
Bandung, DARAS.ID – Institut Agama Islam Persis (IAI PERSIS) Bandung menyelenggarakan Kuliah Umum Iqra’ Bismirabbik 5.0. Pada Senin, 15 Juni 2026, pukul 09.00–12.00 WIB di Aula Pascasarjana IAI PERSIS Bandung.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber istimewa, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, MA, Ph.D., dengan tema “Mengukuhkan Literasi Ilahiah dalam Melawan Literasi Jahiliah pada Era Dominasi Data.”
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor IAI PERSIS Bandung, Prof. Jajang A. Rohmana, M.Ag., yang dalam Segalanya menegaskan bahwa Persatuan Islam (PERSIS) memiliki tradisi literasi yang kuat dan panjang sejak awal berdirinya.
“PERSIS mempunyai sejarah literasi yang panjang. Para tokoh PERSIS seperti A. Hassan, Mohammad Natsir, Isa Anshari, KH. E. Abdurrahman, Sidik Amien, Latief Muchtar, Endang Saefudin Anshari, KH. Aceng Zakaria, hingga Prof. M. Abdurrahman, semuanya memiliki semuanya literasi yang tinggi. Mereka adalah pembaca yang ulet sekaligus penulis yang produktif yang melahirkan ratusan karya. Tradisi keilmuan dan literasi inilah yang harus diwariskan dan dikembangkan oleh generasi muda, khususnya mahasiswa IAI PERSIS Bandung, di tengah tantangan era digital saat ini,” ungkapnya.
Rektor juga menekankan bahwa literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi terbentuknya karakter intelektual, kemampuan berpikir kritis. Serta kesiapan menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Pada sesi kuliah umum, Prof. E. Aminudin Aziz mengajak sivitas akademika memahami kembali makna perintah pertama dalam Al-Qur’an, yaitu Iqra’ (bacalah), sebagai fondasi pembangunan peradaban ilmu pengetahuan.
Menurutnya, literasi harus dipahami sebagai kemampuan menggunakan informasi, baik tekstual maupun nontekstual, untuk meningkatkan kualitas hidup dan membangun kecakapan berpikir tingkat tinggi.
Pemaparan Kuliah Umum
Dalam pemaparannya, Prof. Aminudin memperkenalkan konsep “Literasi Ilahiah” yang berangkat dari semangat Iqra’ Bismirabbik—membaca dengan kesadaran akan kehadiran dan pemeliharaan Sang Pencipta. Konsep ini menjadi antitesis terhadap “Literasi Jahiliah”. Ditandai oleh fenomena melihat tanpa kecermatan, mendengar tanpa menyimak, berbicara tanpa manfaat, merasa tanpa kepekaan, serta bekerja tanpa keikhlasan.
Menghadapi era dominasi data dan banjir informasi, Prof. Aminudin menekankan pentingnya penguatan tiga aspek literasi utama, yaitu literasi informasi, literasi digital, dan literasi data. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menemukan, memutar, memanfaatkan, serta mengomunikasikan informasi secara efektif dan bertanggung jawab.
“Di era digital, literasi tidak lagi menjadi keistimewaan, melainkan kebutuhan. Kemampuan menggunakan teknologi, menyebarkan informasi secara kritis, memahami data, dan berargumentasi berdasarkan data menjadi kompetensi yang sangat menentukan masa depan,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya membangun budaya berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam informasi yang bias, manipulatif, maupun hoaks. Mahasiswa, menurutnya, harus mampu membedakan antara fakta dan opini. Serta menjadikan data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan penyusunan argumen ilmiah.
Selain membahas tantangan literasi, Prof. Aminudin memaparkan berbagai strategi program Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam meningkatkan budaya baca masyarakat. Termasuk penyediaan sumber bacaan berkualitas, akses sumber daya digital gratis, kegiatan literasi berbasis masyarakat, serta program yang diberikan kepada individu dan lembaga yang berkontribusi dalam pengembangan literasi nasional.
Harapan Diadakannya Kuliah Umum
Kegiatan Iqra’ Bismirabbik 5.0 merupakan bagian dari komitmen IAI PERSIS Bandung dalam memperkuat budaya akademik dan tradisi literasi di lingkungan perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu mengolah, mengkritisi, dan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Acara yang diikuti oleh pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa IAI PERSIS Bandung tersebut berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang membahas tentang tantangan literasi digital, penguatan budaya membaca. Serta peran perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan data.
“Iqra’ Bismirabbik 5.0” menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat literasi. Sebagai jalan membangun peradaban ilmu yang tertanam pada nilai-nilai keislaman sekaligus responsif terhadap tuntutan zaman.
Penulis: Noer
Editor: Azkia






