
Oleh Nurdin Qusyaeri
Tidak ada yang abadi. Segalanya berkesudahan. Dunia ini hanya panggung sementara, di mana setiap adegan memiliki awal dan akhir.
Setiap rasa, setiap peristiwa, setiap detik yang kau alami hanyalah serpihan waktu yang berlalu, tak dapat diulang.
Kesedihan yang kini menggenggam jiwamu dengan erat, yang membuat dadamu sesak dan matamu basah, percayalah, ia akan berlalu.
Sesakit apapun luka yang kini kau tanggung, ia akan mereda. Tidak ada awan mendung yang selamanya menutupi langit.
Luka itu akan menjadi kenangan, menjadi jejak yang menguatkan, meski saat ini kau merasa terpuruk di titik paling gelap.
Begitu pula dengan kebahagiaan. Tawa yang menghiasi harimu, gemerlap pencapaian yang membuatmu melambung tinggi, semua itu pun tidak akan abadi.
Jangan terbuai dalam euforia berlebihan, sebab waktu akan terus berjalan, menguji dengan kesunyian yang datang tiba-tiba.
Heraklitus pernah berkata, “Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan.” Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat sementara.
Bukankah ombak yang menghempas karang pun akhirnya reda?
Bukankah bunga yang mekar sempurna pada masanya akhirnya gugur ditiup angin?
Ketidakkekalan ini bukan untuk membuatmu takut, melainkan mengajarkan kebijaksanaan.
Bahwa dalam sedih, kamu tetap harus optimis, sebab itu hanya sementara.
Dalam bahagia, kamu harus tetap rendah hati, sebab itu pun akan berlalu.
Jangan berlebihan dalam mencintai, jangan berlebihan dalam membenci, karena setiap rasa akan menemukan ujungnya.
Hiduplah dengan seimbang. Syukuri tiap momen, baik yang pahit maupun manis, karena keduanya adalah bagian dari perjalanan.
Jika hari ini kamu merasa terpuruk, yakini bahwa esok akan ada cahaya.
Jika hari ini kamu merasa di puncak, ingatlah bahwa hidup adalah siklus yang berputar.
Maka, saat kesedihan datang, terimalah dengan lapang.
Saat kebahagiaan menghampiri, genggamlah dengan syukur.
Sebab pada akhirnya, yang benar-benar abadi hanyalah perubahanitu sendiri. Wallahu’alam






