
Internasional, DARAS.ID – Hamas tinjau proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, di tengah serangan udara Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza dan menewaskan puluhan warga sipil.
Proposal gencatan senjata tersebut telah disetujui oleh pihak Israel, namun awalnya mendapat tanggapan dingin dari Hamas. Meski demikian, Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan sudah sangat dekat.
“Mereka sangat dekat dengan kesepakatan mengenai Gaza, dan kami akan memberi tahu Anda tentang hal itu hari ini atau mungkin besok,” ujar Trump di Washington, seperti dikutip dari News and Sentinel (31/5/2025).
Ia menambahkan, “Mereka sedang dalam kekacauan besar. Saya pikir mereka ingin keluar dari situasi itu.”
Isi Proposal dan Respons Hamas
Meskipun belum diumumkan secara resmi, sumber dari Hamas dan Mesir menyatakan bahwa isi proposal mencakup:
- Penghentian pertempuran selama 60 hari
- Jaminan negosiasi menuju gencatan senjata jangka panjang
- Pembebasan 10 sandera hidup dan jenazah oleh Hamas
- Pembebasan lebih dari 1.100 tahanan Palestina oleh Israel
- Akses harian truk bantuan kemanusiaan ke Gaza
Stephane Dujarric, juru bicara PBB, menyerukan semua pihak untuk “menemukan keberanian politik” demi mencapai kesepakatan. Namun, menurut pejabat senior Hamas, Bassem Naim, proposal tersebut belum memenuhi tuntutan utama rakyat Palestina, yakni penghentian perang dan kelaparan.
Sementara proses negosiasi berlangsung, kekerasan terus berlanjut. Pejabat medis menyebutkan bahwa 27 warga Gaza tewas pada Jumat, termasuk delapan anak-anak, akibat serangan udara Israel di Khan Younis dan wilayah lainnya.

Sejak dimulainya perang pada 2023, lebih dari 54.000 warga Gaza tewas, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Korban tewas sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Kondisi kemanusiaan terus memburuk. Mohammed Abed, warga Deir al-Balah, menyebut situasi sebagai “mimpi buruk 2023, 2024, dan 2025.”
“Ini adalah perang kelaparan, kematian, pengepungan, dan antrean panjang untuk makanan dan toilet,” ungkapnya. Ia menambahkan, keluarganya hanya makan sekali sehari dan harus mengantre selama tiga jam untuk mendapatkan sedikit makanan.
“Sangat memilukan bahwa orang-orang dibuat kelaparan karena politik. Makanan dan air seharusnya tidak digunakan sebagai alat politik,” katanya.
Negosiasi yang dimediasi oleh Qatar, AS, dan Mesir masih terus berlangsung. Ketiganya menyatakan komitmen kuat untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza.






