
Daras.id – Kemenangan calon wali kota Muslim di New York menorehkan sejarah baru yang mencengangkan banyak pengamat politik. Zohran Kwame Mamdani, seorang Muslim progresif berdarah Uganda-India, sukses memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat.
Kemenangan ini bukan hanya persoalan kursi wali kota, melainkan simbol perubahan wajah politik kota terbesar di Amerika Serikat—lebih beragam, lebih progresif, dan lebih berani menantang status quo.
Dari Anak Imigran ke Arena Politik
Lahir di Kampala, Uganda, pada 1991 dari pasangan India-Uganda, Zohran Mamdani tumbuh di lingkungan diaspora yang penuh tantangan identitas. Ibunya, artis dan sineas ternama Mira Nair, dan ayahnya seorang profesor ekonomi. Ia pindah ke Amerika Serikat sejak kecil dan menjadi warga negara AS pada 2018.
Karier politik Mamdani dimulai dari bawah. Ia terpilih menjadi anggota Majelis Negara Bagian New York untuk Distrik 36 (Astoria, Queens) pada 2020, setelah mengalahkan petahana dari internal Demokrat. Sebagai bagian dari Democratic Socialists of America (DSA), Mamdani dikenal karena sikap antikorporasi, keberpihakan pada rakyat kecil, dan suara lantang membela hak Palestina.
Menang Melawan Raksasa Politik
Pemilihan pendahuluan Demokrat di New York 2025 awalnya diprediksi akan menjadi kemenangan mudah bagi Andrew Cuomo, yang mencoba comeback setelah skandal pengunduran dirinya beberapa tahun lalu. Namun, sistem ranked-choice voting justru membuka jalan bagi Mamdani. Ia menang telak setelah putaran ketiga penghitungan, dengan dukungan kuat dari pemilih muda, kelas pekerja, komunitas Muslim, Latin, dan progresif kulit putih.
Hasil akhir menunjukkan Mamdani meraih sekitar 56% suara, jauh melampaui ekspektasi banyak analis. Ini menjadi kemenangan primary paling mengejutkan dalam politik New York dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
Kemenangan calon wali kota Muslim di New York ini menjadi salah satu kejutan politik terbesar dalam sejarah kota tersebut, dan dipuji sebagai kemenangan suara rakyat atas elit politik lama.
Platform Progresif: Kota untuk Semua
Mamdani menawarkan visi kota yang sangat berbeda dari Wali Kota Eric Adams atau calon-calon sebelumnya. Di tengah krisis hunian, inflasi, dan ketimpangan, platform kampanyenya membawa program-program seperti:
- Transportasi umum gratis, dimulai dari bus kota.
- Pusat perbelanjaan kebutuhan pokok berbasis komunitas di setiap borough.
- Penghapusan biaya penitipan anak dan layanan kesehatan mental gratis.
- Pembekuan kenaikan sewa (rent freeze) dan pembangunan hunian terjangkau non-profit.
- Upah minimum $30/jam pada 2030.
- Sekolah hijau dan transisi energi bersih untuk sektor publik.
Bagi pendukungnya, Mamdani adalah suara yang membawa harapan nyata bagi mereka yang merasa tak terwakili oleh elit politik konvensional.
Simbol Perubahan Identitas Politik Amerika
Yang membuat kemenangan Mamdani begitu menggema bukan hanya platformnya, tapi siapa dia. Di negara di mana Islamofobia masih hidup dan kerap dijadikan alat politik, terpilihnya seorang Muslim imigran dengan nama seperti Zohran Kwame Mamdani adalah pernyataan keras dari pemilih New York: bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Mamdani juga dikenal lantang dalam isu-isu global. Ia secara terbuka mendukung hak rakyat Palestina, mengecam serangan Israel ke Gaza, dan mendukung tindakan hukum internasional terhadap kejahatan perang. Sikap ini membuatnya diserang habis-habisan oleh tokoh-tokoh sayap kanan AS.

Reaksi dan Kontroversi
Kemenangan Mamdani langsung menjadi sorotan nasional. Donald Trump menyebutnya sebagai “komunis” dan menyindir bahwa New York akan “dikuasai syariat.” Media konservatif memunculkan narasi bahwa ia akan “menghancurkan ekonomi kota.” Namun di sisi lain, tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez menyambut kemenangannya sebagai kemenangan rakyat.
Reaksi paling tajam datang dari lobi pro-Israel di AS yang menilai Mamdani sebagai ancaman karena dukungannya terhadap ICC (Mahkamah Pidana Internasional) dan kritiknya terhadap pemerintah Israel. Namun Mamdani menegaskan, “Membela hak asasi manusia bukan ekstremisme. Itu keadilan.”
Apa Selanjutnya?
Kemenangan di primary Demokrat bukan akhir, melainkan awal. Pemilihan wali kota akan digelar November 2025. Mamdani diperkirakan akan berhadapan dengan beberapa kandidat kuat:
- Eric Adams (wali kota saat ini), kemungkinan maju sebagai kandidat independen.
- Curtis Sliwa (Partai Republik), mantan pendiri Guardian Angels.
- Andrew Cuomo, dikabarkan mempertimbangkan maju sebagai calon independen setelah kalah di primary.
Meski demikian, mengingat dominasi Partai Demokrat di New York, peluang Mamdani untuk menang sangat besar. Kemenangan November nanti bisa menjadikannya wali kota Muslim pertama dalam sejarah New York City, dan salah satu pemimpin kota besar paling progresif di dunia.
Gelombang Perubahan?
Zohran Mamdani bukan fenomena tunggal. Di berbagai kota besar AS, calon-calon progresif mulai mendobrak dominasi politik arus utama. Dari Chicago hingga Minneapolis, muncul gerakan rakyat yang menuntut kota untuk berpihak pada keadilan sosial, lingkungan, dan ekonomi inklusif.
Jika Mamdani benar-benar menjadi wali kota, ia bisa membuka jalan bagi generasi baru pemimpin—muda, beragam, dan tak takut pada tekanan politik lama.
Kemenangan calon wali kota Muslim di New York bukan hanya cerita satu orang. Ini cerita sebuah gerakan.
Kemenangan Zohran Mamdani adalah kemenangan banyak hal:
- Kemenangan imigran dan minoritas.
- Kemenangan suara progresif di tengah polarisasi.
- Kemenangan politik yang berani berpihak tanpa ragu.
New York, kota yang selalu menjadi cermin dunia, kini memilih untuk berubah wajah. Dan dunia sedang memperhatikannya.
(Daras.id, Newsroom)







Moga mulus dan menjadi Qudwah di negeri sana