Mudik: Antara Macet, Mertua, dan Malaikat yang Sabar

Antara Mudik: ma et, mertua dan penolong Malaikat
Foto: buatan meta AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Perjalanan mudik Darma dan Lala ke Tasikmalaya tahun ini bisa dijadikan bahan uji kesabaran tingkat nasional. Mobil mereka bergerak pelan di tol Cipali, kecepatannya kalah sama kura-kura yang sedang istirahat.

“Mas, kita baru 10 kilometer dalam dua jam,” Lala mengeluh sambil menatap GPS yang seolah mengejek. “Kalau begini terus, kita sampai Lebaran tahun depan!”

Darma mengusap keringat di dahinya. AC mobil sudah maksimal, tapi panasnya tetap seperti di dalam tandoor. “Tenang, La. Ini ujian kesabaran level akhir. Kalau lulus, langsung dikasih surga… atau minimal parkir yang gak jauh dari rumah.”

Lala menyeringai. “Tadi kamu bilang mudik itu jihad. Jihadnya di mana?”

Darma menunjuk ke luar jendela. “Itu, lihat! Jihad melawan emosi saat ada mobil nyalip pakai bahu jalan terus senyum manis kayak baru menang giveaway!”

Tiba-tiba HP mereka berbunyi. Grup keluarga mengirim foto makan siang lengkap dengan caption: “Nunggu kalian nih, jangan lama-lama ya tar kue dulagnya kehabisan”

Darma merintih. “Ini mah bukan grup keluarga, ini grup psychological warfare. Foto rendangnya aja kayak ngeledekin nasgor rest area kita!”

Lala tertawa. “Gak usah iri, Mas. Nasgor kita ini special edition: nasi setengah, kornet sejauh pandang, plus bonus kerikil dari abangnya.”

***

Setelah delapan jam—yang terasa seperti delapan tahun—mereka akhirnya tiba di kampung. Mertua Darma menyambut dengan senyum lebar dan pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam dari pisau dapur.

“Darmaaa…! Kok kurusan?” sapa sang mertua sambil menepuk bahu Darma. “Kerja apa sih di kota sampe kayak kertas ujian yang dihapus terus?”

Darma berkeringat dingin. “Bukan kurus, Pak. Ini badan efisien. Maklum nurut perintah Presiden ikut program efisiensi! Biar irit baju… eh, maksudnya biar sehat! Ujarnya sambil senyum tipis”

Baca Juga:  Ketika Ramadhan Hanya Sebab

Mertuanya langsung mode stand-up comedy. “Oh, kerja freelance ya? Freelance itu kan kayak tukang bakso keliling: kadang ada order, kadang cuma ngeliatin orang makan.”

Di dalam hati, Darma bergumam, “Aduh, ini mertua kayak buzzer kelas nasi bungkus di Twitter aja. Gak ada filter!.”

Makan malam pun tiba. Piring Darma langsung ditumpuki nasi setinggi Menara Eiffel, sementara Bude-nya dengan semangat menyodorkan sambal.

“Darmaaa, kapan punya momongan?” tanya Bude. “Nih, Bude udah siapin nama: kalo laki-laki ‘Darmawan’, kalo cewek ‘Darminah’! Atau Darma Titipan”

Darma nyaris tersedak. “Bude, itu nama kayak dinasti kerajaan. Kita mah mau yang simple aja… kayak ‘Darma Jr.’ atau ‘Lala 2.0’.”

Lala langsung nyeletuk. “Atau ‘Darma Error’ biar relate sama bapaknya.”

Semua tertawa, kecuali Darma yang sibuk menghitung utang karma.

***

Hari berikutnya, giliran bagi-bagi THR. Seorang anak tetangga mendekat dengan tangan terbuka.

“Om, THR-nya jangan kayak tahun lalu ya… nominalnya mengharukan,” ujarnya polos.

Darma pura-pura bingung. “Lho, tahun lalu kan aku kasih doa biar kamu masuk PTN?”

Anak itu menjawab datar. “Iya, terus aku masuk… grup online shop.”

Darma akhirnya menambah THR si anak tetangga… tapi pakai catatan ‘Cicilan 3x’.

***

Malam terakhir di kampung, Darma duduk sendirian di teras. Lala datang membawakan secangkir kopi pahit—mirip rasanya dengan pengalaman mudik mereka.

“Mas, selama mudik ini kamu paling sering ngomong apa?” tanya Lala.

Darma merenung. “‘Alhamdulillah’ pas selamat dari macet, ‘Astaghfirullah’ pas ditanya mertua, sama ‘Innalillahi’ pas liat dompet.”

Lala tertawa, lalu suaranya melow. “Tapi serius, kita sibuk banget persiapan mudik dunia… tapi persiapan mudik akhirat udah beres belum ya?”

Baca Juga:  Kakaren Lebaran: Jejak Rasa dalam Tradisi Sunda

Darma menunduk. “Kita bisa ngitung jarak ke kampung pakai GPS, tapi jarak kita sama Allah… udah dicek belum?”

***

Pamungkas: Jangan lupa bahagia. Hidup itu hanya “Heuheuy Jeung Deudeuh”.

Mudik itu ibadah. Macetnya ujian, mertuanya kuis, tapi pulangnya harus bawa pahala, bukan cuma oleh-oleh. Jangan sampai kita pusing ngurusin THR, tapi lupa bawa amal buat ‘Tanda Hari Raya’ di akhirat nanti.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *