
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di tengah puing-puing kehidupan yang porak-poranda akibat banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera akhir-akhir ini, ada satu pemandangan yang menusuk hingga ke relung hati terdalam:
seorang anak, dengan tubuh ringkihnya yang basah kuyup oleh lumpur dan air hujan, menggendong ibunya menyeberangi jembatan darurat yang hanya terbuat dari sebilah kayu tipis dan tali sederhana.
Bayangkanlah: angin kencang masih berhembus, sungai di bawahnya mengamuk dengan arus deras yang siap menelan apa saja, sementara kayu itu bergoyang-goyang, seolah-olah setiap langkah adalah taruhan nyawa.
Anak itu melangkah pelan, tangannya erat memeluk tubuh ibunya yang lemah—mungkin karena usia, mungkin karena luka, atau mungkin karena hati yang sudah remuk oleh kehilangan rumah, harta, dan harapan.
Di punggungnya, bukan beban barang, tapi beban cinta seorang anak kepada ibu yang telah melahirkannya, merawatnya, dan kini menjadi “anak kecil” yang harus dilindungi.
Air mata ibu itu jatuh diam-diam ke bahu anaknya, bercampur dengan keringat dan hujan.
“Nak, lepaskan saja aku jika terlalu berat,” bisiknya mungkin dalam hati, tapi anak itu hanya menggeleng pelan, melangkah lebih teguh. Karena baginya, ibu adalah segalanya—satu-satunya yang tersisa di dunia yang tiba-tiba runtuh ini.
Di saat banyak orang kehilangan keluarga, terseret arus, atau terkubur lumpur, anak ini memilih untuk membawa ibunya selamat, walau nyawanya sendiri tergantung pada seutas tali dan sebilah kayu.
Jembatan sementara itu, dibangun swadaya oleh warga dengan tangan-tangan kasar yang lelah, menjadi simbol ketangguhan masyarakat Sumatera.
Mereka yang baru saja kehilangan segalanya, masih saling bahu-membahu, masih punya hati untuk membangun harapan dari reruntuhan. Tapi di balik ketangguhan itu, ada luka yang dalam:
infrastruktur yang rapuh, jembatan utama yang putus diterjang gelondongan kayu dan banjir bandang, akses yang terisolasi, dan ribuan jiwa yang menunggu pertolongan.
Peristiwa ini bukan sekadar gambar viral yang menyayat hati—ia adalah jeritan bisu dari masyarakat yang bertahan di tengah keterbatasan. Ia mengingatkan kita semua:
betapa berharganya kasih seorang anak kepada ibunya, betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa mendesaknya percepatan penanganan dari pihak berwenang.
Pemulihan jembatan penghubung, bantuan logistik yang cepat, dan pembangunan infrastruktur yang tangguh bukan lagi pilihan, tapi keharusan—demi keselamatan ribuan nyawa, demi kelancaran hari-hari warga yang sudah terlalu lama menderita.
Melihat anak itu menggendong ibunya, hati kita ikut meleleh. Air mata mengalir bukan karena sedih semata, tapi karena terharu atas kekuatan cinta yang tak pernah padam, bahkan di saat dunia seolah runtuh.
Semoga kisah ini menggugah kita semua untuk bergerak, membantu, dan tak pernah melupakan mereka yang sedang berjuang di sana.
Wallahu ‘alam





