Idul Fitri atau Idul Feed? Saat Lebaran Dikuasai Algoritma

Idul Fitri atau Idul Feed? Saat Lebaran Dikuasai Algoritma
Foto screenshot IF

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Lebaran modern kini bukan lagi soal mudik, ketupat, dan taubat—tapi soal flexing gamis rompi lepas di Reels, hampers warna-warni di Story WA, dan video tren TikTok yang bikin notifikasi meledak.

Kita semua tahu rasanya:

kalau nggak posting “Selamat Idul Fitri” dengan filter estetik, rasanya Lebaran kita nggak eksis.

Hidup? Modern?

Seolah-olah cuma sah kalau timeline penuh like dan share.

Tapi tunggu dulu—ini pesta spiritual atau kontes virtual reality?

Bangun, tuan!

Fenomena ini bukan sekadar tren receh. Ini adalah cermin retak peradaban digital kita. Lebaran perlahan berubah dari momentum kembali ke fitrah menjadi ajang kembali ke kamera.

Kita tidak lagi sibuk membersihkan hati, tapi sibuk membersihkan feed.

Kita tidak lagi takut dosa, tapi takut sepi viewer.

Dan di titik ini—tanpa kita sadari—kita sedang kehilangan sesuatu yang paling sakral: makna.

Komunikasi Digital: Flexing Lebih Keras dari Takbir

Mediatisasi Lebaran telah merampok makna ritual kita. Algoritma media sosial memaksa kita menjadi produser konten:

  • Gamis viral 2026
  • Ucapan broadcast WA yang copy-paste
  • Mudik story yang lebih penting dari peluk silaturahmi

Lebih ironis lagi—takbir yang mestinya menggema di langit, kini kalah oleh sound TikTok yang lebih viral.

Kita tak lagi berkomunikasi, tapi memproduksi persepsi.

Kita tidak lagi menyapa, tapi mengatur framing.

Kita tidak lagi hadir, tapi menampilkan kehadiran.

Dalam teori komunikasi, ini disebut hyperreality:

  • Realitas dikalahkan oleh representasi.
  • Silaturahim direkam, bukan dirasakan
  • Tangisan haru dijadikan konten, bukan kontemplasi
  • Kebahagiaan dikurasi, bukan dihayati

Pertanyaannya:

apakah kita sedang hidup, atau sedang siaran langsung tentang hidup?

Lebaran akhirnya menjadi panggung.

Dan kita semua—tanpa sadar—adalah aktor yang kelelahan menjaga citra.

Baca Juga:  Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAI PERSIS Bandung Kunjungi Peserta Tamhiedul Muballighoh PERSISTRI KBB

Filsafat Eksistensi: Like Bukan Arti Hidup

Bayangkan Sartre melihat kita hari ini:

  • “Bad faith!”—kalian sedang membohongi diri sendiri.
  • Kita merasa “ada” ketika dilihat.
  • Merasa “berarti” ketika di-like.
  • Merasa “hidup” ketika viral.

Padahal itu semua hanyalah bayangan eksistensi.

Heidegger menyebutnya sebagai keterasingan dari Dasein—keberadaan autentik manusia. Kita tidak lagi hidup sebagai diri sendiri, tapi sebagai versi yang diinginkan publik.

Menggelitik? Tidak.

Ini tragis.

Bauman menyebut zaman ini sebagai liquid modernity— segala sesuatu cair, rapuh, dan tanpa pijakan. Bahkan Lebaran pun ikut mencair:

  • Hari ini kita tampil religius
  • Besok kembali permisif
  • Hari ini minta maaf
  • Besok mengulang kesalahan yang sama

Kini eksistensi kita diukur bukan dari taubat nasuha, tapi dari traffic analytics.

Dan tanpa kita sadari, kita mengganti kalimat sakral:

“Aku berpikir maka aku ada”

menjadi:

“Aku posting, maka aku ada.”

Bangkitlah!

Jangan biarkan like menjadi “tuhan” baru yang diam-diam mendefinisikan dirimu.

Dakwah Islam: Mimbar Digital atau Jebakan Riya?

Dakwah zaman sekarang memang luar biasa:

  • reminder sholat Id di TikTok, Story WA penuh ayat motivasi, hingga tren hijrah digital anak muda.
  • Ini harapan.
  • Tapi juga jebakan.

Karena di balik itu semua, tersembunyi penyakit lama dengan wajah baru: riya digital.

Ketika:

  • Kamera lebih dulu aktif sebelum niat diluruskan
  • Konten lebih dipikirkan daripada keikhlasan
  • Estetika lebih dominan daripada esensi

Maka ibadah berpotensi berubah menjadi pertunjukan.

Kita tidak sedang berdakwah, tapi sedang branding kesalehan.

Kita tidak sedang menginspirasi, tapi sedang mencari validasi.

Padahal dalam Islam, amal tidak dinilai dari tampilannya, tapi dari niatnya.

Bukan dari viralnya, tapi dari keikhlasannya.

Masalahnya hari ini, media sosial diam-diam telah naik derajat menjadi “hakim”:

  • Menentukan mana yang dianggap baik
  • Menentukan mana yang dianggap keren
  • Menentukan mana yang dianggap “islami”
Baca Juga:  Tauhid Pembebasan dan Demokrasi di Indonesia

Jika ini dibiarkan, kita tidak lagi mengikuti nilai Islam—tapi mengikuti algoritma.

Lebaran atau Konten? Antara Dokumentasi dan Distorsi

Tidak salah mendokumentasikan momen.

Tidak haram membagikan kebahagiaan.

Tapi ketika:

Silaturahim dilakukan demi konten

Sungkeman diulang demi angle kamera

Tawa keluarga dipaksakan demi estetika

Maka yang terjadi bukan dokumentasi—melainkan distorsi.

Kita mulai kehilangan kejujuran dalam momen.

Segala sesuatu harus tampak sempurna.

Padahal Lebaran sejati justru hadir dalam ketidaksempurnaan:

  • Air mata yang tidak terencana
  • Pelukan yang tidak direkayasa
  • Maaf yang tidak difilter

Lebaranmu untuk Siapa?

Kalau Abu Nawas hidup hari ini, mungkin ia akan tertawa getir:

“Wahai manusia zaman layar, kau kirim ucapan Lebaran ke ribuan kontak— tapi lupa mengetuk pintu tetanggamu yang kesepian.”

“Kau unggah foto keluarga bahagia—tapi di meja makanmu, ada hati yang belum benar-benar memaafkan.”

“Kau bangga dengan view jutaan—tapi pernahkah kau bertanya, berapa dosa yang benar-benar kau tinggalkan?”

Sunyi.

Karena yang ditampar bukan wajah kita— tapi kesadaran kita.

Pamungkas: Matikan Layar, Nyalakan Jiwa

Saudara, ini bukan sekadar tren.

Ini adalah krisis makna.

Lebaran sedang diperebutkan:

antara esensi vs eksistensi,

antara keikhlasan vs pencitraan,

antara hati vs layar.

Matikan HP sesaat.

Tatap wajah orang tua tanpa kamera.

Peluk saudara tanpa direkam.

Minta maaf tanpa caption.

Karena bisa jadi,

Lebaran yang paling bermakna

justru yang tidak pernah diposting ke mana-mana.

Dan ingat baik-baik:

Allah tidak pernah menghitung berapa view kita—tapi Dia sangat teliti menghitung niat kita.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *