
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di negeri ini, kebenaran tidak lagi lahir—
ia diproduksi.
Tidak tumbuh dari pencarian—
ia dipesan.
Dan, barangkali yang paling menyedihkan,
ia tidak lagi diperjuangkan—
ia disewa harian.
Selamat datang di Republik Buzzer.
Sebuah negeri yang bising, tetapi sepi makna.
Ramai oleh suara, tetapi miskin kejujuran.
Babak Pertama: Teater Tanpa Naskah (atau Terlalu Banyak Naskah?)
Di republik ini, politik bukan lagi soal kebijakan.
Ia telah naik kelas—menjadi pertunjukan.
Ada aktor.
>Ada panggung.
>Ada penonton.
Dan tentu saja, ada dalang.
Publik duduk manis, menonton dengan khidmat, sambil sesekali berdebat di kolom komentar, seolah-olah mereka bagian dari penulis skenario. Padahal, naskahnya sudah selesai sebelum kita sempat berpikir.
Kita hanya diberi ilusi partisipasi.
Dan buzzer?
Mereka adalah pemandu sorak sekaligus penulis ulang cerita.
Kalau cerita tidak sesuai selera, mereka tinggal edit.
Kalau fakta tidak mendukung, mereka tinggal framing.
Babak Kedua: Kebenaran Versi “Katanya”
Di republik ini, kata “katanya” lebih sakti daripada data.
“Katanya ada skandal.”
“Katanya media disetir.”
>“Katanya ini fakta yang disembunyikan.”
Aneh, ya.
Semakin tidak jelas sumbernya, semakin kuat pengaruhnya.
Mungkin karena kita sudah terlalu lelah dengan fakta yang dingin dan kaku. Kita lebih suka cerita yang hangat, meskipun setengah benar.
Di titik ini, saya jadi teringat pada Jean Baudrillard—yang pernah bilang bahwa manusia modern hidup dalam simulasi.
Tapi sepertinya beliau pun tidak menyangka bahwa di negeri ini, simulasi bisa lebih laris daripada realitas.
Babak Ketiga: Hoaks adalah Senjata, Bukan Masalah
Lucunya, di republik buzzer, semua orang anti-hoaks.
Tapi hoaks tetap hidup. Subur. Bahkan berkembang biak.
Kenapa?
Karena hoaks bukan lagi masalah.
Ia telah berubah menjadi alat.
Menuduh lawan sebagai penyebar hoaks adalah cara tercepat untuk terlihat benar, tanpa harus repot-repot membuktikan apa pun.
Logikanya sederhana:
Kalau lawan salah, maka saya pasti benar.
Ini bukan debat.
Ini sulap.
Babak Keempat: Rahasia yang Terlalu Terbuka
Ada satu genre favorit di republik ini: “rahasia yang dibocorkan”.
Biasanya diawali dengan kalimat sakral:
“Saya punya data, tapi belum bisa saya buka semuanya…”
Ajaib.
Data yang tidak dibuka justru lebih dipercaya daripada data yang transparan.
Publik dibuat penasaran.
Dikasih setengah.
Ditahan setengah.
Seperti sinetron tanpa tamat—
bedanya, ini bukan hiburan. Ini realitas kita.
Babak Kelima: Bahasa yang Sengaja Dibikin Tidak Jelas
Kalau Anda tidak paham, jangan khawatir.
Itu memang tujuannya.
Di republik buzzer, bahasa bukan untuk menjelaskan.
Bahasa digunakan untuk mengaburkan.
Kode. Singkatan. Istilah aneh.
Semakin tidak jelas, semakin terlihat “dalam”.
Seolah-olah kebenaran itu eksklusif.
Hanya untuk mereka yang “melek”.
Padahal seringkali, bukan kita yang tidak paham—
memang tidak ada yang bisa dipahami.
Babak Keenam: Publik yang Terpecah, Tapi Merasa Paling Benar
Di republik ini, semua orang punya kebenaran sendiri.
Dan yang lebih hebat, semua yakin bahwa kebenarannya paling benar.
Media dianggap bohong.
Buzzer dianggap jujur.
Atau sebaliknya.
Tergantung kita berdiri di mana.
Dalam kondisi ini, saya teringat pada Jürgen Habermas, yang membayangkan ruang publik sebagai tempat dialog rasional.
Maaf, Pak Habermas.
Sepertinya konsep itu sedang cuti panjang di negeri kami.
Di sini, yang rasional kalah oleh yang emosional.
Yang faktual kalah oleh yang viral.
Epilog: Kita Sedang Menertawakan Apa?
Mungkin yang paling ironis adalah ini:
kita menertawakan semua ini.
Kita share.
>Kita komen.
>Kita debat.
Sambil merasa paling sadar.
Padahal bisa jadi, kita bukan penonton—
kita bagian dari pertunjukan.
Dan buzzer tidak perlu bekerja terlalu keras,
karena kita sudah ikut menyebarkan.
Pamungkas: Kebenaran atau Kenyamanan?
Akhirnya, pertanyaan paling jujur bukan lagi:
“Mana yang benar?”
Tetapi:
“Mana yang ingin kita percayai?”
Karena di republik buzzer,
kebenaran bukan lagi soal fakta—
tetapi soal selera.
Dan ketika kebenaran sudah menjadi selera,
maka demokrasi tinggal menunggu waktu
untuk berubah menjadi sekadar… hiburan.
Wallahu’alam






