
Oleh Nurdin Qusyaeri
Pukul 04.00 dini hari. Di jutaan rumah di Indonesia, pemandangan yang sama terulang: para ibu membangunkan anak-anaknya untuk sahur. Dengan setengah sadar, bocah-bocah itu berguling, meregangkan tubuh mungilnya, lalu menuju meja makan dengan mata masih separuh terpejam.
Ada yang langsung lahap menyantap nasi, ada yang cuma nyeruput air putih lalu tidur lagi, ada yang merengek, “Bu, ngantuk. Nggak mau sahur.” Dan ada juga yang sudah antusias, “Bu, hari ini aku puasa full, lho!”
Di rumah-rumah itu, pertanyaan besar mengendap di benak para orang tua: sampai kapan anak ini harus “dipaksa” puasa? Kapan ia akan puasa dengan kesadaran sendiri? Apakah “paksaan” ini akan membentuk kedewasaan beragama, atau justru membuatnya trauma?
Pertanyaan ini bukan main-main. Ia menyangkut masa depan generasi, masa depan iman, masa depan cara kita beragama. Dan di bulan Ramadhan, ia menjadi pertanyaan harian yang tak pernah cukup dijawab.
Para ulama besar telah lama merenungkan masalah ini. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa anak itu amanah bagi orang tuanya. Hatinya yang masih bersih adalah permata mahal, masih polos, belum terukir, dan siap menerima apa pun yang diukirkan padanya.
Jika ia dibiasakan pada kebaikan dan diajari kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika ia dibiasakan pada keburukan dan dibiarkan seperti binatang, ia akan celaka dan orang tuanya ikut menanggung dosa.
Al-Ghazali menyebut konsep ini ta’wid, pembiasaan. Anak-anak tidak akan langsung paham mengapa mereka harus shalat atau puasa. Tapi dengan pembiasaan, mereka akan terbiasa. Dan dari kebiasaan, lambat laun akan tumbuh kesadaran. Beliau memberi contoh sederhana: jika anak dibiasakan makan makanan bergizi, ia akan tumbuh sehat dan kuat.
Jika dibiasakan makan sembarangan, ia akan tumbuh lemah. Begitu pula jiwa. Jika dibiasakan dengan ibadah, ia akan tumbuh saleh. Jika dibiasakan dengan maksiat, ia akan tumbuh jahat.
Rasulullah SAW sendiri telah memberi panduan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim, beliau bersabda:
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkan) ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” Hadis ini sering menjadi rujukan utama tentang pendidikan ibadah pada anak. Meskipun secara spesifik berbicara tentang shalat, para ulama mengqiyaskan puasa dengan shalat dalam hal ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah di sini adalah perintah ta’dib (pendidikan), bukan perintah taklif (pembebanan hukum). Artinya, anak-anak tidak diwajibkan secara syar’i, tapi mereka dilatih agar terbiasa.
Para sahabat pun melakukan hal yang sama. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz berkata bahwa setelah Rasulullah memerintahkan puasa Asyura, mereka biasa berpuasa dan menyuruh anak-anak kecil mereka berpuasa.
Mereka membuatkan mainan dari bulu untuk anak-anak itu, sehingga jika mereka menangis minta makan, mereka berikan mainan itu hingga waktu berbuka tiba.
Subhanallah, lihatlah kelembutan para sahabat. Mereka tidak memaksa anak-anak dengan kekerasan. Mereka mengalihkan perhatian dengan mainan. Mereka menjadikan puasa sebagai permainan yang menyenangkan, bukan siksaan yang menakutkan.
Ini sejalan dengan apa yang diajarkan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud. Beliau menekankan pentingnya tadarruj, bertahap. Anak tidak bisa langsung dibebani dengan semua kewajiban. Ia harus diperkenalkan secara perlahan, sesuai usianya.
Tentang puasa, Ibnul Qayyim berkata bahwa anak-anak kecil hendaknya diperintahkan berpuasa jika mereka mampu, agar mereka terbiasa. Tapi jika mereka menangis karena lapar, boleh diberi mainan yang bisa mengalihkan perhatian mereka.
Inilah yang dilakukan para sahabat. Namun Ibnul Qayyim juga mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan sesuatu di luar kemampuan anak. Memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan sama saja dengan menyiksa. Dan menyiksa anak adalah dosa.
Imam At-Tirmidzi, selain meriwayatkan hadis tentang perintah shalat, juga meriwayatkan hadis yang sangat penting tentang kasih sayang pada anak. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang tua kami.”
Hadis ini menjadi pengingat bahwa pendidikan ibadah harus dilandasi kasih sayang. Kata “pukullah” dalam hadis sebelumnya harus dipahami dengan sangat hati-hati. Bukan pukulan keras yang menyakitkan, tapi pukulan ringan yang mendidik—sekalipun ini tetap kontroversial di era modern. Yang jelas, kasih sayang jauh lebih utama.
Tapi ada satu lagi perspektif yang indah, datang dari penyair sufi agung Jalaluddin Rumi. Dalam Matsnawi -nya, ia lebih menekankan cinta daripada paksaan.
Rumi berkata, “Ajari anak-anakmu dengan cinta, bukan dengan kemarahan. Karena cinta akan membuka pintu hati yang terkunci. Kemarahan hanya akan menutup pintu itu rapat-rapat. Anak yang dididik dengan cinta akan tumbuh dengan cinta. Anak yang dididik dengan paksaan akan tumbuh dengan kebencian. Dan kebencian pada orang tua bisa menjadi kebencian pada Tuhan.”
Rumi juga menekankan bahwa ibadah harus lahir dari kerinduan, bukan kewajiban semata. “Jika anak-anak melihat kita shalat dengan rasa rindu, mereka akan rindu shalat. Jika mereka melihat kita puasa dengan keluhan, mereka akan mengeluh puasa.”
Beliau memberi nasihat yang sangat dalam: jangan jadikan surga dan neraka sebagai satu-satunya motivasi. Itu penting, tapi tidak cukup. Kenalkan mereka pada Tuhan yang Maha Indah, Maha Cinta, Maha Pengasih. Karena cinta lebih abadi daripada takut.
Di masyarakat kita, puasa anak-anak sering menjadi ajang kebanggaan orang tua. “Anakku sudah puasa full sejak umur 5 tahun!” “Anakku sudah khatam Al-Qur’an di umur 7 tahun!” Prestasi ini sah-sah saja, tapi ada risiko: anak bisa merasa bahwa nilai dirinya ditentukan oleh seberapa “saleh” ia.
Sebaliknya, anak yang belum mampu puasa full bisa merasa rendah diri. “Kok kamu belum bisa puasa full? Anak Bu RT aja udah full, lho!” Tekanan sosial ini bisa membuat anak stres, membenci Ramadhan, bahkan membenci agama.
Imam Al-Ghazali mengingatkan agar kita tidak membandingkan anak dengan anak orang lain. Setiap anak punya kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Tugas orang tua hanya mendidik dengan baik, bukan membandingkan dengan orang lain.
Fenomena baru di era digital adalah orang tua yang memamerkan kesalehan anak di media sosial. Anak sedang shalat difoto, anak sedang mengaji direkam, anak sedang puasa dijadikan konten. Niatnya mungkin baik: berbagi inspirasi.
Tapi dampaknya bisa buruk. Anak bisa merasa bahwa ia “dipaksa saleh” untuk konten. Ia bisa tumbuh dengan pola pikir bahwa ibadah harus dilihat orang, bukan untuk Allah. Ini bibit-bibit riya’ yang ditanam sejak dini.
Rumi mungkin akan berkata, “Ajari anakmu beribadah dalam keheningan. Karena Tuhan lebih suka hamba yang diam-diam beribadah daripada yang sibuk mempertontonkan kesalehan.”
Untungnya, di Indonesia ada fenomena unik: “puasa bedug”. Anak-anak kecil dilatih puasa hanya sampai bedug zuhur atau bedug ashar. Ini adalah bentuk tadarruj yang sangat bijak. Anak tidak langsung dipaksa puasa full, tapi belajar menahan lapar secara bertahap.
Sayangnya, kadang “puasa bedug” ini diejek oleh anak lain atau orang tua lain. “Ah, itu sih belum puasa namanya.” Padahal, bagi anak kecil itu adalah pencapaian besar. Jangan diremehkan.
Para psikolog perkembangan sepakat bahwa anak-anak memiliki kesiapan yang berbeda-beda dalam menahan lapar.
Usia 5-7 tahun biasanya sudah bisa diajak berpuasa secara bertahap, tapi dengan catatan: jangan dipaksa, jangan sampai dehidrasi, jangan sampai kekurangan gizi.
Anak usia 7-10 tahun umumnya sudah bisa berpuasa setengah hari atau bahkan full, tergantung kondisi fisik dan mentalnya. Yang penting, orang tua harus peka: jika anak lemas, pusing, atau rewel berlebihan, sebaiknya dibatalkan saja.
Ibnul Qayyim sudah mengingatkan: jangan paksakan anak melakukan sesuatu di luar kemampuannya.
Dalam psikologi, ada dua jenis motivasi: intrinsik (dari dalam) dan ekstrinsik (dari luar). Anak-anak kecil umumnya termotivasi oleh faktor eksternal:
hadiah, pujian, atau takut dimarahi. Tapi seiring bertambah usia, motivasi intrinsik harus dibangun. Puasa yang dilandasi motivasi ekstrinsik tidak akan bertahan lama.
Tapi puasa yang dilandasi motivasi intrinsik akan lebih bermakna. Tugas orang tua adalah membantu anak menemukan motivasi intrinsik ini. Bukan dengan ceramah panjang, tapi dengan contoh, dengan cerita, dengan pengalaman yang menyentuh hati.
Rumi berkata, “Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Maka jadilah teladan, bukan sekadar pemberi nasihat.”
Maka, bagaimana praktiknya?
