Website Berita dan Opini
Indeks
Budaya  

Kakaren Lebaran: Jejak Rasa dalam Tradisi Sunda

 

Oleh Noor Wahida Arifin*

Lebaran telah usai, tetapi jejaknya masih terasa. Bukan hanya dalam hati yang diliputi kebahagiaan silaturahmi, tetapi juga di meja makan yang masih menyisakan serpihan kenangan dalam bentuk “kakaren lebaran”—sisa-sisa kudapan yang setia menemani hari-hari pasca-Idulfitri.

Di Banjarsari, Ciamis, misalnya, kakaren lebaran bisa berupa opak yang telah saremplak, tinggal sepenggal, atau ranginang yang mulai kembali ke wujud asalnya, menyerupai butiran beras.

Ada pula sagon, awug, dan papais—atau yang dikenal juga sebagai bugis—yang mulai mengeras tetapi tetap menggoda selera.

Kaleng-kaleng kue yang sebelumnya penuh warna kini menyisakan kejutan: tak lagi menyajikan aneka cookies lezat, melainkan kue saroja yang mekar bagaikan bunga ros di musim semi.

Namun, bukan hanya kue-kue kering yang menyimpan cerita tentang sisa lebaran. Dalam budaya Sunda, ada pula istilah “bebeye,” yang merujuk pada makanan yang dihangatkan berulang kali agar tak lekas basi.

Sisa opor ayam, rendang, dan gulai yang terus-menerus dipanaskan setiap pagi dan sore tetap terasa nikmat, seolah-olah setiap suapan mengembalikan memori akan kehangatan hari raya.

Begitu pula dengan angkeun kacang gajih, atau sayur kacang merah kecil yang disebut kukumbu, yang semakin kaya rasa setelah berulang kali mendidih bersama besengek—campuran cabai hijau gendot dan sohun yang memberikan sensasi manis pedas tak tertandingi.

Kakaren lebaran dan bebeye bukan sekadar tradisi kuliner. Ia adalah cerminan kebijaksanaan orang-orang tua zaman dahulu, yang memahami betul bahwa makanan adalah berkah yang tak boleh disia-siakan.

Di masa lalu, kakek dan nenek kita akan menegur cucunya yang menyisakan nasi di piring. Mereka paham betapa berharganya sebutir nasi, betapa tidak eloknya membiarkan remah-remah makanan berhamburan sia-sia.

Baca Juga:  Ketika Gambar dan Video Tak Lagi Netral: Komunikasi Penyiaran dalam Sorotan Islam

Namun, zaman berubah. Kini, di hajatan atau walimahan, bukan hal aneh melihat botol air mineral dan sisa makanan yang dibuang begitu saja, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Padahal, di luar sana, masih banyak yang menahan lapar dan dahaga, mengharap seteguk air dan sejumput nasi untuk bertahan hidup.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang mubazir adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27).

Demikian pula dalam surah Al-Baqarah ayat 172, kita diajarkan untuk mensyukuri setiap rezeki yang diberikan-Nya.

Kakaren lebaran dan bebeye bukan sekadar makanan sisa, melainkan bukti nyata bagaimana leluhur kita memahami makna syukur dan keberkahan.

Maka, nikmatilah setiap suapan dengan penuh rasa terima kasih, karena di dalamnya tersimpan jejak kebersamaan, kenangan, dan kehangatan yang tak ternilai harganya.

*Penulis adalah mahasiswi KPI Tamhied Semester VI IAI PERSIS Bandung.

 

Editor Nurdin Qusyaeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *