Foto Disway: Gus Miftah
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di tengah hiruk-pikuk kontroversi ungkapan “jualan es teh lebih mulia dari jualan agama” yang disampaikan Gus Miftah, diskusi ini meluas ke persoalan moral, etika, dan bahkan makna gelar Gus. Apakah ungkapan ini hanyalah retorika kosong, atau menjadi pemantik aksi nyata? Dan siapa sebenarnya pahlawan di balik perubahan hidup Sunhaji, si penjual es teh yang viral?
Ketika Orang Bodoh Diberi Panggung
Ungkapan viral tersebut menyulut diskusi tentang peran figur publik, termasuk mereka yang diberi panggung untuk bicara soal agama.
Dalam hadis Nabi SAW, disebutkan bahwa di akhir zaman akan muncul orang-orang yang sebenarnya tidak memahami ilmu tetapi diamanahi urusan umat. Mereka sombong dalam kedunguan, merasa mampu meskipun kenyataannya tidak.
Gelar Gus, yang secara tradisional diberikan kepada putra seorang Kyai alim, kini sering kali kehilangan esensinya. Di era digital, ada Gus yang sebenarnya bukan berasal dari garis keturunan Kyai, tetapi anak media.
Namanya besar karena pemberitaan, bukan karena ilmu atau kontribusi nyata. Gelar Gus yang mulia ini, seperti yang disadur dari NU Online, semestinya mencerminkan adab, ilmu, dan pengabdian.
Sayangnya, gelar ini terkadang tercampur dengan perilaku yang kontradiktif—antara memuji dan menghina di depan publik.
Polemik Gus Miftah dan Dampaknya
Kembali ke Gus Miftah, ucapannya tentang penjual es teh memicu gelombang solidaritas sosial yang melibatkan banyak pihak. Meski bernada kontroversial, efeknya nyata. Salah satu tokoh yang bergerak adalah Willie Salim, yang langsung bertolak ke Magelang untuk memberikan bantuan kepada Sunhaji.
Willie tidak hanya membawa segepok uang Rp100 juta, tetapi juga harapan baru bagi Sunhaji:
- Membuka usaha warung agar tidak perlu berkeliling.
- Membayar tunggakan uang sekolah anak-anaknya.
- Memberangkatkannya ke tanah suci untuk umrah.
Aksi nyata ini menunjukkan bagaimana kritik bisa menjadi katalis perubahan. Dalam pandangan filsafat moral ala utilitarianisme, tindakan Willie membawa kebahagiaan terbesar untuk Sunhaji dan keluarganya. Namun, apakah itu membuat Gus Miftah sebagai pahlawan?
Gelar, Moral, dan Pahlawan Sejati
Pertanyaan ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang makna pahlawan. Gus Miftah mungkin memulai percakapan, tetapi tindakan nyata seperti yang dilakukan Willie Salim-lah yang mengubah hidup Sunhaji. Sebuah ungkapan bijak berbunyi, “Orang besar diukur dari perbuatannya, bukan gelarnya.”
Karl Marx pernah menyebut agama sebagai candu masyarakat, terutama ketika digunakan sebagai alat manipulasi. Sementara itu, Kierkegaard menekankan pentingnya keimanan yang personal dan tindakan nyata.
Dalam konteks ini, jualan agama yang kosong hanya akan menambah skeptisisme publik, sementara jualan es teh menjadi simbol dari usaha yang jujur dan berdaya nyata.
Akhir Qalam: Gus dan Panggung Kehidupan
Gus sejatinya adalah gelar mulia yang mencerminkan ilmu dan adab. Namun, ketika gelar ini jatuh ke tangan mereka yang lebih besar karena media, nilainya bisa tereduksi. Sebaliknya, aksi nyata seperti yang dilakukan Willie Salim menjadi bukti bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang berbuat, bukan hanya berbicara.
Pertanyaannya, apakah Gus Miftah pahlawan karena ucapannya? Atau apakah pahlawan sejati adalah mereka yang bergerak di belakang layar, seperti Willie Salim? Mari kita belajar bahwa gelar, status, atau popularitas bukanlah ukuran.
Karena pada hakikatnya, pahlawan adalah mereka yang mampu mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik, dengan atau tanpa panggung. Wallahu’alam