Perkenalkan puasa secara bertahap. Mulai dengan puasa bedug, lalu tingkatkan. Ciptakan suasana menyenangkan.
Buat sahur dan berbuka sebagai momen yang dinanti. Sediakan makanan kesukaan anak. Ajak mereka memasak bersama. Ceritakan kisah-kisah seru tentang Ramadhan.
Beri apresiasi, bukan hadiah material berlebihan.
Apresiasi dengan pujian, dengan pelukan, dengan kebanggaan.
Alihkan perhatian saat lapar, seperti yang dilakukan para sahabat.
Jangan paksa jika anak sakit. Beri pemahaman, bukan sekadar perintah.
Jelaskan mengapa kita berpuasa dengan bahasa yang sesuai usianya. Dan yang paling penting, jadilah teladan.
Seorang ayah suatu hari bertanya pada anaknya yang baru pertama kali puasa full.
“Ayah, puasa itu kenapa sih?” “Karena Allah suruh, Nak.”
“Allah suka liat kita lapar?”
“Bukan, Allah mau kita merasakan lapar seperti yang dirasakan orang miskin.”
“Oh… tapi orang miskin lapar setiap hari, Yah. Mereka nggak puasa-puasa juga lapar.” Ayah terdiam.
“Nak, kamu ini bijak atau jail sih?” Anak itu tertawa. “Bercanda, Yah. Aku tahu kok. Puasa itu buat kita jadi lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih peka sama orang lain. Ustadz bilang gitu di TV.”
Ayah menghela napas. “Syukurlah. Tapi lain kali jangan bikin ayah bingung, ya.”
“Tapi, Yah…”
“Apa lagi?” “Kalau puasa bikin kita lebih peka, kenapa abis puasa kita malah beli baju baru, beli kue mahal, pamer-pamer? Itu namanya peka atau pamer?”
Ayah terdiam lagi. Kali ini lebih lama.
“Abu Nawas, lo yang ngajarin anak gue, ya?” Di pojok rumah, Abu Nawas yang lagi nimbrung cuma nyengir.
Abu Nawas, yang terkenal suka bercanda tapi selalu ada pesannya, pernah bercerita tentang pengalaman puasa pertamanya.
“Gue dulu waktu kecil, puasa pertama jam 7 tahun. Full. Bangga banget. Sampe sore, laper, tapi tetep nahan. Pas maghrib tiba, gue takbiran: Allahu Akbar! Akhirnya bisa makan! Tapi pas buka, gue makan cuma 3 sendok. Kenapa? Karena gue ketiduran. Bangun-bangun udah subuh.” Semua tertawa.
Tapi Abu Nawas melanjutkan, “Tapi gue nggak nyesel. Karena puasa pertama itu ngajarin gue: kadang kita semangat, kadang kita gagal. Tapi yang penting, kita terus berusaha.
Itu yang diajarkan Rasulullah: jangan putus asa.” Lalu ia memberi pesan untuk anak-anak sekarang, “Pesan gue: puasa itu berat, tapi seru. Sahur itu bangun pagi, tapi makannya enak. Tarawih itu capek, tapi dapat pahala.
Dan yang paling penting, Ramadhan itu bulan semua orang baik. Termasuk anak-anak. Jadi, jangan sia-siakan. Tapi jangan juga dipaksa sampai stres. Nikmati aja.”
Hari kesepuluh. Separuh perjalanan Ramadhan. Di luar sana, jutaan anak sedang berjuang menahan lapar. Sebagian berhasil, sebagian belum. Sebagian semangat, sebagian merana. Sebagai orang tua, atau calon orang tua, atau sekadar orang dewasa yang peduli pada generasi penerus, mari kita renungkan: apa yang sebenarnya kita tanam dalam diri anak-anak ini?
Jika kita tanam paksaan, kita akan menuai kepatuhan semu.
Jika kita tanam hadiah, kita akan menuai materialisme.
Jika kita tanam pujian, kita akan menuai kecanduan validasi.
Tapi jika kita tanam cinta, kita akan menuai cinta. Cinta pada Tuhan, cinta pada ibadah, cinta pada sesama.
Rumi, dengan puisinya yang abadi, berkata: “Bukan paksaan yang mengubah seorang anak, tapi keteladanan. Bukan hadiah yang membentuk karakternya, tapi kasih sayang. Bukan ancaman yang membuatnya saleh, tapi rasa aman bahwa ia dicintai apa adanya.”
Maka, di hari kesepuluh ini, mari kita kurangi paksaan, perbanyak keteladanan. Kurangi hadiah, perbanyak apresiasi tulus. Kurangi ancaman, perbanyak rasa aman. Karena anak-anak bukan robot yang bisa diprogram.
Mereka adalah benih yang perlu disiram, bukan dengan air deras yang membuatnya hanyut, tapi dengan air lembut yang membuatnya tumbuh. Dan ingat, benih yang baik akan tumbuh menjadi pohon yang baik. Tapi butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh cinta.
Wallahu a’lam bish-shawab.





