
Oleh Nurdin Qusyaeri
Dalam sejarah Mesir kuno, “Fir’aun” bukanlah nama seseorang, melainkan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir.
Salah satu Fir’aun yang paling terkenal adalah penguasa di zaman Nabi Musa, yang menurut beberapa sumber sejarah, dikenal sebagai Walid bin Mus’ab bin Ma’an. Namun, beberapa ahli sejarah mengidentifikasinya sebagai Ramses II (Al-Mubarakfuri, 2003).
Kesombongan Fir’aun dan Pelajaran dari Kisahnya
Fir’aun pada masa Nabi Musa dikenal memiliki usia yang sangat panjang, dikatakan hidup antara 300 hingga 400 tahun tanpa pernah mengalami penyakit atau masalah kesehatan.
Kondisi ini membuat Fir’aun menjadi sombong dan angkuh, hingga berani mengklaim dirinya sebagai Tuhan (As-Suyuti, 1990). Kesombongan ini, sebagaimana diabadikan dalam sejarah, membawa Fir’aun kepada kehancuran, karena ia menolak kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa ketika seseorang selalu sehat dan tidak pernah menghadapi masalah, ada potensi untuk menjadi sombong.
Masalah dan penyakit adalah bentuk ujian dari Allah SWT, yang membantu manusia untuk selalu rendah hati dan menyadari kelemahannya sebagai makhluk ciptaan (Ibn Kathir, 2003).
Oleh karena itu, setiap kali kita menghadapi kesulitan, penting bagi kita untuk tetap bergantung dan berdoa kepada Allah, memohon perlindungan-Nya dari kesombongan.
Gambaran Kekejaman Fir’aun terhadap Bani Israil
Selain kesombongannya, Fir’aun juga dikenal karena kekejamannya. Dalam Qashash Al-Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir, Fir’aun digambarkan sebagai penguasa yang angkuh, congkak, dan terlarut dalam kehidupan dunia. Ia memecah-belah rakyatnya menjadi beberapa golongan dan menindas Bani Israil, keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.
Fir’aun tidak hanya memperbudak Bani Israil, tetapi juga membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari keturunan mereka (Ibn Kathir, 2003).
Kekejaman Fir’aun ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Fir’aun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qasas: 4)
Menurut Ibnu Katsir, Fir’aun melakukan tindakan kejam ini karena takut terhadap ramalan yang menyatakan bahwa seorang anak dari keturunan Bani Israil akan menghancurkan kerajaannya. Ramalan ini diketahui oleh Fir’aun setelah kabar tersebut diwariskan turun-temurun sejak zaman Nabi Ibrahim (Al-Mubarakfuri, 2003).
Fir’aun, yang terancam oleh ramalan ini, memutuskan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari Bani Israil. Namun, Nabi Musa AS, yang termasuk dalam keturunan Bani Israil, selamat dari kekejaman tersebut dan pada akhirnya membawa kehancuran bagi Fir’aun.
Kesombongan Membawa Fir’aun pada Kehancuran
Pada akhirnya, Fir’aun bertemu dengan kehancuran saat tenggelam di Laut Merah saat ia mengejar Nabi Musa dan kaumnya yang berusaha melarikan diri dari Mesir.
Kisah ini menjadi pelajaran yang kuat bahwa kesombongan dan kezaliman pada akhirnya akan membawa kepada kebinasaan.
PelajaranPenting untuk Kita Semua
Dari kisah Fir’aun, kita belajar bahwa kesombongan adalah sifat yang sangat berbahaya. Setiap kali kita menghadapi masalah, ujian, atau penyakit, itu adalah pengingat dari Allah SWT agar kita tetap rendah hati dan tidak terjerumus dalam kesombongan.
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan terus berada di jalan kebenaran dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Pamungkas
Kisah Fir’aun memberikan pelajaran yang mendalam tentang bahaya kesombongan dan kekejaman. Kesombongan yang timbul karena tidak pernah menghadapi masalah atau ujian dapat membawa seseorang pada kehancuran, seperti yang terjadi pada Fir’aun.
Selain itu, kekejaman Fir’aun terhadap Bani Israil, terutama pembunuhan terhadap anak-anak laki-laki mereka, menunjukkan dampak buruk dari kekuasaan yang tidak terkendali. Dalam kehidupan kita sehari-hari, penting untuk selalu berserah diri kepada Allah dan menjauhi sifat sombong.





