Eid sebagai Manifesto: Hidup Baru Pasca-Revolusi Puasa

Eid sebagai Manifesto: Hidup Baru Pasca-Revolusi Puasa
Foto screenshot thread: Suasana jamaah sedang sholat di Mekkah

Oleh Nurdin Qusyaeri

 

Ketika Takbir Menjadi Pernyataan Sikap

Malam itu, langit dipenuhi takbir. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Kalimat agung itu bergema dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung, memenuhi ruang dan waktu.

Inilah puncak dari perjalanan panjang sebulan penuh. Setelah berpuasa, setelah berlatih menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, menahan segala bentuk kemunafikan—kini tiba saatnya merayakan kemenangan.

Tapi kemenangan macam apa yang kita rayakan? Apakah sekadar kemenangan melewati hari-hari tanpa makan dan minum? Atau ada kemenangan yang lebih besar, yang seharusnya mengubah hidup kita selamanya?

Idul Fitri bukan sekadar hari raya. Ia adalah manifesto.

Manifesto adalah pernyataan terbuka tentang tujuan, pandangan, dan niat seseorang atau kelompok. Ia adalah deklarasi yang mengikat. Ia adalah ikrar yang menuntut konsekuensi.

Idul Fitri sebagai manifesto berarti: inilah pernyataan kita setelah sebulan berlatih. Inilah tekad kita setelah sebulan ditempa. Inilah komitmen kita untuk hidup baru pasca-revolusi puasa.

Landasan Teologis: Fitrah sebagai Modal Perubahan

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami apa sebenarnya makna “fitrah” yang menjadi inti dari Idul Fitri.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”

Para ulama menjelaskan bahwa fitrah memiliki tiga makna penting :

  • Agama Islam — setiap manusia dilahirkan dengan potensi untuk menerima tauhid dan kebenaran.
  • Kecenderungan kepada kebenaran — manusia memiliki naluri alami untuk mencari dan mengakui keberadaan Tuhan.
  • Potensi kebaikan — sistem yang Allah anugerahkan kepada manusia untuk berkembang dan mencapai kebenaran.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab menambahkan bahwa kesucian fitrah memiliki tiga dimensi: indah, baik, dan benar. Orang yang kembali ke fitrah akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik—dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta .

Ibnu Sina dalam Al-Isyarat wa Tanbihat melukiskan orang yang telah mencapai kesucian fitrah:

“Orang tersebut menjadi arif, bebas dari ikatan raganya. Ia selalu gembira, banyak senyum. Ia tidak akan mengintip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah, tidak pula tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi rahmat dan kasih sayang.”

Inilah manusia pasca-revolusi puasa: manusia fitrah yang hatinya lapang, jiwanya tenang, dan menjadi sumber kebaikan bagi orang lain.

Manifesto Pertama: Dari Ritus ke Etos

Selama Ramadhan, kita menjalani berbagai ritus: puasa, shalat tarawih, tadarus, zakat, i’tikaf. Semua itu adalah latihan. Tapi latihan tidak boleh berhenti di ruang gym. Ia harus dibawa ke medan pertempuran sesungguhnya: kehidupan sehari-hari.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Asrar al-Shawm membagi puasa dalam tiga tingkatan :

Tingkatan dan Deskripsi

  • Puasa Umum: Menahan perut dan kemaluan dari syahwat
  • Puasa Khusus: Menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dari dosa
  • Puasa Paling: Khusus Puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi

Jika puasa kita berhenti di tingkat pertama, ia hanya mengubah ritme biologis. Kalau berhenti di tingkat kedua, ia hanya membentuk kesantunan. Namun, jika puasa kita menyentuh hati, ia berpotensi membentuk orientasi sejarah.

Maka manifesto pertama kita: aku akan menaikkan status puasaku. Aku tidak akan membiarkan ibadahku berhenti pada ritual formal. Aku akan menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai etos hidup: jujur meski tak ada yang melihat, sabar meski diuji, peduli meski tak ditagih.

Baca Juga:  Musibah dan Keimanan

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa takwa bukanlah gelar yang diraih sekali lalu selesai. Kata tattaqun dalam QS. Al-Baqarah: 183 adalah fi‘il mudlari— kata kerja yang menunjukkan proses berkelanjutan. Ia mensyaratkan aktualitas riil dari perbuatan takwa .

Manifesto Kedua: Dari Personal ke Struktural

Ramadhan melatih kita secara personal: mengendalikan diri, meningkatkan ibadah, memperbanyak sedekah. Tapi pemberontakan sejati tidak boleh berhenti di level personal. Ia harus merambah ke level struktural.

Prof. Dr. Dadan Rusmana, Wakil Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengkritik bahwa ibadah ritual kita selama ini belum banyak berefek pada transformasi sosial . Ia mengajak kita membaca puasa sebagai persoalan sosio-historis, bukan sekadar kewajiban ritual.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan:

“Di antara sebab-sebab ketakwaan adalah ketika orang kaya merasakan pedihnya rasa lapar, hal itu akan mendorongnya untuk ikut merasakan dan menghibur penderitaan kaum fakir. Dan sikap seperti ini termasuk bagian dari sifat ketakwaan.”

 

Kitab Al-Fiqh al-Manhaji juga menegaskan bahwa bulan puasa adalah sarana terbaik untuk menumbuhkan pada diri orang kaya perasaan seperti yang dirasakan orang miskin .

Bila selama Ramadhan kita merasakan lapar, maka setelah Ramadhan kita harus berjuang agar tidak ada lagi yang kelaparan. Jika selama Ramadhan kita merasakan dahaga, maka setelah Ramadhan kita harus berjuang agar semua orang punya akses air bersih.

Manifesto kedua kita: aku tidak akan diam melihat ketidakadilan. Aku akan memperjuangkan perubahan struktural. Kepedulianku tidak akan berhenti pada sedekah kasual, tapi akan mewujud dalam perjuangan untuk keadilan sosial.

Manifesto Ketiga: Dari Konsumsi ke Produksi

Ramadhan sering kali justru menjadi bulan konsumtif. Data menunjukkan peningkatan konsumsi yang signifikan. Padahal, esensi puasa adalah pengendalian konsumsi. Ini paradoks yang harus kita pecahkan.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa puasa yang benar akan menghasilkan takwa. Dan takwa itu bukan hanya rajin shalat dan puasa, tapi juga berani menegakkan kebenaran, berani melawan kezaliman, dan berani berpihak pada yang tertindas .

Pasca-Ramadhan, kita harus mengubah orientasi dari konsumen menjadi produsen. Bukan hanya produsen barang, tapi produsen kebaikan, produsen solusi, produsen perubahan.

Kalau kita memiliki kelebihan harta, jangan hanya dibelanjakan untuk kesenangan diri, tapi diinvestasikan untuk kemaslahatan umat.

Bila kita memiliki kelebihan ilmu, jangan hanya disimpan sendiri, tapi disebarkan untuk mencerdaskan bangsa.

Jika kita memiliki kelebihan pengaruh, jangan hanya digunakan untuk popularitas, tapi diperjuangkan untuk kebenaran.

Manifesto ketiga kita: aku akan menjadi manusia produktif. Aku akan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk umat.

Manifesto Keempat: Dari Kemenangan Sementara ke Perjuangan Berkelanjutan

Idul Fitri sering dirayakan sebagai kemenangan. Tapi kemenangan dalam Islam bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan baru.

Rasulullah SAW setelah Fathu Makkah justru semakin giat berdakwah. Para sahabat setelah Perang Badar justru semakin bersemangat berjihad. Kemenangan tidak membuat mereka berhenti, tapi melipatgandakan energi.

Begitu pula dengan kita. Kemenangan melewati Ramadhan bukanlah garis finis. Ia adalah titik start untuk sebelas bulan berikutnya. Perjuangan sejati baru saja dimulai.

Dadan Rusmana menulis dengan jujur:

“Saya sendiri sering merasa bahwa puasa saya berhenti di tingkat pertama. Kadang naik sedikit ke tingkat kedua. Tetapi tingkat ketiga—membiarkan ego benar-benar lapar—itu medan yang sunyi dan sulit.”

Maka, setelah Ramadhan, kita tidak boleh lengah. Setan yang selama ini dibelenggu akan dilepaskan. Godaan akan kembali datang. Ujian akan kembali menghadang. Tapi kita telah dipersenjatai dengan latihan sebulan penuh. Kita telah dibekali dengan amunisi takwa.

Baca Juga:  Hardiknas 2 Mei: Ketika Kemudahan Membunuh Semangat Belajar, Refleksi Menohok di Era Modern

Manifesto keempat kita: aku tidak akan berhenti berjuang. Ramadhan hanyalah awal. Perjuangan sesungguhnya dimulai sekarang.

Manifesto Kelima: Dari Cinta Diri ke Cinta Sesama

Pada akhirnya, puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya mencintai diri sendiri. Rasa lapar yang kita rasakan adalah pintu untuk memahami penderitaan orang lain. Rasa dahaga yang kita tahan adalah jembatan untuk merasakan kesulitan saudara kita.

Ibnu Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat la‘allakum tattaqun dalam QS. Al-Baqarah: 183 merupakan hikmah disyariatkannya puasa. Di dalamnya termuat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, di antaranya orang kaya dapat ikut merasakan pedihnya yang dirasakan oleh orang-orang miskin .

KH Zae Nandang, Ketua Dewan Hisbah PP. PERSIS, mengingatkan bahwa sebagai manusia biasa, tidak patut mengakui suci di hadapan orang lain. Orang yang merasa dirinya paling suci menandakan kesombongan .

Fitrah adalah ketika kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, ketika kebahagiaan kita tidak sempurna tanpa kebahagiaan mereka, dan Fitrah adalah ketika kita bisa berkata:

“Aku tidak akan tenang selama masih ada yang kelaparan di sekitarku.”

Manifesto kelima kita: aku akan hidup untuk sesama. Kebahagiaanku tidak akan sempurna tanpa kebahagiaan mereka.

Pamungkas: Selamat Berjuang untuk Hidup Baru

Saudaraku, inilah lima manifesto yang harus kita ikrarkan di hari yang fitri ini. Bukan sekadar ucapan, tapi komitmen yang mengikat. Tidak hanya wacana, tapi program kerja. Bukan sebatas mimpi, tapi rencana aksi.

Quraish Shihab mengingatkan pesan ilahi dalam QS. An-Nahl ayat 92:

“Janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, yang mengurai kembali tenunannya, sehelai demi sehelai benang dalam tenunannya.”

Artinya, jangan sampai setelah mencapai fitrah, manusia melepaskan kendali sehingga kembali melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan. Pakaian takwa yang telah kita tenun selama Ramadhan harus kita jaga dan kita pakai sepanjang waktu .

Dadan Rusmana mengakhiri renungannya dengan kalimat yang dalam:

“Mungkin problem kita bukan kekurangan ritual, tetapi kekurangan internalisasi. Ramadan datang setiap tahun. Tetapi transformasi sosial terasa seperti ‘janji yang tertunda.’ Seolah-olah ada jarak antara ibadah dan sejarah—jarak yang tidak pernah kita upayakan untuk didekatkan.”

Di hari yang fitri ini, mari kita naikkan status puasa kita. Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai titik awal, bukan titik akhir. Mari kita buktikan bahwa Ramadhan telah mengubah kita, bukan hanya secara ritual, tetapi secara substansial.

Abu Nawas, dengan senyum khasnya, akan menutup dengan kata-kata bijak:

“Wahai saudaraku, kalian sibuk dengan baju baru, kue lebaran, dan amplop THR. Kalian sibuk dengan mudik dan silaturahim. Itu semua baik. Tapi jangan lupa: esok, setelah semua hidangan habis dan semua tamu pulang, yang tersisa adalah dirimu sendiri dengan Tuhanmu. Pastikan kau membawa bekal yang cukup untuk perjalanan panjang menuju kampung abadi.”

Selamat Idul Fitri. Selamat merayakan kemenangan. Tapi ingat, kemenangan sejati bukanlah saat kita bisa makan lagi, tapi saat kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, lebih berani, dan lebih berarti.

Bila puasa kita berhenti pada tubuh, maka ia hanya mengubah ritme biologis. Jika puasa kita berhenti pada perilaku, maka ia hanya membentuk kesantunan.

Namun, jika puasa kita menyentuh hati, ia berpotensi membentuk orientasi sejarah.

Selamat berjuang, memberontak, serta menjalani hidup baru pasca-revolusi puasa.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *