hutang menumpuk. Mereka tidak pernah merasa cukup. Mereka terus berlari, tetapi tidak pernah sampai.
Puasa memotong lingkaran setan ini. Dengan tegas ia berkata: berhenti! Cukup! Kamu tidak perlu makan seharian, dan lihatlah, kamu tetap hidup. Kamu tidak perlu ngemil, tidak perlu jajan, tidak perlu kopi sore, dan dunia tidak runtuh. Ternyata, banyak hal yang selama ini kamu anggap kebutuhan, sebenarnya hanyalah keinginan yang dipaksakan.
- Makanan sebagai Komoditas, Bukan Berkah
Dalam sistem kapitalisme, makanan telah kehilangan kesakralannya. Ia tidak lagi dipandang sebagai berkah dari Tuhan yang patut disyukuri, tetapi sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Petani tidak lagi menanam untuk memberi makan sesama, tetapi untuk meraih keuntungan. Makanan sengaja diproduksi secara berlebihan, lalu dibuang ketika harga turun, sementara di tempat lain orang mati kelaparan.
Puasa mengembalikan kesakralan makanan. Setelah seharian menahan lapar, seteguk air terasa lebih nikmat dari segelas sirup mewah. Sepotong kurma terasa lebih manis dari kue tart berlapis cokelat.
Kita belajar bahwa makanan bukan sekadar kalori dan nutrisi, tetapi anugerah yang harus dihargai. Kita belajar bahwa nikmat bukan terletak pada mahalnya harga, tetapi pada seberapa besar kita merindukannya.
Kritik Atas Gaya Hidup Hedonis
- Perut yang Tak Pernah Kenyang
Salah satu ciri masyarakat konsumeris adalah ketidakmampuan untuk berhenti. Mereka makan bukan karena lapar, tapi karena jam menunjukkan waktu makan. Mereka ngemil bukan karena butuh, tapi karena bosan. Mereka buka kulkas bukan karena mencari sesuatu, tapi karena kebiasaan.
Akibatnya, obesitas menjadi epidemi global. Penyakit degeneratif merajalela. Kesehatan mental terganggu karena ketidakmampuan mengendalikan impuls. Manusia menjadi budak nafsu yang tidak pernah puas.
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, pasti ia akan menginginkan lembah ketiga. Tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Semakin banyak harta, semakin ingin menambah. Semakin kenyang, semakin ingin makan. Hanya kematian yang menghentikan keserakahan ini.
Puasa adalah simulasi kematian. Dengan berhenti makan dan minum, kita “meninggal” sejenak dari kehidupan dunia. Kita merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa. Dan dari pengalaman ini, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kepemilikan, tetapi pada penerimaan.
- Budaya Instan dan Hilangnya Kesabaran
Kapitalisme juga menciptakan budaya instan. Semua harus cepat, semua harus sekarang. Makanan cepat saji, belanja online, streaming film—semua dengan satu klik. Akibatnya, manusia modern kehilangan kesabaran. Mereka tidak tahan antre, tidak tahan menunggu, tidak tahan proses.
Puasa melatih kesabaran dengan cara yang sangat mendasar. Kita menahan lapar dari terbit fajar hingga maghrib—bukan 10 menit, bukan 1 jam, tetapi 13-14 jam.
Kita belajar bahwa ada hal-hal baik yang harus ditunggu.
Kita belajar bahwa kepuasan yang ditunda sering kali lebih bermakna daripada kepuasan instan.
Para psikolog menyebut ini delay gratification—kemampuan menunda kepuasan. Dan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ini berkorelasi positif dengan kesuksesan hidup. Orang yang bisa menunda kepuasan cenderung lebih sehat, lebih kaya, dan lebih bahagia.
Membaca Kembali Hadis “Puasa untuk-Ku”
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama memberikan banyak penjelasan tentang hadis ini. Imam Nawawi mengatakan bahwa puasa istimewa karena ia adalah amalan tersembunyi, tidak terlihat orang. Tapi ada tafsir lain yang lebih filosofis.
Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, ulama kontemporer dari Mesir, memiliki penjelasan yang menarik. Beliau berkata:
“Allah mengklaim puasa sebagai milik-Nya karena dalam puasa, manusia berhenti menggunakan nikmat Allah. Ketika kita makan, kita menggunakan rezeki Allah. Ketika kita minum, kita menggunakan nikmat Allah. Tapi ketika kita puasa, kita tidak menggunakan nikmat-nikmat itu. Dan karena kita berhenti menggunakan nikmat-Nya, Allah langsung membalasnya tanpa perantara.”
Penjelasan ini sangat dalam. Puasa adalah satu-satunya ibadah di mana kita “menolak” menggunakan fasilitas Tuhan. Kita tidak makan makanan-Nya, tidak minum air-Nya, tidak menggunakan energi yang Ia berikan untuk hal-hal yang sia-sia.
Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi: ketika hamba berkata, “Ya Allah, untuk-Mu, hari ini aku tidak akan menyentuh apa pun yang Engkau ciptakan.”
Dalam konteks kritik atas konsumerisme, hadis ini mengajarkan bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh apa yang kita konsumsi. Kita bukanlah “apa yang kita makan”, seperti kata pepatah. Kita adalah hamba Allah yang mampu menahan diri dari konsumsi demi meraih ridha-Nya.
Puasa dan Ekonomi: Menolak Logika Konsumtif
Menabung di Bulan Puasa
Salah satu ironi Ramadhan di Indonesia adalah justru meningkatnya konsumsi. Menjelang buka, orang berbondong-bondong membeli takjil. Menjelang Lebaran, orang berburu baju baru dan kue kering. Pusat perbelanjaan penuh sesak. Pengeluaran membengkak.
Padahal, secara spiritual, Ramadhan seharusnya menjadi bulan pengendalian konsumsi. Jika kita benar-benar menghayati puasa, seharusnya kita lebih sedikit mengeluarkan uang untuk makan, bukan lebih banyak.
Makan sahur sederhana, berbuka dengan kurma dan air, lalu shalat Maghrib—itulah sunnah. Bukan berbuka dengan prasmanan lengkap, lalu dilanjutkan dengan takjil berlapis (Kolak, Gehu, Bala-bala, Seblak, Cireng, dll) lalu makan malam lagi, lalu ngabuburit dengan jajanan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pernah mengingatkan bahwa puasa seharusnya melatih kita hidup hemat dan efisien. “Puasa melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup hemat. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi.”
Sayangnya, kekuatan kapitalisme telah “mengkooptasi” Ramadhan. Bulan suci diubah menjadi bulan belanja. Ibadah diintegrasikan ke dalam siklus konsumsi. Semangat menahan diri dikalahkan oleh semangat memuaskan diri.
Zakat sebagai Kritik Struktural
Di sinilah pentingnya zakat fitrah di akhir Ramadhan. Zakat adalah pengakuan bahwa harta kita tidak murni milik kita. Ada hak orang miskin di dalamnya. Zakat adalah mekanisme redistribusi kekayaan yang memastikan bahwa semua orang bisa merayakan kemenangan.
Tapi zakat juga kritik struktural. Ia mengingatkan bahwa kemiskinan bukan takdir, melainkan akibat dari sistem ekonomi yang timpang. Jika zakat dikelola dengan baik, ia bisa menjadi instrumen pemberdayaan. Orang miskin tidak hanya diberi ikan, tetapi juga kail. Mereka tidak hanya diberi makanan untuk Lebaran, tetapi juga modal untuk keluar dari kemiskinan.
Sayangnya, zakat sering direduksi menjadi ritual tahunan yang kehilangan daya kritisnya. Ia sekadar membersihkan harta, tanpa membersihkan sistem. Padahal, dalam sejarah Islam awal, zakat adalah instrumen negara untuk menciptakan keadilan sosial.
Puasa sebagai Deklarasi Kemerdekaan
Dalam tradisi tasawuf, puasa dipandang sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati. Merdeka dari belenggu nafsu, merdeka dari tekanan sosial, merdeka dari hiruk-pikuk dunia.
Ibnu Arabi, sufi besar dari Andalusia, menulis dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah bahwa puasa adalah “kematian kecil” yang membuka pintu kehidupan abadi. Ketika kita mati dari nafsu dunia, kita hidup bersama Tuhan. Ketika kita berhenti mengikuti keinginan perut, kita mulai mendengar bisikan hati.
Muhammad Iqbal, penyair-filsuf Pakistan, melihat puasa sebagai latihan untuk membentuk khudi (ego/kepribadian) yang kuat. Dalam syairnya ia berkata:
“Puasa mengajarkan manusia bahwa ia bukan budak alam, Ia mampu mengendalikan alam dengan kehendaknya.”
Maksudnya, dengan berpuasa, manusia membuktikan bahwa ia tidak tunduk pada hukum alam yang mengatakan “jika lapar, harus makan”. Ia mampu melampaui hukum alam karena kekuatan ruh yang diberikan Tuhan. Inilah kemerdekaan sejati: tidak diperbudak oleh kebutuhan biologis.
Di tengah peradaban konsumerisme yang terus menerus membujuk kita untuk “beli”, “coba”, “nikmati”, puasa adalah pernyataan sikap: “Tidak. Saya tidak butuh. Saya bisa hidup tanpa itu.” Ini adalah bentuk perlawanan terhadap mesin kapitalisme yang tak pernah berhenti berproduksi.
Refleksi di Hari Ketiga
Hari ketiga puasa sering kali menjadi titik di mana tubuh mulai “menyerah” pada ritme baru. Rasa lapar tidak lagi terasa sebagai siksaan, tetapi sudah mulai diterima sebagai bagian dari keseharian. Ini pertanda baik: tubuh kita mulai belajar.
Tapi yang lebih penting, hati kita juga mulai belajar. Belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari memuaskan keinginan.
Belajar bahwa menahan diri justru memberi kenikmatan yang lebih dalam.
Belajar bahwa ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang—kepuasan karena berhasil mengendalikan diri, kepuasan karena merasa dekat dengan Tuhan, kepuasan karena bisa merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara yang kekurangan.
Mari renungkan: berapa banyak makanan yang kita makan selama setahun, dan berapa banyak yang benar-benar kita syukuri?
Berapa banyak minuman yang kita teguk, dan berapa banyak yang kita sadari sebagai anugerah?
Berapa banyak energi yang kita habiskan untuk hal-hal duniawi, dan berapa banyak yang kita alokasikan untuk mendekatkan diri kepada-Nya?
Puasa mengajak kita merenungkan semua itu. Ia adalah protes Iliah atas kehidupan kita yang terlalu sibuk mengonsumsi dan lupa bersyukur. Ia adalah teguran lembut: “Cukup. Berhentilah sejenak. Ingatlah Aku.”
Pamungkas: Antara Protes dan Cinta
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar protes. Ia juga cinta. Allah tidak sekadar marah melihat hamba-Nya tenggelam dalam konsumerisme, lalu melarang mereka makan. Ia adalah kekasih yang merindukan kekasihnya, lalu menciptakan “ruang privat” di mana mereka bisa berdua, tanpa gangguan dunia.
Dalam sebuah hadis qudsi lain, Allah berfirman:
الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Subhanallah. Bau mulut—yang biasanya menjijikkan—justru menjadi harum di sisi Allah. Mengapa? Karena ia adalah “bukti cinta”. Ia adalah tanda bahwa seseorang rela menahan lapar demi Sang Kekasih. Ia adalah aroma pengorbanan yang paling wangi.
Maka, di hari ketiga ini, jangan hanya merasa lapar. Rasakan juga cinta. Lapar ini bukan hukuman, tetapi undangan. Undangan untuk lebih dekat, lebih intim, lebih tulus dalam berhubungan dengan Tuhan.
Dan ketika nanti maghrib tiba, dan kita berbuka dengan seteguk air, rasakanlah nikmatnya. Karena di situlah Allah berbisik: “Lihat, inilah yang selama ini tidak kau syukuri. Sekarang, setelah merindukannya, baru kau tahu betapa berharganya ia.”
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi:
- Al-Qur’an dan Terjemahannya
- Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi
- Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi
- Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
- Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim
- Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Tafsir Asy-Sya’rawi
- Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah
- Muhammad Iqbal, Asrar-e-Khudi
- Haedar Nashir, Ceramah Ramadhan 1447 H
- Jean Baudrillard, The Consumer Society (untuk perspektif kritis)






