Website Berita dan Opini
Indeks

Kita Semua Musafir: Dari Perjalanan Wisata Menuju Perjalanan Pulang kepada Ilahi

Kita Semua Musafir: Dari Perjalanan Wisata Menuju Perjalanan Pulang kepada Ilahi
Dokumen Pribadi: Berfoto membelakangi Gunung Bromo saat subuh-subuh

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Perjalanan pulang dari Malang menuju Bandung kali ini terasa berbeda. Bukan semata-mata karena jauhnya jarak yang harus ditempuh, melainkan karena ada banyak pelajaran kehidupan yang tertinggal di sepanjang perjalanan.

Bersama istri dan ketiga anak, kami menikmati kebersamaan melalui berbagai pengalaman: menjelajahi Jatim Park 1 dan 2, menikmati panorama Malang Skyland, menyusuri hutan dan sungai dengan motor trail di kawasan Coban Talun hingga ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, serta menyaksikan keagungan Bromo, Semeru, dan hamparan Savana.

Saat di puncak Kalindra

Di antara tawa anak-anak, jalanan berliku, udara pegunungan, dan bentang alam yang memesona, saya menemukan satu kesadaran sederhana: hidup pun sesungguhnya adalah perjalanan panjang. Dan kita semua hanyalah musafir yang sedang mencari jalan pulang.

Liburan keluarga bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat indah. Ada kebersamaan yang perlu dirawat, kenangan yang perlu ditanamkan, dan pelajaran yang dapat dipetik dari alam semesta.

Sebab, terkadang kita harus menjauh sejenak dari rutinitas untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih.

Di tengah kesibukan mengejar pekerjaan, jabatan, dan berbagai tanggung jawab, kita sering lupa bahwa waktu bersama keluarga juga memiliki batas. Anak-anak tidak selamanya kecil. Orang-orang yang kita cintai tidak selamanya berada di sisi kita. Karena itu, kebersamaan hari ini bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa.

Barangkali, salah satu warisan terbaik bagi anak-anak bukanlah kemewahan yang kita tinggalkan, melainkan kenangan tentang keluarga yang saling mencintai, saling menguatkan, dan belajar mengenal kebesaran Allah melalui alam ciptaan-Nya.

Hidup Membutuhkan Bekal

Perjalanan jauh membutuhkan persiapan. Kita memerlukan kendaraan yang layak, bahan bakar yang cukup, bekal makanan, peta perjalanan, dan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan di jalan.

Tidak seorang pun ingin tersesat di tengah perjalanan atau kehabisan bekal ketika masih jauh dari tujuan. Begitu pula kehidupan.

Kita dilahirkan tanpa membawa apa-apa. Kemudian tumbuh, belajar, bekerja, membangun keluarga, mengejar cita-cita, dan berusaha meraih kebahagiaan. Dalam perjalanan itu, kita mengumpulkan banyak hal: ilmu, harta, kedudukan, pengalaman, dan pengakuan manusia.

Namun, pernahkah kita bertanya, apakah semua yang kita kumpulkan itu cukup untuk mengantarkan kita kepada tujuan akhir kehidupan?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat mendasar:

“Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Ayat ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan duniawi. Kita membutuhkan iman sebagai kompas, ilmu sebagai penerang, akhlak sebagai penuntun, kesabaran sebagai kekuatan, dan ketakwaan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Seseorang bisa memiliki banyak harta, tetapi belum tentu memperoleh ketenangan. Ia bisa menduduki jabatan tinggi, tetapi belum tentu menemukan kebahagiaan. Ia bisa mendapatkan penghormatan dari banyak orang, tetapi tetap merasa kosong ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

Sebab, keberhasilan mencapai tujuan dunia tidak selalu berarti keberhasilan menemukan makna kehidupan.

Kita boleh mengejar dunia, bahkan harus bekerja keras untuk menunaikan tanggung jawab. Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan perjalanan di dunia hingga lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan pulang kepada Allah.

Takdir: Kisah yang Belum Selesai

Jalanan menuju suatu tempat tidak selalu lurus. Ada tanjakan yang menguras tenaga, turunan yang menuntut kehati-hatian, dan tikungan yang mengharuskan kita memperlambat langkah. Kehidupan pun demikian.

Ada harapan yang segera menjadi kenyataan, tetapi ada pula doa yang bertahun-tahun belum menemukan jawaban. Ada perjuangan yang berbuah keberhasilan, tetapi ada usaha yang berakhir dengan kekecewaan. Ada orang yang kita percaya justru menyakiti, dan ada kehilangan yang membuat kita mempertanyakan makna keadilan.

Pada saat seperti itu, manusia mudah merasa lelah. Bahkan, tidak jarang kita menganggap hidup sedang berlaku tidak adil.

Padahal, kita hanya mengetahui sebagian kecil dari keseluruhan cerita kehidupan kita sendiri.

Hidup adalah perjalanan mencari jawaban dari setiap takdir. Jika hari ini kita belum menemukan jawabannya, mungkin memang kisah kita belum selesai.

Kalimat ini bukan ajakan untuk menyerah kepada keadaan atau berhenti memperjuangkan perubahan. Sebaliknya, kita tetap harus berikhtiar, memperbaiki kesalahan, dan mencari jalan keluar.

Baca Juga:  Sepasang Tangan yang Tak Pernah Lelah: Kisah Cinta, Kejujuran, dan Pengorbanan Seorang Ibu

Namun, ada bagian dari kehidupan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Di situlah kita belajar menerima, bersabar, dan mempercayakan apa yang belum kita pahami kepada Allah.

Tidak semua yang tertunda berarti ditolak. Tidak semua yang hilang berarti kehidupan telah berakhir. Tidak semua pintu yang tertutup menandakan tidak ada jalan lain.

Terkadang, kita baru memahami hikmah sebuah peristiwa setelah melewati waktu yang panjang.

Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa hidup telah gagal hanya karena satu bagian perjalanan tidak berjalan sesuai rencana.

Bisa jadi, kita sedang berada di bagian cerita yang belum selesai.

Jangan Ingin Sampai Tanpa Bersedia Menjalani Proses

Di zaman kiwari, kita sering menginginkan keberhasilan tanpa proses, penghargaan tanpa ujian, dan ketinggian tanpa pernah mengalami kejatuhan.

Kita ingin menikmati puncak, tetapi enggan mendaki. Ingin memetik buah, tetapi tidak sabar menanam.

Ironisnya, ketika melihat orang lain berhasil lebih dahulu, kita mudah merasa iri. Ketika orang lain mendapatkan penghargaan, kita merasa tersaingi. Bahkan, terkadang kita berusaha menjatuhkan orang lain hanya karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa seseorang telah melangkah lebih jauh.

Seolah-olah keberhasilan orang lain mengurangi jatah kebahagiaan kita.

Padahal, langit begitu luas untuk menampung banyak bintang. Cahaya orang lain tidak harus membuat cahaya kita padam.

Kita sering melihat hasil akhir kehidupan seseorang tanpa mengetahui seluruh proses yang telah dilaluinya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui malam-malam panjang yang ia lewati. Kita melihat kedudukannya, tetapi tidak mengetahui pengorbanan yang pernah ia lakukan.

Setiap orang memiliki jalan, waktu, ujian, dan takdirnya masing-masing.

Karena itu, tidak perlu mengukur seluruh kehidupan kita dengan pencapaian orang lain. Belajarlah dari keberhasilan mereka tanpa harus memelihara iri hati. Jadikan prestasi orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman.

Yang lebih penting bukan siapa yang paling dahulu sampai, melainkan siapa yang tetap menjaga arah, memperbaiki diri, dan tidak kehilangan kemanusiaannya sepanjang perjalanan.

Sebab, tidak ada gunanya tiba di puncak jika dalam perjalanan kita kehilangan kejujuran, merusak persaudaraan, dan mengorbankan nilai-nilai yang seharusnya kita jaga.

Belajar dari Nabi Yusuf: Menang Tanpa Dendam

Salah satu ujian terberat manusia bukan hanya ketika berada dalam kesulitan, melainkan juga ketika memiliki kekuasaan untuk membalas orang yang pernah menyakitinya.

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang hal ini.

Yusuf mengalami pengkhianatan dari saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, menghadapi godaan, dan dipenjara meskipun tidak bersalah. Jalan kehidupannya tidak selalu mudah, bahkan ketika ia memiliki kualitas diri yang baik.

Namun, ujian-ujian itu tidak menghapus kemuliaan akhlaknya.

Ketika akhirnya Allah memberinya kedudukan yang tinggi dan ia berhadapan kembali dengan saudara-saudaranya, Yusuf tidak menggunakan kekuasaan untuk melampiaskan dendam.

Ia berkata:

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu.” (QS. Yusuf: 92).

Betapa dalam pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Yusuf mengajarkan bahwa kebersihan hati bukan berarti kita tidak pernah disakiti. Kebersihan hati justru diuji ketika kita memiliki alasan untuk membenci, tetapi memilih agar kebencian tidak menguasai diri.

Ia mengajarkan bahwa memaafkan merupakan kekuatan, bukan kelemahan. Bahwa kemampuan membalas tidak harus diikuti keinginan membalas.

Tentu, memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman atau membiarkan diri terus disakiti. Kita tetap boleh menjaga jarak, menegakkan kebenaran, dan menetapkan batas yang sehat.

Namun, jangan biarkan luka mengubah kita menjadi pribadi yang gemar melukai orang lain.

Jangan sampai seseorang hanya menyakiti kita sekali, tetapi kita terus menghidupkan rasa sakit itu setiap hari.

Kemenangan sejati bukan ketika kita berhasil menjatuhkan orang yang pernah merendahkan kita, melainkan ketika kita mampu melewati luka tanpa berubah menjadi manusia yang gemar melukai.

Karena ternyata, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh tepuk tangan manusia atau pengakuan dunia. Kita berikhtiar menjaga kehormatan diri, memperbaiki akhlak, dan berharap kepada Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap perjuangan.

Baca Juga:  Terungkap! Manfaat Shalat bagi Otak dan Kesehatan yang Jarang Disadari—Sujud Ternyata Bisa ‘Reset’ Pikiran

Di Hadapan Alam, Manusia Belajar Merendah

Ketika berdiri di hadapan bentang alam Bromo dan Semeru, kita seperti diingatkan kembali tentang ukuran diri manusia.

Gunung-gunung berdiri dengan keagungannya. Savana terbentang luas. Kabut datang dan pergi. Angin bergerak tanpa menunggu perintah kita.

Di hadapan alam yang begitu luas, manusia menyadari betapa terbatasnya dirinya.

Kita boleh memiliki gelar, tetapi gelar tidak menjamin kemuliaan. Kita boleh mempunyai jabatan, tetapi jabatan tidak membuat kita kekal. Kita boleh dikenal banyak orang, tetapi popularitas tidak selalu menghadirkan ketenangan.

Dunia yang kita tempati hari ini akan terus berjalan ketika suatu hari kita telah tiada. Jalanan akan tetap ramai, gunung-gunung tetap berdiri, dan kehidupan akan terus berlangsung meskipun nama kita perlahan menjadi kenangan.

Kesadaran ini seharusnya tidak membuat kita kehilangan semangat untuk bekerja dan berprestasi. Justru sebaliknya, kita perlu menjalani kehidupan dengan lebih sungguh-sungguh, tetapi tanpa kesombongan.

Sebab, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar kesempatan untuk memberi manfaat.

Kemuliaan bukan sekadar tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, melainkan juga tentang seberapa dekat hati kita kepada Allah ketika tidak seorang pun sedang melihat.

Maka, mari mengejar keberhasilan tanpa kehilangan kerendahan hati. Mari membangun kehidupan tanpa melupakan kematian. Mari mengumpulkan bekal dunia tanpa mengabaikan bekal akhirat.

Kita-pun Akan Pulang

Perjalanan pulang menuju Bandung mengingatkan saya bahwa perjalanan kehidupan pun memiliki tujuan akhir.

Kita berangkat dari rahim ibu, tumbuh dalam keluarga, mengenal dunia, mencintai, kehilangan, membangun harapan, menghadapi kekecewaan, dan belajar menerima takdir.

Hingga suatu saat, perjalanan itu akan sampai pada batasnya.

Kita akan meninggalkan rumah, kendaraan, harta, jabatan, dan segala sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai milik kita. Apa yang dahulu kita banggakan akan tertinggal di dunia. Tubuh kembali menjadi tanah, nama perlahan menjadi kenangan, dan kita menghadap Allah dengan amal serta pertanggungjawaban masing-masing.

Empat belas abad yang lalu Allah mengingatkan:

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156).

Inilah perjalanan paling hakiki yang kerap terlupakan: bahwa hidup bukan sekadar usaha menjadi seseorang di mata dunia, melainkan perjalanan untuk memperbaiki diri, menunaikan amanah, menebar manfaat, dan mempersiapkan kepulangan kepada Ilahi.

Maka, jika hari ini kita belum berhasil, jangan buru-buru berputus asa. Jika sedang terluka, jangan buru-buru membenci. Jika berada di puncak, jangan buru-buru menyombongkan diri. Dan jika memiliki kesempatan untuk membalas, jangan terburu-buru menuruti dendam.

Teruslah berjalan. Perbaiki niat. Jaga hati. Tunaikan kewajiban. Berbuat baiklah semampunya, dan mintalah pertolongan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Boleh jadi manusia tidak melihat perjuangan kita, tetapi Allah mengetahui apa yang kita lalui. Boleh jadi hari ini kita belum memahami mengapa takdir berjalan demikian, tetapi kita tetap dapat memilih untuk menjalaninya dengan iman, kesabaran, dan ikhtiar.

Semoga kita tidak pulang sebagai manusia yang hanya membawa cerita tentang keberhasilan dunia, tetapi sebagai hamba yang berusaha menjaga hati, menghadirkan manfaat, dan memohon rida-Nya.

Sebagaimana firman Allah:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30).

Karena, perjalanan terjauh bukanlah dari Malang menuju Bandung, bukan pula dari kaki gunung menuju puncaknya.

Perjalanan terjauh adalah perjalanan dari hati yang lalai menuju hati yang mengenal Allah; dari jiwa yang dipenuhi ambisi menuju jiwa yang dipenuhi syukur; dari manusia yang sibuk mengejar dunia menuju hamba yang siap mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Sang Pencipta.

Dan ketika seluruh perjalanan telah berakhir, semoga kita termasuk orang-orang yang pulang dengan hati yang tenang, amal yang diterima, serta rahmat dan rida Allah yang senantiasa kita harapkan.

Malang–Bandung, sebuah perjalanan pulang yang mengingatkan bahwa kita semua sedang menuju pulang yang sesungguhnya.

— Catatan ini dibuat saat perjalanan naik bis Malang ke Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *