
Banjaran, Daras.id – Di tengah derasnya arus zaman dan tantangan umat yang kian kompleks, Persatuan Islam (Persis) Desa Tarajusari meneguhkan kembali akar pergerakannya melalui Musyawarah Ranting Munggaran pada 27 Juli 2025, yang dilaksanakan di Madrasah Al-Furqon, Kampung Cipeundeuy RW 06, di bawah naungan Pimpinan Cabang (PC) Persis Banjaran.
Dengan tema “Pererat Ukhuwah, Kuatkan Aqidah”, acara ini bukan sekadar agenda administratif organisasi. Lebih dari itu, ini adalah momentum spiritual dan jam’iyah untuk memperkuat simpul-simpul persatuan serta menjadikan aqidah sebagai fondasi utama dalam menjalani hidup berorganisasi dan bermasyarakat.
Musyawarah dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Enang Ucu Kurnia, yang disusul dengan lagu Indonesia Raya dan Mars Persis—sebuah simbol kuat bahwa Persis tidak hanya hadir sebagai ormas keagamaan, tetapi juga sebagai bagian integral dari bangsa ini.
Ketua panitia, Rudi Kusnadi, melaporkan bahwa musyawarah ini dihadiri oleh seluruh unsur Persis dan otonom se-Desa Tarajusari. Ia mengapresiasi semangat gotong royong warga dan dukungan para pengusaha lokal yang memungkinkan acara ini berjalan secara mandiri.
Tak hanya seremoni, musyawarah ini mengukir sejarah dengan dibacakannya Surat Keputusan No. 149/J-009-C.1/I.02/2025 oleh Sekretaris PD Persis Kabupaten Bandung, Ustadz Yosef Azhar Nugraha, S.Pd.I., sebagai bentuk legalitas jam’iyah atas pembentukan Pimpinan Ranting Persis Tarajusari.
Dalam sambutan penuh semangat dan nilai kebangsaan, Wakil Ketua II PD Persis Kabupaten Bandung, Ustadz Eeng Hendi, S.Ag., menegaskan bahwa Persis sejak awal berdirinya telah menjadi bagian dari sejarah bangsa. Ia mengingatkan bahwa Persis bukan ormas baru, melainkan pendiri narasi keumatan dan kebangsaan sejak 1923. Bahkan, dengan nada canda ia menyebut, “Saudara sepupunya saja, Persib Bandung, lahir 1933, lebih muda dari Persis!”
Ustadz Eeng juga menyampaikan bahwa dinamika di PC Persis Banjaran mencerminkan organisasi yang hidup dan tidak statis. Ia menyitir bahwa akar sejarah Ketua PC Persis Banjaran juga berasal dari Cipeundeuy, yang kini kembali menjadi titik awal perjuangan baru—ibarat juara bertahan yang hendak mencetak sejarah back to back.

Dalam sidang pleno yang dipimpin oleh Ustadz Anang Suryana, M.Si., dan Ustadz Ahmad Aminudin, Rudi Kusnadi terpilih sebagai Ketua Pimpinan Ranting Persis Tarajusari dengan 27 dari 49 suara. Dua tokoh lainnya, Aah Sutisna dan E. Kosasih, terpilih sebagai penasehat. Prosesi pelantikan dilakukan oleh Ketua PC Persis Banjaran atas mandat dari PD Persis Kabupaten Bandung, disaksikan oleh musyawirin, pemerintah desa, dan jajaran tasykil cabang.
Ketua PC Persis Banjaran, H. D. Pandi, dalam taujih-nya mengingatkan bahwa musyawarah adalah perintah Allah (QS. Ali Imran: 159), sunnah Rasulullah, dan kewajiban jam’iyah. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan musyawarah harus dijadikan amal shalih. Lebih lanjut, ia mengamanatkan kepada bidang pengembangan jam’iyah untuk membina ranting ini agar menjadi bagian dari bangunan besar Persis yang saling menguatkan, seperti potongan batu bata yang saling menopang.
Dengan gaya khasnya, H. D. Pandi mengutip pesan almarhum Ustadz Sidiq Amin: “Jadi anggota Persis itu bukan ngaleut, tapi baris!”—mengingatkan bahwa keberorganisasian harus tertib, bukan sekadar ikut-ikutan.

Ia juga menekankan pentingnya makna tema musyawarah: ukhuwah dan aqidah. Ukhuwah yang jujur, adil, dan penuh ta’awun hanya bisa tumbuh jika aqidah ditanamkan secara kokoh. “Kami sekarang sedang menggiatkan tadarus aqidah ke tiap jama’ah, sebab aqidah itu fondasi. Jika kuat, insyaAllah bangunan keislaman dan kejam’iyahan akan kokoh dan bermanfaat,” ujarnya.
Pada akhirnya, musyawarah ini menjadi langkah awal yang penuh harapan. Sebuah ranting pertama yang bukan hanya menjalankan prosedur organisasi, tetapi menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan berjam’iyah. Tarajusari hari ini bukan sekadar mencetak sejarah, tetapi sedang menanam pohon peradaban—berakar di bumi, menjulang ke langit. “Karena Persis bukan hanya organisasi, tapi jalan perjuangan untuk menguatkan iman dan membangun peradaban.”
(Acil)






