
Oleh Nurdin Qusyaeri
Idul Fitri di Indonesia bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga peristiwa budaya yang sarat makna sosial. Tradisi seperti Halal Bihalal, nganteuran (kirim rantang), hingga sungkeman menjadi ciri khas Lebaran Nusantara yang memperkuat solidaritas dan kohesi sosial.
Namun, di tengah arus modernitas dan gaya hidup instan, tradisi ini mulai mengalami pergeseran makna.
Lebaran: Dari Ibadah Menuju Relasi Sosial
Pasca-Ramadhan, umat Islam tidak hanya kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga memperbarui hubungan sosial. Di Indonesia, hal ini tampak dalam tradisi silaturahim massal yang menjadi denyut utama Lebaran.
Rumah-rumah terbuka, hidangan tersaji, dan kunjungan tak henti—semuanya menjadi simbol bahwa Lebaran adalah perayaan kebersamaan.
Nganteuran: Tradisi Berbagi yang Mulai Hilang
Di tanah Sunda, dikenal tradisi nganteuran, yakni mengirim makanan menggunakan rantang kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini bukan sekadar berbagi makanan, tetapi membangun relasi dan kepedulian sosial.
Dulu, rantang berisi opor, daging, dan sayur berpindah dari rumah ke rumah, menciptakan kehangatan yang nyata. Kini, praktik ini mulai tergeser oleh parsel dan hampers instan.
Yang hilang bukan hanya tradisinya, tapi juga sentuhan kemanusiaannya.
Halal Bihalal: Kearifan Lokal yang Mendunia
Berbeda dengan negara Muslim lain, Indonesia memiliki tradisi Halal Bihalal—forum silaturahim dan saling memaafkan pasca-Lebaran.
Tradisi ini merupakan hasil akulturasi Islam dan budaya lokal, bahkan pernah digunakan sebagai alat rekonsiliasi politik di masa awal kemerdekaan.
Esensinya sederhana:
menghalalkan kesalahan melalui saling memaafkan.
Sungkeman dan Bersalaman: Simbol Pembersihan Hati
Bersalaman saat Lebaran bukan sekadar formalitas. Dalam Islam, ia menjadi jalan pengampunan dosa, sementara dalam budaya Jawa berkembang menjadi sungkeman—simbol penghormatan dan kerendahan hati.
Momen ini menegaskan bahwa Idul Fitri adalah titik awal untuk:
- Membersihkan hati
- Mengakui kesalahan
- Memulai hidup baru
Tradisi sebagai Diplomasi Kultural
Beragam tradisi Lebaran di Indonesia—dari kirim rantang hingga halal bihalal—sejatinya adalah bentuk diplomasi kultural.
Ia menjaga:
- Kohesi sosial
- Kerukunan antar warga
- Semangat gotong royong
Bahkan, dalam banyak kasus, tradisi ini melibatkan lintas agama—menjadikannya simbol kebinekaan yang hidup.
Tantangan Modernitas: Dari Rantang ke Media Sosial
Perubahan zaman membawa tantangan serius:
- Silaturahim bergeser ke ruang digital
- Tradisi berbagi digantikan konsumsi pribadi
- Interaksi hangat berubah menjadi formalitas virtual
Akibatnya, Lebaran berpotensi kehilangan ruhnya sebagai perayaan relasi manusia.
Refleksi: Merawat Tradisi, Menghidupkan Makna
Lebaran bukan hanya soal baju baru dan hidangan mewah. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk merawat nilai:
- Berbagi, bukan menimbun
- Memaafkan, bukan sekadar formalitas
- Menyambung, bukan sekadar menyapa
Menghidupkan kembali tradisi seperti nganteuran dan silaturahim langsung adalah langkah sederhana namun bermakna besar.
Pamungkas
Idul Fitri adalah manifesto kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa kesucian tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, tradisi Lebaran Indonesia mengingatkan kita:
bahwa menjadi manusia berarti tetap terhubung dengan sesama.
Wallahu ‘alam
Pakenjeng, 23 Maret 2026






