
Oleh Puji Purwati, M.Ag*
Keistimewaan Ramadhan tidak hanya terletak pada kewajiban ibadah shaum saja, tetapi juga pada relasinya yang erat dengan Al-Qur’an. Tidaklah kebetulan jika Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.
Dalam perspektif Al-Qur’an, Ramadhan adalah momentum turunnya wahyu yang berfungsi sebagai petunjuk hidup manusia.
Oleh karena itu, Ramadhan dapat dipahami sebagai ruang pendidikan ruhiyah, sedangkan Al-Qur’an merupakan kurikulum utama yang membimbing prosesnya. Allah Swt. berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa fungsi utama Al-Qur’an adalah sebagai hudā li al-nās (petunjuk bagi manusia. Kata hudā menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi sebagai bimbingan yang menuntun manusia dalam seluruh dimensi kehidupannya, baik aspek aqidah, ibadah, hukum, muámalah, maupun akhlak.
Dalam konteks ini, Al-Qur’an dapat dipahami sebagai kurikulum kehidupan yang memuat nilai, prinsip, dan orientasi yang membentuk kepribadian manusia beriman.
Sebagai kurikulum kehidupan, Al-Qur’an mendidik manusia menjadi Insan kamil. Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, tetapi juga membimbing hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesama. Nilai-nilai kesabaran, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial merupakan bagian integral dari ajaran Al-Qur’an.
Melalui internalisasi nilai-nilai tersebut, Al-Qur’an membentuk cara pandang manusia terhadap makna kehidupan dan tujuan keberadaannya.
Bulan Ramadhan menjadi momentum istimewa untuk menghidupkan kembali fungsi Al-Qur’an sebagai kurikulum kehidupan. Praktik ini sejalan dengan teladan Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan dalam hadis:
كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Jibril menemui Nabi saw. setiap malam di bulan Ramadhan, lalu mengajarkan dan mengkaji Al-Qur’an bersama beliau.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan waktu yang secara khusus didedikasikan untuk memperkuat interaksi dengan Al-Qur’an.
Kata yudārisuhu al-Qur’an menunjukkan adanya proses pembelajaran yang bersifat aktif, yaitu membaca, mengkaji, dan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an. Hal ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah saatnya meningkatkan kualitas dan kuantitas Interaksi terhadap Al-Qurán.
Lebih jauh, Saat dalam kondisi shaum di bulan Ramadhan tercipta kondisi spiritual yang kondusif bagi proses internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an.
Shaum melatih pengendalian diri, dan kesadaran akan pentingnya ibadah, dalam kondisi tersebut, manusia menjadi lebih siap untuk menerima bimbingan Al-Qur’an.
Oleh karena itu, hubungan antara Ramadhan dan Al-Qur’an bukan sekadar hubungan historis turunnya wahyu, tetapi juga hubungan fungsional sebagai sarana pendidikan ruhiyah yang membentuk ketakwaan.
*Penulis adalah sekretaris prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI PERSIS Bandung






