Dino Patti Djalal: Jangan Bermain Api di Tengah Bara Timur Tengah

Dino Patti Djalal: Jangan Bermain Api di Tengah Bara Timur Tengah
Screenshot: Rudal serangan Amerika Serikat ke Iran

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

DARAS.ID_ Pernyataan Dino Patti Djalal tentang eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel–Iran bukan sekadar komentar pengamat. Itu adalah alarm diplomatik. Alarm yang berbunyi keras di tengah situasi global yang kian rapuh.

Sebagai mantan duta besar dan ilmuwan politik, Dino tidak berbicara dengan nada sensasional. Ia berbicara dengan nada kehati-hatian yang dingin—bahkan cenderung skeptis—terhadap langkah-langkah yang dinilai impulsif.

Opininya bisa diringkas dalam tiga garis besar: eskalasi serius konflik, ketidakrealistisan gagasan mediasi Indonesia, dan peringatan keras soal pengiriman pasukan ke Gaza.

1. Eskalasi yang Bukan Sekadar Retorika

Menurut Dino, serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran adalah eskalasi serius pertama yang dilakukan langsung ke tanah Iran. Ini bukan lagi perang bayangan, bukan lagi proksi.

Washington menuduh Teheran memulai serangan terlebih dahulu. Iran membantah.

Kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran memperparah keadaan. Perundingan gagal. Kanal komunikasi macet. Dan sejarah mengajarkan, ketika diplomasi mati, senjata berbicara.

Yang menarik, Dino menyoroti bahwa Amerika Serikat jarang sekali melakukan intervensi langsung seperti ini dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, ada perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS. Jika ini benar, maka yang kita hadapi bukan hanya konflik regional—melainkan pergeseran arsitektur keamanan global.

Apakah ini akan menjadi pemantik konflik lebih luas? Dino tidak menyebut “Perang Dunia Ketiga” sebagai kepastian. Tapi ia jelas mengisyaratkan potensi guncangan global yang nyata.

Dan dunia hari ini terlalu terhubung untuk menganggap Timur Tengah sebagai masalah lokal.

2. Indonesia Jadi Mediator? Realistis atau Ilusi Diplomatik?

Bagian paling tajam dari analisis Dino adalah soal wacana Indonesia menjadi mediator.

Ia secara terbuka mempertanyakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk terbang ke Teheran dan mengambil peran juru damai dalam konflik AS–Israel–Iran.

Baca Juga:  Persis Kota Bandung Gelar Aksi Bela Palestina, Serukan Boikot Produk Pro-Israel

Argumennya lugas dan berbasis realitas diplomatik:

  • Indonesia tidak memiliki akses atau leverage signifikan terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu.
  • Hubungan Indonesia dengan Israel tidak formal secara diplomatik.
  • Pengaruh Indonesia terhadap Washington juga terbatas dalam konteks konflik strategis tingkat tinggi seperti ini.
  • Dalam bahasa yang lebih tegas: mediator tanpa pengaruh hanya akan menjadi simbol, bukan solusi.

Dino bahkan mengaku heran dari mana gagasan tersebut muncul. Bukan karena Indonesia tidak punya niat baik, tetapi karena diplomasi bukan sekadar niat—melainkan soal posisi tawar.

Menjadi mediator tanpa leverage berisiko mempermalukan diri sendiri di panggung global. Lebih buruk lagi, bisa terseret dalam dinamika yang tak bisa dikendalikan.

3. Gaza dan Bahaya “Misi Perdamaian” yang Terlalu Cepat

Dino juga menegaskan bahwa serangan Amerika dan Israel harus dikecam secara tegas atas dasar hukum internasional. Indonesia, menurutnya, tidak boleh kehilangan prinsip hanya karena menjaga hubungan baik dengan Washington.

Namun kritik paling strategis diarahkan pada rencana pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF).

Pesannya jelas: jangan anggap enteng.

Gaza bukan zona netral. Bukan pula medan damai yang siap distabilkan. Konflik masih berkembang dan penuh ketidakpastian. Pasukan Indonesia berpotensi berada di bawah struktur komando yang dipengaruhi kepentingan besar, termasuk Amerika Serikat.

Apakah Indonesia siap menanggung risiko politik dan keamanan?

Dino menyarankan penangguhan. Bukan karena Indonesia tidak peduli pada Palestina, tetapi karena keputusan militer di zona konflik aktif bukan langkah simbolik—melainkan taruhan nyawa.

Antara Prinsip dan Pragmatisme

Dalam penutupnya, Dino tidak mengajak Indonesia untuk pasif. Ia justru menekankan konsistensi pada prinsip:

Kecam agresi.

Tegakkan hukum internasional.

Dukung perdamaian.

Baca Juga:  Serangan Israel di Gaza Adalah Teror yang Diabaikan

Namun hindari langkah impulsif, simbolik, dan tidak realistis.

Indonesia boleh punya moral standing. Tapi moral standing tanpa kekuatan diplomatik konkret akan sulit mengubah realitas geopolitik.

Di tengah bara Timur Tengah yang membara, pertanyaannya bukan apakah Indonesia ingin terlibat. Pertanyaannya adalah: dengan daya tawar apa?

Diplomasi bukan panggung retorika. Ia adalah seni membaca kekuatan, risiko, dan momentum.

Dan dalam situasi seperti ini, kehati-hatian bukan kelemahan. Ia justru bentuk kecerdasan strategis.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *