Website Berita dan Opini
Indeks

Pergi di Puncak: Seni Paling Sunyi Para Pemenang

Pergi di Puncak: Seni Paling Sunyi Para Pemenang
Foto dari Twitter

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Dunia sepak bola selalu menghormati mereka yang tahu kapan harus datang. Tetapi sejarah—dengan segala kemegahan dan kejujurannya—akan selamanya mengagumi mereka yang tahu kapan harus pergi. Sebab datang adalah perkara kesempatan, sementara pergi di puncak adalah perkara keberanian.

Tidak semua orang mampu melakukannya.

Banyak yang bertahan terlalu lama, sampai tepuk tangan berubah menjadi kritik, sampai pujian menjelma celaan, sampai nama besar perlahan terkikis oleh waktu yang tak lagi berpihak.

Di sepak bola, sejarah mencatat, tidak sedikit legenda yang akhirnya turun dari panggung dalam suasana muram—bukan karena mereka tak hebat, tetapi karena mereka gagal membaca kapan tirai harus ditutup.

Namun ada segelintir manusia yang memilih jalan berbeda.

Ketika Zinedine Zidane melangkah keluar dari Santiago Bernabéu setelah menghadiahkan tiga trofi Liga Champions berturut-turut—sebuah pencapaian yang bahkan nyaris mustahil di era modern—ia tidak sedang melarikan diri. Ia sedang mengunci takdirnya.

Ia memilih pergi sebelum dunia melihat celah. Ia meninggalkan Real Madrid bukan sebagai pelatih yang mulai menurun, tetapi sebagai legenda yang nyaris tak tersentuh.

Perginya bukan kekalahan, melainkan mahkota terakhir dari sebuah kemenangan.

Begitu pula Pep Guardiola, yang dalam berbagai fase kariernya berani menutup bab ketika warisan sepak bolanya sedang berdiri gagah. Di Barcelona, ia pergi setelah membangun salah satu tim terbaik dalam sejarah.

Kini di Manchester City, setelah satu dekade penuh trofi, ia kembali memilih menepi ketika namanya sudah menjelma monumen di Etihad. Ia paham satu hal: legenda tidak dibangun hanya oleh kemenangan, tetapi oleh kemampuan membaca waktu.

Dan hari ini, gema sejarah itu terasa dekat. Sangat dekat. Karena Bandung baru saja menyaksikan kisah serupa lewat seorang pria Kroasia yang datang tanpa banyak gembar-gembor, tetapi pergi dengan tiga mahkota di tangannya.

Baca Juga:  Dramatis di Parepare! Persib Bungkam PSM 2-1, Selangkah Lagi Hat-trick Juara

Bojan Hodak memilih jalan yang hanya berani ditempuh oleh para pemenang sejati.

Setelah mencetak hattrick juara liga, sekaligus sebagai pelatih terbaik, setelah menempatkan Persib di singgasana tertinggi, setelah membuat Bobotoh bersorak dan lawan menaruh hormat, Coach Bojan justru memilih mundur di saat langit sedang paling biru.

Ia pergi bukan karena gagal. Ia pergi bukan karena didesak.

Ia pergi justru ketika seluruh stadion masih meneriakkan namanya. Ketika dunia sepak bola Indonesia sedang mengelu-elukannya.

Ketika semua orang mungkin berharap ia tinggal lebih lama.

Di situlah letak kebesaran itu.

Karena pergi di puncak adalah keputusan yang tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari kendali. Ia tidak memberi ruang bagi penurunan. Ia tidak menunggu sejarah mengoreksi dirinya. Ia menutup babak dengan tinta emas, lalu menyerahkan panggung dengan kepala tegak.

Coach Bojan pergi seperti Zidane pergi.

Meninggalkan ruang ganti dengan aura kemenangan.

Meninggalkan lemari trofi yang penuh.

Meninggalkan standar yang begitu tinggi, hingga penerus mana pun akan selalu dibandingkan dengannya.

Dan mungkin, justru di situlah keabadian seorang pelatih dimulai.

Karena kemenangan bisa diulang.

Rekor bisa dipecahkan.

Trofi bisa berganti tangan.

Tetapi cara seseorang meninggalkan panggung, itulah yang sering membuat namanya hidup lebih lama dari sekadar angka dan statistik.

Coach Bojan tidak sekadar pergi.

Ia meninggalkan sebuah era.

Ia meninggalkan jejak.

Ia meninggalkan standar.

Ia meninggalkan kenangan.

Dan di hati Bobotoh, ia pergi bukan sebagai mantan pelatih.

Ia pergi sebagai legenda.

HATUR NUHUN, COACH BOJAN.

Anjeun datang dengan harapan, pergi dengan kehormatan, dan tinggal selamanya dalam ingatan.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *