Trump Ancam BRICS: Negara Pendukung “Kebijakan Anti-Amerika” Bakal Kena Tarif Tambahan

Ancaman Trump menjadi ujian bagi solidaritas Global South di tengah seruan BRICS untuk tatanan dunia multipolar.

Trump ancam BRICS
Donald Trump mengatakan bahwa BRICS diciptakan untuk tujuan yang buruk. (Foto: ndtv.com)

Daras.id – Di tengah penyelenggaraan KTT BRICS+ 2025 di Brasil, Trump ancam BRICS dengan kebijakan ekonomi baru: tarif tambahan 10 persen untuk negara-negara yang dianggap mendukung “kebijakan anti-Amerika”. Ancaman ini menambah ketegangan dalam forum yang sudah dipenuhi kritik terhadap dominasi ekonomi Barat dan seruan multipolarisme.

Melalui akun Truth Social, Trump menulis:

“Any country aligning themselves with the anti-American policies of BRICS will be charged an ADDITIONAL 10% tariff. There will be no exceptions to this policy.” (Sumber: Newsweek)

Ancaman tersebut datang tepat saat para kepala negara BRICS+ berkumpul membahas agenda multipolarisme, perdagangan global yang lebih adil, dan reformasi institusi internasional.

BRICS Dinilai “Anti-Amerika”

Trump tak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan “kebijakan anti-Amerika”. Namun, dalam pertemuan BRICS, para pemimpin memang secara terbuka mengkritik:

  • Kebijakan tarif sepihak Amerika Serikat,
  • Dominasi lembaga multilateral oleh negara Barat,
  • Serta mendukung solusi damai atas konflik di Gaza dan Iran, yang selama ini menjadi titik ketegangan diplomatik dengan AS.

Dalam pernyataan akhirnya, BRICS menyebut bahwa kebijakan tarif sepihak “bertentangan dengan prinsip perdagangan global yang adil dan terbuka.” (Sumber: DW)

Pernyataan ini menjadi salah satu pemicu Trump ancam BRICS dengan retorika keras dan kebijakan tarif.

Baca Juga:  KTT BRICS 2025 di Brasil: Debut Indonesia, Kritik Perang Gaza, dan Tantangan Persatuan Global South

Negara BRICS Merespons Hati-hati

Hingga saat ini, tak satu pun negara BRICS memberikan tanggapan frontal terhadap ancaman Trump. Namun, pernyataan dari Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Naledi Pandor, cukup mencerminkan sikap sebagian besar negara anggota:

“Kami bukan anti-Amerika. Kami anti-dominasi. Kami mendukung dunia multipolar dan kerja sama damai.” (Sumber: Reuters)

Sikap ini mencerminkan strategi BRICS untuk tetap memainkan peran sebagai penyeimbang, bukan blok tandingan.

Dampak terhadap Pasar Global

Pasar finansial merespons dengan hati-hati. Menurut laporan Investopedia, indeks S&P 500 sempat turun 0,8% karena kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang baru.

Bloomberg melaporkan bahwa ancaman Trump ini bisa mengganggu rantai pasok global, terutama jika negara-negara seperti Brasil, India, atau Indonesia masuk dalam daftar target tarif.

Ancaman tarif tambahan ini menandai bahwa pemerintahan Trump bersiap menghadapi BRICS bukan hanya sebagai blok ekonomi, tapi juga sebagai ancaman geopolitik.

Trump tampaknya ingin:

  • Menggertak negara berkembang yang bergabung ke BRICS,
  • Mencegah perluasan pengaruh China dan Rusia,
  • Menekan negara mitra seperti India dan Indonesia agar tetap menjaga “jarak diplomatik” dari BRICS.

Namun pendekatan ini justru bisa menghasilkan efek sebaliknya: memperkuat solidaritas negara-negara Global South dan mempercepat fragmentasi sistem global.

Baca Juga:  Gaza Alami "Genosida Paling Kejam dalam Sejarah Modern", PBB Desak Israel Akhiri Pendudukan

Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?

Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia berpotensi terdampak. Namun pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam sesi pleno KTT BRICS di Rio, Presiden Prabowo Subianto menegaskan:

“Kami ingin menjadi jembatan, bukan bagian dari konflik. BRICS bukan blok melawan siapa pun, melainkan forum kerja sama yang adil.”

Sikap ini tampaknya ingin menjaga prinsip bebas aktif Indonesia di tengah rivalitas dua kutub global: AS dan BRICS.

(Daras.id, Newsroom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *