
Oleh Nurdin Qusyaeri
Pernyataan Dr. Tifauzia Tyassuma, atau yang lebih dikenal sebagai dr. Tifa, seorang dokter sekaligus ahli saraf nutrisi dengan latar belakang pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Ph.D. dalam Molecular Epidemiology dari Universitas Indonesia (UI), mengingatkan dunia pada ancaman serius kesehatan global: Multipandemi 2025.
Dalam pernyataannya yang diunggah di platform X (dahulu Twitter) melalui akun resminya, @DokterTifa, dr. Tifa mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi merebaknya berbagai penyakit infeksi akibat virus sintetis yang diduga hasil rekayasa laboratorium.
Pandemi COVID-19 yang sempat mereda, menurutnya, hanya awal dari rangkaian ancaman kesehatan yang lebih kompleks.
Sejak 2020, munculnya Monkey Pox yang menyebar di 35 negara, pneumonia yang menyerang anak-anak, hingga virus H5N1 dan H1N1 yang dikenal sebagai flu burung.
Hal diatas telah menjadi sinyal bahwa dunia sedang menghadapi situasi multipandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Virus Sintetis dan Dugaan Rekayasa Laboratorium
Dr. Tifa secara terbuka menyatakan bahwa virus-virus yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir bukanlah fenomena alami semata, melainkan hasil dari rekayasa laboratorium yang kompleks.
Istilah “virus sintetik” yang digunakannya merujuk pada patogen hasil modifikasi genetik yang diduga dilepaskan secara sistematis.
Human Metapneumovirus (HMPV) yang tiba-tiba muncul dan meledak di China pada akhir 2024 menjadi contoh nyata yang menurutnya menegaskan pola ini.
Pernyataan ini tentu memunculkan kekhawatiran besar terkait biosecurity global dan transparansi dalam riset virologi.
Jika benar ada praktik modifikasi virus di laboratorium dengan motif tertentu, implikasinya dapat mengguncang stabilitas kesehatan dunia.
Vaksinasi dan Penyakit Akibat Vaksin
Dr. Tifa juga menyoroti fenomena Vaccine Induced Disease (VID) atau penyakit yang dipicu oleh vaksinasi.
Menurutnya, beberapa wabah yang muncul belakangan, termasuk polio di berbagai negara, dapat dikaitkan dengan dampak jangka panjang dari vaksinasi yang tidak terkontrol dengan baik.
Ini adalah pernyataan yang membutuhkan kajian lebih dalam, mengingat manfaat vaksin yang selama ini menjadi benteng utama melawan penyakit menular.
Namun, perlu dicatat bahwa wacana ini bersifat kontroversial di kalangan ilmiah.
Mayoritas komunitas medis dan badan kesehatan global seperti WHO masih mendukung vaksin sebagai langkah perlindungan kesehatan publik yang terbukti efektif.

Tantangan Bioetika dan Transparansi Riset Kesehatan
Jika apa yang disampaikan dr. Tifa benar adanya, maka dunia menghadapi tantangan bioetika yang serius.
Pengembangan virus di laboratorium dengan potensi penyebaran yang masif mengarah pada pelanggaran prinsip dasar riset kesehatan, yakni untuk melindungi kehidupan, bukan mengancamnya.
Transparansi dalam riset virologi serta regulasi ketat terhadap eksperimen berbasis gain-of-function perlu ditegakkan secara global.
Mengapa Kita Harus Waspada?
Pernyataan dr. Tifa, meskipun kontroversial, mengingatkan kita bahwa kesiapsiagaan menghadapi pandemi di masa depan sangat krusial.
Multipandemi dengan munculnya beragam virus yang tidak lazim menuntut sistem kesehatan yang lebih adaptif, edukasi kesehatan yang merata, dan kolaborasi global dalam pencegahan penyakit menular.
Buku yang ditulis oleh dr. Tifa, Pandemi Pembelah Peradaban (PPP), menjadi salah satu bentuk dokumentasi penting dalam membahas ancaman ini secara mendalam.
Namun, penting bagi masyarakat untuk tetap mengacu pada informasi berbasis riset ilmiah yang terverifikasi serta bersikap kritis dalam menyikapi klaim yang belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh komunitas medis global.
Kewaspadaan tanpa kepanikan, serta keseimbangan antara sains, etika, dan kebijakan publik, menjadi kunci dalam menghadapi potensi ancaman pandemi di masa depan.
Dunia perlu bersatu, bukan hanya dalam melawan virus, tetapi juga melawan disinformasi yang dapat memperkeruh situasi krisis kesehatan global. Wallahu’alam






