Ketika Petro Menantang Hegemoni: Pidato Berani, Visa Dicabut, Dunia Terbelalak

Ketika Petro Menantang Hegemoni: Pidato Berani, Visa Dicabut, Dunia Terbelalak
Foto Screenshot

Oleh Nurdin Qusyaeri

Amerika Serikat akhirnya mencabut visa Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Tapi alih-alih tunduk, Petro justru menjawab dengan kalimat yang menggema di telinga dunia:

“Saya tidak lagi memiliki visa untuk bepergian ke Amerika Serikat. Saya tidak peduli, dan saya tidak membutuhkannya. Saya sungguh-sungguh menganggap diri saya orang bebas di dunia ini.”

Inilah suara pemimpin yang menolak bertekuk lutut di hadapan tirani. Visa hanyalah selembar kertas, sementara kebebasan adalah jiwa. Petro seolah ingin mengatakan: hegemoni AS bisa mencabut dokumen perjalanan, tetapi tidak akan pernah mencabut keberanian seorang manusia merdeka.

Baca Juga:  Pidato Lengkap Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB ke-80, Komitmen Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Pidato Api di Sidang PBB

Petro bukan sekadar mengkritik. Di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, 25 September 2025, ia mengguncang tatanan diplomasi dunia. Kata-katanya bagaikan palu godam yang menghantam kebisuan:

  • “Genosida di Gaza adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, dan para pelakunya harus diadili serta dihukum.”
  • “PBB adalah kaki tangan genosida dan veto AS harus dihapus!”
  • “Tidak ada ras paling unggul, tidak ada bangsa pilihan Tuhan. Tidak AS, tidak IsraHell.”

Dalam satu tarikan nafas, Petro bukan hanya membongkar kebusukan genosida, tetapi juga menelanjangi wajah asli lembaga internasional yang sering berlindung di balik jargon “perdamaian dunia.”

Diplomat Turun ke Jalan

Yang membuat Petro berbeda adalah keberaniannya menyatukan kata dan perbuatan. Ia tidak berhenti pada podium. Ia ikut berbaris bersama ribuan demonstran di New York, menyambut kedatangan Benjamin Netanyahu dengan gelombang protes. Adegan seorang presiden negara berdiri sejajar dengan rakyat di jalan raya—itulah simbol perlawanan yang jarang kita saksikan dalam diplomasi modern.

Netanyahu boleh berbicara di Majelis Umum PBB, tapi suaranya tertutup sorak-sorai dingin dari rakyat dunia yang marah. Dunia menyaksikan kontras: seorang perdana menteri datang dengan senjata diplomasi negara adidaya, sementara seorang presiden Amerika Latin datang dengan moral dan keberanian.

Hegemoni Retak, Selatan Global Bangkit

Pidato Petro tak hanya soal Palestina. Ia mengirim pesan kepada seluruh negara Selatan Global: jangan tunduk. Jangan biarkan NATO dan AS mendikte jalan sejarah. Petro bahkan menyerukan pembentukan pasukan internasional untuk membebaskan Palestina dan melawan totalitarianisme global.

Seruan ini mungkin terdengar utopis, tetapi dalam dunia yang haus pemimpin berani, suara Petro menjadi api yang menyalakan lilin-lilin perlawanan.

Visa Sebagai Simbol Ketakutan AS

Pencabutan visa hanyalah simbol. Bukan kekuatan AS yang tampak, melainkan ketakutannya. Ketakutan terhadap suara yang terlalu lantang, terhadap kebenaran yang menembus retorika, terhadap seorang presiden yang memilih berdiri di barisan rakyat ketimbang bersembunyi di ruang-ruang diplomasi.

Di era ketika banyak pemimpin dunia memilih aman dengan bahasa “netral,” Petro justru melemparkan batu besar ke jendela kaca diplomasi palsu. Ia tahu risikonya. Ia tahu konsekuensinya. Tapi ia tetap melakukannya.

Sejarah Akan Mencatat

Hari ini, dunia menyaksikan bagaimana seorang presiden Latin Amerika berani menyebut Israel dan Amerika Serikat sebagai pelaku genosida di forum dunia. Sejarah akan mencatat bahwa di tengah sunyinya suara-suara pemimpin Muslim, justru Petro dari Kolombia berdiri paling depan membela Palestina.

Petro mungkin kehilangan visa. Tapi ia memperoleh sesuatu yang lebih besar: kehormatan. Dan dari kehormatan itulah, lahir inspirasi bahwa masih ada pemimpin dunia yang berani memilih jalan sulit: jalan kebenaran.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *