
Oleh Joko Suryono*
Sabtu, 10 Oktober 2026, sebuah bola ditendang di Lapangan Panglejar, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Wakil Menteri Ahmad Riza Patria, dan sejumlah pejabat berdiri menyaksikan momen pembukaan Liga Desa 2026–2027. Tak lama kemudian, tim Desa Cisomang Barat menaklukkan Desa Wangunsari dengan skor 1–0.
Sekilas, sore itu tampak seperti pembukaan turnamen sepak bola biasa. Namun, ada pesan yang lebih besar daripada hasil pertandingan. Bersamaan dengan peluncuran peringatan Hari Desa Nasional 2027, lapangan itu menjadi panggung bagi sebuah gagasan tentang desa, yakni bahwa desa tidak semestinya hanya menjadi penerima program pembangunan, tetapi juga harus tampil sebagai pelaku utama.
Politik tidak selalu bekerja melalui pidato dan kebijakan tertulis. Terkadang, ia bergerak melalui simbol, perjumpaan, dan ruang yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menunjukkan kemampuannya. Dalam konteks itu, tendangan pertama di Panglejar memiliki makna tersendiri. Desa tidak lagi sekadar menjadi latar pembangunan. Desa diberi ruang untuk tampil di tengah panggung.
Ketika Desa Tidak Lagi Sekadar Menjadi Objek
Selama bertahun-tahun, desa kerap hadir dalam percakapan pembangunan nasional sebagai penerima bantuan, sasaran program, atau angka dalam laporan anggaran. Peran tersebut tentu penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan potensi desa yang sesungguhnya.
Desa memiliki manusia, kebudayaan, jejaring sosial, serta sumber daya ekonomi yang dapat tumbuh apabila memperoleh ruang dan kesempatan. Karena itu, pembangunan desa seharusnya tidak berhenti pada penyaluran program. Lebih jauh, pembangunan perlu membuka jalan agar masyarakat desa mampu mengembangkan potensi dan menentukan arah kemajuannya sendiri.
Peluncuran Hari Desa Nasional 2027 dan Liga Desa 2026–2027 di Bandung Barat menawarkan pendekatan yang menarik. Sepak bola dijadikan medium untuk mempertemukan warga, menghidupkan kebanggaan terhadap desa, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda.
Pilihan ini terasa masuk akal. Sepak bola memiliki bahasa yang mudah dipahami lintas usia dan latar belakang. Warga tidak memerlukan penjelasan panjang untuk memahami arti kemenangan, kerja sama, dan sportivitas. Semua itu dapat disaksikan langsung di lapangan.
Dari sebuah pertandingan, warga bisa berkumpul, saling mengenal, mendukung tim, dan membangun hubungan dengan desa lain. Jika berlangsung secara konsisten, perjumpaan semacam ini dapat memperkuat modal sosial yang dibutuhkan dalam pembangunan.
Inilah salah satu nilai penting Liga Desa. Ia bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang paling kuat menendang bola, melainkan kesempatan untuk membangun hubungan antarmasyarakat melalui kegiatan yang mereka sukai.
Dari 7.810 Desa Menuju 20.000 Tim
Gagasan tersebut semakin menarik ketika melihat perkembangan Liga Desa dalam dua musim penyelenggaraannya.
Musim pertama diluncurkan pada November 2025 di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, dengan melibatkan 7.810 desa di Jawa Tengah. Kompetisi itu mencapai puncaknya pada 14 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali. Desa Karanggondang, Kabupaten Jepara, keluar sebagai juara setelah mengalahkan Desa Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, melalui adu penalti dengan skor 4–2.
Pada musim 2026–2027, cakupan kompetisi diperluas. Peluncuran di Bandung Barat menandai dimulainya Liga Desa yang melibatkan sekitar 20.000 tim dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Kompetisi ini direncanakan berlangsung selama kurang lebih empat bulan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola desa memiliki potensi untuk menjangkau masyarakat dalam skala besar. Namun, besarnya jumlah peserta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kompetisi tersebut dikelola, seberapa luas manfaatnya dirasakan warga, dan apakah kegiatan ini mampu berlanjut setelah musim pertandingan berakhir.
Di sinilah tantangan penyelenggara sesungguhnya.
Kompetisi yang berkembang pesat membutuhkan tata kelola yang baik, jadwal yang jelas, aturan yang konsisten, serta mekanisme pengawasan yang dapat dipercaya. Tanpa itu, besarnya partisipasi justru berisiko menjadi beban bagi penyelenggara maupun peserta.
Karena itu, perluasan Liga Desa patut diapresiasi sekaligus diikuti dengan evaluasi. Program yang baik bukan hanya program yang mampu tumbuh, melainkan juga program yang sanggup menjaga kualitas ketika skalanya semakin besar.
Menjaga Sepak Bola Tetap Menjadi Milik Desa
Salah satu aspek menarik dari Liga Desa 2026–2027 adalah aturan mengenai asal pemain. Menteri Yandri Susanto menegaskan bahwa pemain harus memiliki KTP desa setempat minimal selama dua tahun. Kompetisi ini juga tidak memperbolehkan pemain naturalisasi maupun pemain bayaran dari luar desa.
Prinsip tersebut menegaskan identitas Liga Desa sebagai kompetisi yang bertumpu pada masyarakat setempat. Tujuannya bukan sekadar memenangkan pertandingan, tetapi memberikan kesempatan kepada warga desa untuk menunjukkan kemampuan mereka sendiri.
Aturan ini penting karena kompetisi lokal sering kali menghadapi godaan untuk mengejar kemenangan dengan mendatangkan pemain dari luar. Akibatnya, warga setempat bisa kehilangan kesempatan untuk berkembang di wilayahnya sendiri.
Dengan aturan yang konsisten, Liga Desa berpeluang menjadi ruang pembinaan bagi pemain-pemain yang selama ini belum mendapat perhatian. Talenta yang tumbuh di kampung memiliki kesempatan untuk tampil, sementara masyarakat dapat menyaksikan kemampuan anak-anak dari lingkungan mereka sendiri.
Meski demikian, aturan saja tidak cukup. Kompetisi juga memerlukan pendataan pemain yang tertib, pengawasan yang transparan, dan penegakan sanksi yang adil. Tanpa mekanisme tersebut, prinsip bahwa liga ini berasal dari desa, oleh desa, dan untuk desa akan sulit dijaga.
Lebih jauh, potensi pemain yang ditemukan melalui kompetisi harus diikuti jalur pembinaan. Pemandu bakat, klub, akademi sepak bola, dan organisasi olahraga dapat dilibatkan agar pemain yang menonjol memiliki kesempatan untuk berkembang.
Dengan begitu, Liga Desa tidak berhenti sebagai arena pertandingan. Ia dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi pembinaan olahraga yang lebih terstruktur.
Hari Desa Nasional dan Pentingnya Membangun Tradisi
Liga Desa merupakan bagian dari rangkaian Festival Bangun Desa Bangun Indonesia dalam peringatan Hari Desa Nasional 2027. Kegiatan tersebut direncanakan mencakup 14 perlombaan, mulai dari kompetisi sepak bola hingga berbagai kegiatan yang berkaitan dengan potensi dan prestasi desa.
Puncak peringatan dijadwalkan berlangsung pada 15 Januari 2027 di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Hari Desa sendiri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2024. Tanggal 15 Januari dipilih untuk memperingati momentum pengundangan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Penetapan ini sekaligus menegaskan pentingnya desa dalam pemerataan kesejahteraan, pelayanan masyarakat, dan pembangunan nasional.
Karena itu, peringatan Hari Desa seharusnya tidak dipahami sebatas agenda tahunan. Ia dapat menjadi kesempatan untuk memperlihatkan perkembangan desa, mempertemukan berbagai inisiatif lokal, dan memperkuat perhatian publik terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat desa.
Penyelenggaraan kegiatan di berbagai daerah juga membuka peluang bagi setiap wilayah untuk menampilkan kekhasan dan potensinya. Namun, yang perlu dijaga adalah kesinambungan antara perayaan dan kerja pembangunan sehari-hari.
Sebuah festival dapat menarik perhatian dalam waktu singkat. Sebaliknya, perubahan sosial dan ekonomi membutuhkan proses yang panjang. Tantangannya adalah memastikan bahwa semangat yang muncul selama peringatan tidak menghilang ketika panggung acara dibongkar.
Dari Lapangan ke Ekonomi Desa
Ada alasan lain mengapa Liga Desa layak mendapat perhatian. Sepak bola memiliki ekosistem ekonomi yang dapat melibatkan banyak pihak di luar pemain dan penyelenggara.
Ketika pertandingan berlangsung, pedagang makanan dan minuman memperoleh kesempatan untuk berjualan. Pelaku UMKM dapat menawarkan produk. Transportasi lokal, penyedia perlengkapan, dan berbagai usaha kecil lainnya berpeluang mendapatkan manfaat dari meningkatnya aktivitas masyarakat.
Menteri Yandri juga menyoroti potensi Liga Desa untuk menggerakkan ekonomi desa. Dalam peluncuran di Bandung Barat, ia menyampaikan harapan agar kegiatan tersebut memperkuat silaturahmi, membangkitkan UMKM, dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Harapan itu masuk akal, tetapi dampaknya tidak boleh berhenti sebagai asumsi.
Manfaat ekonomi perlu dilihat dari hal-hal yang dapat diukur, seperti jumlah UMKM yang terlibat, nilai transaksi selama pertandingan, pendapatan pedagang, serta banyaknya tenaga kerja lokal yang memperoleh kesempatan. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi apakah kegiatan olahraga benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi desa.
Penyelenggara juga dapat mendorong keterlibatan pelaku usaha setempat dalam penyediaan konsumsi, perlengkapan, transportasi, dan kebutuhan pertandingan lainnya. Dengan cara ini, sebagian belanja penyelenggaraan dapat berputar di lingkungan masyarakat yang menjadi tuan rumah.
Hal yang sama berlaku bagi pengembangan pemuda. Liga Desa bisa menjadi ruang untuk membangun kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas. Namun, manfaat itu akan lebih kuat apabila tersedia program lanjutan, seperti pelatihan, pembinaan atlet, dan pendampingan bagi pemuda yang ingin mengembangkan usaha di kampungnya.
Sepak bola memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan desa. Namun, jika dikelola dengan baik, ia dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan olahraga, pengembangan sumber daya manusia, dan ekonomi lokal.
Mengukur Keberhasilan di Luar Seremoni
Langkah Menteri Yandri Susanto membawa Liga Desa ke panggung yang lebih luas patut diapresiasi. Pendekatan melalui olahraga memberi wajah yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dibandingkan program yang hanya hadir dalam bentuk sosialisasi atau dokumen kebijakan.
Kehadiran Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni juga menambah daya tarik kompetisi. Dalam peluncuran tersebut, Raffi memberikan tambahan hadiah Rp150 juta untuk juara Liga Desa musim 2026–2027.
Dukungan semacam ini dapat membantu menarik perhatian publik, khususnya generasi muda. Namun, popularitas tokoh dan besarnya hadiah bukanlah tujuan akhir. Keduanya perlu diarahkan untuk memperluas partisipasi, memperkuat pembinaan, dan membuka kesempatan yang lebih besar bagi talenta desa.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Liga Desa bukan terletak pada ramainya seremoni pembukaan atau besarnya jumlah peserta. Ukurannya adalah manfaat yang bertahan setelah pertandingan selesai.
Apakah pemain muda memperoleh kesempatan untuk berkembang? Apakah kegiatan ini memperkuat hubungan antardesa? Apakah pedagang kecil mendapatkan tambahan penghasilan? Apakah pemerintah desa dan masyarakat memiliki alasan untuk terus menghidupkan kegiatan olahraga setelah kompetisi berakhir?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena pembangunan tidak selesai ketika sebuah program diluncurkan. Justru setelah peluncuran, kerja yang lebih berat dimulai.
Bagi desa, sepak bola dapat menjadi lebih dari sekadar permainan selama 90 menit. Ia bisa menjadi ruang perjumpaan, tempat tumbuhnya kebanggaan, dan jalan untuk menemukan potensi yang selama ini belum terlihat.
Anak desa yang mencetak gol di Lapangan Panglejar mungkin kelak menjadi pemain profesional. Ia mungkin pula tumbuh menjadi pelatih, pengusaha, atau penggerak masyarakat di kampungnya. Tidak semua akan menempuh jalan yang sama, tetapi setiap anak layak memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Tendangan pertama di Panglejar telah dilepaskan. Kini, pekerjaan berikutnya adalah memastikan bahwa bola itu terus bergulir, bukan hanya di lapangan, melainkan juga dalam upaya memperkuat kehidupan masyarakat desa.
*Penulis: Aktivis 98 Jawa Barat
Editor: San





