
Oleh Nurdin QusyaeriJakarta, DARAS.ID — Tangis pecah di sebuah kontrakan sempit berukuran 3×11 meter. Erlina, seorang ibu, meraung dengan suara yang membuat siapa pun tercekat: “Anak saya sudah tidak ada!” Air matanya tak terbendung, matanya bengkak, tubuhnya lelah. Ia kehilangan tulang punggung keluarga, kehilangan anak yang baru berusia 21 tahun.
Anak itu bernama Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, pekerja keras yang tiap hari menantang panas dan hujan demi memberi makan tujuh anggota keluarganya. Tapi, malam 28 Agustus 2025, hidupnya direnggut bukan oleh sakit, bukan oleh ajal alami, melainkan oleh roda besi kendaraan taktis Brimob yang melindas tubuhnya di tengah demonstrasi di Jakarta Pusat. Affan sempat dilarikan ke RSCM, tapi nyawanya tak tertolong.
Esoknya, 29 Agustus, jenazah Affan dimakamkan di TPU Karet Bivak. Ribuan pengemudi ojol mengawal dengan jaket hijau yang basah air mata. Tapi langkah paling berat bukanlah iring-iringan itu—melainkan langkah sang ibu menuju pusara. Setiap sekop tanah yang menutup jenazah Affan, adalah tusukan baru di jantungnya.
Kapolri memang datang, meminta maaf, memeluk keluarga. Tapi apa arti maaf itu ketika seorang ibu kini hanya bisa memeluk bantal kosong di malam hari? Apa arti kata “usut tuntas” ketika anaknya sudah terkubur di tanah? Erlina tidak butuh janji. Ia butuh anaknya hidup kembali—sesuatu yang tidak bisa dikembalikan negara mana pun di dunia.
Tangis seorang ibu lebih jujur dari pidato presiden, lebih keras dari sirine polisi, lebih tajam dari berita-berita resmi. Dan ketika negara membuat seorang ibu menjerit seperti itu, sejatinya negara sudah gagal.
Polri selalu mengulang jargon: mengayomi, melayani, melindungi. Tapi fakta yang kita saksikan justru sebaliknya—rakyat kecil menjadi korban, dilindas bukan hanya oleh roda besi, tapi juga oleh arogansi kekuasaan. Maka wajar bila publik bertanya:
Masihkah Polri layak dipercaya rakyat?
Sampai kapan rakyat kecil harus jadi korban? Sampai kapan negara akan terus melindas nyawa-nyawa tak berdosa?
Affan Kurniawan telah pergi. Tapi tangis ibunya tak akan pernah berhenti. Tangis itu kini menjadi suara kita semua, jeritan nurani bangsa yang berkata:
Cukup. Jangan ada lagi Affan-Affan berikutnya. Jangan lagi negara melindas rakyatnya sendiri.
Wallahu’alam






