Tidak Takut Wartawan? Keren!

Ketika lampu Studio redup: Masa Depan Media Televisi di Tengah Gelombang Layoff
Media interview jurnalis

Oleh ASM. Romli

“Saya tidak takut sama wartawan!” ujar seorang pemimpin sebuah lembaga dengan nada tinggi. Ia merespons pernyataan bahwa wartawan bisa menyebarkan hal buruk tentang lembaga yang dipimpinnya.

Dalam konteks “nada rendah”, ucapan tersebut bagus. Orang atau seorang pemimpin yang tidak takut wartawan biasanya bersih, tidak korup, memimpin dengan baik.

Orang yang takut wartawan biasanya orang yang melakukan kesalahan dan takut aibnya dipublikasikan media. Ini sering berbuntut “pemerasan” oleh wartawan bodong.

Namun, karena dengan “nada tinggi”, ucapan “saya tidak takut wartawan” tadi jadi terkesan menantang. Boleh jadi ia merasa tidak punya salah. Bersih. Bisa juga ia merasa bisa mengendalikan wartawan atau media.

Anehnya, ketika terjadi sebuah peristiwa di wilayah lembaganya, ada kerusakan, dan viral di media, orang tadi “sibuk” mencari para pemilik akun medsos, termasuk media, agar menghapus video kejadian yang dianggap merusak citra positif lembaganya.

Lho? Katanya tidak takut wartawan! Itu belum seberapa!

“Tantangan” orang yang mengaku tidak takut wartawan tadi, bisa saja mendorong wartawan untuk melakukan investigasi ke lembaganya, bahkan dirinya, lalu menemukan “bad news” yang bisa jadi “good news” bagi media.

Saya pernah mengisi sebuah acara bertema “Jangan Takut Wartawan”. Pesertanya para kepala desa di sebuah kabupaten. Intinya, saya sampaikan jika pak kades/bu kades tidak melakukan kesalahan, tidak korup, bersih, ya… ngapain takut sama wartawan?

Wartawan itu bertugas nencari dan menyebarkan informasi aktual, faktual, penting, dan menarik bagi pembaca atau bagi publik. Wartawan profesional tidak mungkin tiba-tiba datang jika tidak ada peristiwa bernilai berita.

Wartawan pro biasanya datang ke sebuah Lembaga, atau menemui pimpinan, untuk konfirmasi, klarifikasi, cek dan cek ulang (check and recheck) sebuah peristiwa bernilai berita dan… tidak minta bayaran!

Baca Juga:  15 Skill Strategis Mahasiswa KPI di Era Digital

Menerima suap, apalagi memeras, melanggar kode etik jurnalistik. Wartawan profesional tidak melanggar kode etik jurnalistik.

“Tidak takut wartawan?” Buat pemimpin yang “arogan” di atas tadi, hati-hati, Pak! Wartawan masih menahan diri nih. Banyak lo hal buruk di lembaga yang Anda pimpin! Hihi..! Wasalam.

— Penulis adalah praktisi media dan blogger @ romeltea.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *