
Bandung, Daras.id — Ketua Ikatan Alumni (IKA) Institut Agama Islam (IAI) Persis Bandung, Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., M.H., berharap IAI Persis Bandung terus berkembang dengan berpegang pada semangat para pendiri serta memperkuat tradisi keilmuan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam sambutannya pada momentum wisuda, Hoerudin Amin menegaskan bahwa perjalanan IAI Persis Bandung merupakan bagian dari ikhtiar panjang dalam membangun pendidikan Islam yang berkualitas. Karena itu, capaian dan prestasi kelembagaan yang telah dirintis generasi terdahulu perlu dijaga sekaligus dikembangkan untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi umat dan bangsa.
Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni akademik atau penanda berakhirnya masa studi. Wisuda merupakan momentum untuk meneguhkan makna kesarjanaan sebagai tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial.
Ia mengajak para wisudawan memahami gelar sarjana secara lebih mendalam. Kesarjanaan, menurutnya, tidak cukup diukur dari kepemilikan ijazah, tetapi harus tercermin dalam kedalaman ilmu, kemandirian berpikir, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Hoerudin juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus mampu ditransformasikan menjadi pemahaman, kebijaksanaan, dan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Kata-Kata sebagai Kekuatan Menyampaikan Kebenaran
Dalam sambutannya, Hoerudin Amin memberikan perhatian khusus pada makna bahasa dan komunikasi. Ia mengajak para wisudawan menjadikan kata-kata sebagai kekuatan untuk menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan nilai-nilai luhur.
Menurutnya, para sarjana memiliki tanggung jawab untuk menjembatani nilai-nilai ideal dengan realitas kehidupan. Nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan prinsip moral harus diterjemahkan ke dalam tindakan konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, seorang sarjana tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan berkomunikasi, kejernihan berpikir, serta integritas dalam menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran.
Mendorong Lahirnya Doktor dan Guru Besar di Lingkungan Persis
Hoerudin Amin berharap IAI Persis Bandung semakin memperkuat kualitas pendidikan dan mengembangkan tradisi akademik yang unggul. Salah satu agenda penting yang perlu mendapat perhatian adalah melahirkan lebih banyak doktor dan guru besar dari lingkungan Persis.
Menurutnya, pengembangan sumber daya akademik bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan administratif perguruan tinggi, melainkan merupakan tanggung jawab kelembagaan dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual dan keislaman.
Perguruan tinggi perlu menjadi ruang bagi lahirnya pemikir, peneliti, dan akademisi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan sumbangan nyata bagi masyarakat.
Ia berharap IAI Persis Bandung dapat terus menghasilkan lulusan pada jenjang sarjana, magister, dan doktor, sekaligus mendorong tumbuhnya guru besar yang memiliki kompetensi keilmuan dan komitmen terhadap pengembangan umat.
Mengintegrasikan Wahyu dan Tradisi Keilmuan
Lebih lanjut, Hoerudin menyoroti hubungan antara Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui proses akademik.
Menurutnya, pengembangan pengetahuan membutuhkan ikhtiar intelektual, termasuk ijtihad, filsafat ilmu, dan epistemologi. Melalui proses tersebut, nilai-nilai yang bersumber dari wahyu dapat dikaji, dipahami, dan diterapkan secara bertanggung jawab dalam kehidupan.
Pengalaman pendidikan di lingkungan Persis yang memadukan pelajaran agama dan umum, menurutnya, merupakan modal penting untuk membangun tradisi keilmuan yang integratif.
Tradisi tersebut perlu terus dikembangkan agar lulusan mampu menghubungkan kedalaman pemahaman agama dengan kemampuan akademik, keterampilan profesional, dan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Wisuda sebagai Awal Pengabdian
Melalui momentum wisuda IAI Persis Bandung pada 10 Oktober 2026, pesan yang disampaikan Hoerudin Amin menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kualitas ilmu, integritas, dan kontribusi mereka bagi masyarakat.
Momentum wisuda tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi para lulusan untuk mengamalkan ilmu pengetahuan, memperkuat tanggung jawab moral, serta mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan umat dan bangsa.
Gelar sarjana bukanlah titik akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu, menyampaikan kebenaran, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (Hendi)





