Besar Itu Godaan

Setiap Gerakan Dakwah yang Hidup Pasti Tumbuh, Tapi Pertumbuhan Tanpa Akar adalah Bencana yang Berjalan Pelan

Gerakan Dakwah dan Popularitas
Gambar Ilustrasi (Pinterest)

Oleh Herdiana*

Ada paradoks yang jarang dibicarakan secara terbuka di kalangan aktivis dakwah: semakin besar sebuah gerakan, semakin besar pula godaan untuk menukar prinsip dengan popularitas.

Ini bukan tuduhan. Ini adalah hukum gravitasi sosial yang bekerja diam-diam.

Ketika barisan bertambah, kebutuhan untuk “diterima” ikut bertambah. Ketika jaringan meluas, tekanan untuk “tidak menyinggung siapa-siapa” makin menguat. Dan perlahan, tanpa disadari, sebuah gerakan yang semula berdiri di atas keyakinan mulai berdiri di atas konsensus—sesuatu yang jauh berbeda.

Kuantitas Bukan Validasi

Para ulama terdahulu sudah lama mewanti-wanti soal ini dengan satu kalimat yang ringkas dan keras:

الْحَقُّ لَا يُعْرَفُ بِكَثْرَةِ أَتْبَاعِهِ
Kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut.

Al-Qur’an bahkan lebih tegas:

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Ini bukan ayat yang nyaman didengar di era ketika viralitas dianggap sebagai legitimasi.

Rasulullah ﷺ pun telah memberi gambaran yang mencemaskan: akan datang masa ketika umat Islam berjumlah besar, tetapi diperebutkan musuh seperti hidangan di atas meja. Bukan karena mereka sedikit, melainkan karena mereka seperti buih—banyak, tetapi tanpa bobot. Luas, tetapi tanpa akar.

Baca Juga:  Ketika Bangkai Menjadi Suci: Istihalah dan Dilema Industri Modern

Penyakit Gerakan yang Rakus Pengikut

Sejarah gerakan Islam di Indonesia menyimpan banyak pelajaran tentang hal ini. Organisasi-organisasi yang pernah kuat secara ideologis, perlahan kehilangan ketajamannya ketika terlalu sibuk menghitung kepala ketimbang menjaga nilai.

Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, pernah merumuskan orientasi yang sederhana tetapi dalam:

“Kita tidak mencari banyaknya orang, tetapi benarnya orang.”

Mohammad Natsir menyambungnya:

“Yang penting bukan banyaknya pengikut, tetapi kuatnya dasar dan lurusnya tujuan.”

Dua kalimat itu bukan nostalgia. Justru sebaliknya, itu adalah diagnosis yang semakin relevan hari ini, ketika ukuran keberhasilan dakwah sering digeser ke metrik yang lebih mudah difoto: jumlah peserta, viral tidaknya konten, dan ramainya kolom komentar.

Menjadi Besar Tanpa Tercabut

Persoalannya bukan apakah sebuah gerakan boleh bertumbuh. Tentu saja boleh, bahkan harus. Pertumbuhan adalah tanda bahwa dakwah masih memiliki denyut di tengah masyarakat.

Namun persoalannya adalah: tumbuh seperti apa?

Pohon yang tumbuh cepat tetapi berakar dangkal adalah pohon yang paling mudah tumbang saat badai datang. Sebaliknya, pohon yang tumbuh pelan tetapi akarnya menghunjam dalam, ialah yang mampu bertahan.

Gerakan dakwah yang sehat harus mampu membedakan dua jenis pertambahan: pertambahan yang memperkuat dan pertambahan yang mengencerkan. Yang pertama membawa energi baru tanpa mengubah arah. Yang kedua membawa keramaian yang justru menghilangkan identitas.

Karena itu, setiap penambahan anggota harus diiringi pembinaan yang serius. Setiap perluasan jaringan harus dibarengi penguatan nilai. Dan setiap keberhasilan kuantitatif harus diuji dengan satu pertanyaan jujur: apakah manhaj kita masih utuh, atau sudah mulai berkompromi demi menjaga agar semua orang merasa nyaman?

“Sedikit” sebagai Karakter, Bukan Angka

Allah menyebut:

“Dan sedikit sekali mereka itu.” (QS. Shad: 24)

Ini bukan kutukan, melainkan penanda kualitas. Mereka yang “sedikit” dalam pengertian Al-Qur’an adalah mereka yang tetap lurus ketika mayoritas memilih jalan yang lebih mudah.

Menjadi bagian dari “yang sedikit” bukan berarti menutup diri dari pertumbuhan. Namun, itu berarti menolak menukar kemurnian dengan penerimaan massal. Menolak menjadikan popularitas sebagai kiblat. Dan berani mempertahankan kebenaran meski tidak selalu menyenangkan telinga.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah jama’ah tidak pernah benar-benar diukur dari berapa banyak yang hadir di forum besarnya, tetapi dari seberapa dalam nilai itu hidup dan mengikat setiap orang yang ada di dalamnya.

Besar boleh. Tapi jangan sampai besar itu justru yang mengubur kita.

Penulis: Sekjen Ikatan Alumni IAI PERSIS Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *