PPP Akhirnya Satu Kiblat, Satu Ka’bah

PPP Akhirnya Satu Kiblat, Satu Ka’bah
Foto: Laman Twitter PPP

Oleh Nurdin Qusyaeri

Akhirnya, mukjizat politik itu datang juga. Setelah bertahun-tahun Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tampil seperti sinetron “Dua Ka’bah Satu Cinta”, kini episode panjang itu resmi tamat. Ending-nya manis, tapi tetap terasa getir bagi mereka yang terbiasa menikmati aroma konflik di panggung politik hijau ini.

Dalam unggahan resmi PPP di laman X (Twitter), kalimat pembuka mereka terdengar seperti azan persatuan:

“KITA ADALAH PPP — Saatnya kita satukan langkah, kuatkan barisan, dan perjuangkan kembali cita-cita besar para pendiri partai untuk umat dan bangsa.”

#PPPBersatu #UntukUmatDanBangsa!

Slogan itu bukan sekadar seruan moral, tapi deklarasi damai setelah drama panjang dua kubu yang saling mengklaim keabsahan kepemimpinan. Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, akhirnya menutup babak pertikaian ini dengan selembar SK sakti yang lebih menenangkan dari khutbah Jumat di tengah musim kampanye.

Baca Juga:  Ketika Petro Menantang Hegemoni: Pidato Berani, Visa Dicabut, Dunia Terbelalak

Dalam SK tersebut, H. Muhammad Mardiono ditetapkan sebagai Ketua Umum DPP PPP masa bakti 2025–2030, H. Agus Suparmanto menjadi Wakil Ketua Umum, KH. Taj Yasin Maimoen dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal, dan H. Imam Fauzan Amir Uskara sebagai Bendahara Umum.

Struktur baru ini seperti rumah yang akhirnya rampung direnovasi setelah sekian lama atapnya bocor dan temboknya retak karena dualisme.

Pendukung PPP pun bersorak, sebagian bahkan sujud syukur. “Akhirnya satu kiblat, satu Ka’bah!” seru mereka. Tapi di sudut warung kopi, para penikmat drama politik menatap kosong: hiburan mingguan mereka resmi usai. Tak ada lagi adu klaim, tak ada lagi saling tuding soal legalitas muktamar. Seperti sinetron favorit yang dipaksa tamat, mereka hanya bisa berkata, “Lho, kok akur?”

Mardiono, dalam konferensi persnya, menegaskan semangat rekonsiliasi bukan basa-basi. Ia berjanji akan merangkul semua faksi melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PPP. Bahkan nama Romahurmuziy (Romy) pun disebut kembali ke orbit politik partai ini. “Bukan opsi, tapi keharusan,” kata Mardiono.

Sebuah sinyal bahwa PPP tengah berusaha menata ulang kekuatan lamanya, menyatukan semua elemen yang dulu sempat tercerai-berai.

Baca Juga:  Partai Politik dan Jurang Kepercayaan Publik Menurut Survei IPO Mei 2025

Sementara itu, Agus Suparmanto, rival lama yang kini duduk di samping Mardiono, tampil tenang dan tersenyum. Dulu mereka berdiri di kubu berlawanan, kini satu barisan.

Senyum mereka mungkin menyiratkan makna “ayo kita damai, tapi jangan rebut mikrofon.” Sebuah bahasa tubuh khas politisi: damai di depan kamera, tawar-menawar di belakang layar.

Namun di balik semua canda dan satire politik, peristiwa ini sebenarnya menyimpan pelajaran penting. Politik sejati bukanlah tentang siapa yang paling keras berdebat atau paling kuat menggenggam jabatan. Ia tentang siapa yang paling ikhlas menundukkan ego demi persatuan.

PPP telah membuktikan, perbedaan yang dulu memecah belah ternyata bisa dijembatani oleh niat baik dan kesadaran bersama akan tanggung jawab terhadap umat dan bangsa.

Ketika satu partai yang dilambangkan Ka’bah itu akhirnya bersatu kembali, mereka sejatinya sedang memberi contoh bahwa politik bukan hanya tentang perebutan kursi, tapi tentang perjuangan menegakkan nilai — nilai Islam, persaudaraan, dan keberkahan.

Kini, partai berlambang Ka’bah itu menatap Pemilu 2029 dengan satu arah, satu barisan, dan (semoga) satu hati. Tidak ada lagi dua Ka’bah, dua komando, dua legitimasi.

Untuk malam ini, biarlah para kader PPP tidur dengan tenang. Setelah sekian lama berjalan dalam dua arah, akhirnya mereka menemukan satu kiblat. Satu Ka’bah, satu tekad: untuk umat dan bangsa.

Dan semoga, bubur hijau PPP kali ini tidak diaduk lagi.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *