Jangan Cuma Pinter, Tapi Harus Bener!

Kebersihan Kampus
Pinterest

Oleh: Yuyun Asymiawati*

Setiap kali masuk kelas, aku merasa seperti kembali ke ruang kelas anak SD—bukan karena suasananya ramai, tapi karena pemandangan yang menyedihkan. Sampah berserakan di sudut-sudut lantai, plastik jajanan beterbangan ditiup angin, dan aroma seblak sisa kemarin masih menempel di plastik yang belum juga dibuang. Ironisnya, ini terjadi di kampus yang katanya kampus peradaban, Institut Agama Islam. Tempat yang seharusnya menjadi ladang tumbuhnya akhlak mulia, bukan sekadar hafalan dalil.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman,” begitu sabda Nabi SAW yang sering kita dengar. Tapi sayang, kalimat itu menguap entah ke mana, seperti debu di bawah bangku kuliah. Ini bukan perkara tidak tahu, sebab mayoritas mahasiswa paham betul makna hadits itu. Tapi… entahlah. Siapa yang tega membiarkan iman diinjak-injak oleh plastik bekas dan bungkus ciki?

Baca Juga:  Adab di Antara Plastik dan Tisu: Refleksi Ringan Seorang Mahasiswa

Masalah kebersihan kampus ini bukan hanya soal siapa yang membuang sampah, melainkan soal mentalitas: mengapa semua orang merasa itu bukan tugasnya? Di mana kesadaran kolektif mahasiswa yang katanya agen perubahan? Kapan kita berhenti mengandalkan petugas kebersihan untuk tanggung jawab yang seharusnya kita pikul bersama?

Banyak yang tahu kampus ini tidak bersih, tapi hanya sedikit yang benar-benar peduli. Seperti kata Chairil Anwar, “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.” Jangan sampai kita jadi ‘jalang’ di kampus sendiri—merdeka berpikir, tapi lalai menjaga tempat berpijak.

Solusi Nyata, Bukan Basa-Basi

Solusinya sebenarnya sederhana, tapi memang butuh niat:

  • Awareness campaign yang kreatif. Bikin mural bertema lingkungan di dinding kampus, atau video pendek yang lucu dan menyentil di media sosial. Edukasi bisa dikemas dengan gaya, agar lebih mengena.
  • Tempat sampah yang menarik. Jangan cuma tulis “organik” dan “anorganik”. Ganti dengan label seperti “mimpi bersih” dan “masa lalu kelam” agar lebih menyita perhatian.
  • Ajak UKM dan himpunan turun tangan. Gelar aksi rutin bersih-bersih bukan karena tugas, tapi karena cinta. Jika kita benar mencintai kampus ini, bersih-bersih bukanlah beban.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri” (QS Al-Baqarah: 222). Maka bersihkanlah, bukan hanya diri, tapi juga bumi tempat kita menuntut ilmu ini.

Jangan Cuma Pinter, Tapi Harus Bener!

Menjadi mahasiswa bukan hanya soal IPK tinggi atau lolos skripsi. Tapi juga soal sikap, soal tanggung jawab, soal menghargai ruang yang jadi saksi perjuangan akademik kita. Kampus bukan tempat transit. Ia adalah rumah kedua. Maka rawatlah, jagalah kebersihan kampus seperti merawat rumahmu sendiri.

*Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *