
DARAS.ID – Gelombang protes mahasiswa global menuntut universitas di berbagai negara memutus hubungan finansial dengan perusahaan yang terlibat dalam industri pertahanan Israel terus meluas. Tuntutan ini terutama diarahkan pada institusi akademik yang memiliki investasi dalam perusahaan-perusahaan seperti Boeing, Lockheed Martin, Raytheon, hingga Palantir Technologies.
MIT: Pidato Pro-Palestina Berujung Sanksi
Di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Megha Vemuri, presiden kelas tahun 2025, dilarang mengikuti upacara kelulusan setelah menyampaikan pidato yang menyinggung dukungan kampus terhadap Israel. Vemuri menyebut MIT menerima $2,8 juta dari lembaga Israel antara 2020 hingga 2024. Ia menyerukan agar MIT memutus hubungan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza.
Universitas Melbourne: Ancaman Skorsing terhadap Aktivis
Empat mahasiswa Universitas Melbourne menghadapi kemungkinan sanksi setelah melakukan aksi menduduki kantor akademisi yang memiliki afiliasi dengan Universitas Ibrani Yerusalem. Mereka menuntut kampus memutus kerja sama akademik dan investasi dengan lembaga Israel.
Stanford: Mogok Makan Tuntut Divestasi
Di Stanford University, puluhan mahasiswa memulai mogok makan sejak 12 Mei 2025. Mereka menuntut kampus mencabut investasi dari perusahaan yang terlibat dalam suplai senjata ke Israel. Meskipun aksi berlangsung damai, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak kampus.
Cambridge: Mahasiswa Dirikan Kamp Protes
Mahasiswa Universitas Cambridge di Inggris mendirikan kamp protes di Trinity College, mendesak universitas menghentikan investasi dalam perusahaan yang memasok persenjataan ke Israel. Mereka juga menuntut pemberian beasiswa untuk mahasiswa Palestina.
Universitas San Francisco: Divestasi Setelah Tekanan Mahasiswa
Universitas San Francisco (USF) menjadi salah satu dari sedikit kampus yang mengabulkan tuntutan mahasiswa. Setelah 18 bulan tekanan, USF memutuskan untuk menarik dana dari perusahaan yang terkait dengan industri pertahanan, termasuk Palantir dan RTX Corporation.
Fenomena protes mahasiswa global mencerminkan kembalinya peran kampus sebagai ruang moral dan politik. Meskipun menghadapi represi dan sanksi, mahasiswa terus bersuara menuntut pertanggungjawaban institusi akademik dalam konflik global. Gelombang solidaritas ini memperlihatkan bagaimana generasi muda memaksa dunia pendidikan untuk bersikap etis dan tidak lagi netral terhadap ketidakadilan.






