
Oleh Bramantyo S
Kehidupan ini seperti bunga mawar. Indah memikat, harum menenangkan, tetapi setiap helaian daunnya adalah khayalan yang terbang ditiup angin kenyataan. Setiap durinya mengajarkan luka, menggores tanpa bertanya, mengingatkan bahwa keindahan selalu punya harga yang harus dibayar.
Aku pernah berpikir cinta adalah milikku selamanya, bahwa menggenggammu berarti menjaga kehangatan yang takkan pernah padam. Namun aku keliru. Cinta, bagiku, kini adalah ketulusan—ketulusan yang mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Aku belajar mengikhlaskanmu ketika cintamu bukan lagi milikku, melepaskanmu saat kebahagiaanmu tidak lagi ada di sisiku.
Mencintaimu adalah menerima bahwa ada dunia di mana aku tak punya tempat. Aku harus rela berbagi waktu dengan dunia yang bahkan tak bisa sedikit pun kuintip isinya. Aku menunggu di luar, menebak-nebak apa yang membuatmu tersenyum, apa yang membuatmu letih. Tapi aku hanya seorang pengamat, bukan bagian dari narasi yang kau jalani.
Jika rindu ini adalah luka, maka ia telah mengering. Bukan karena telah sembuh, bukan karena waktu menyaputnya dengan belas kasihan. Tapi karena tak ada lagi darah untuk dialirkan. Hatiku telah terbiasa menampung kesunyian, dan air mataku telah menemukan jalannya sendiri untuk menghilang sebelum sempat jatuh.
Jika cinta adalah ibadah, maka patah hati adalah jalanku mendalami—semakin dalam, semakin menyesakkan, hingga aku tak mampu lagi membedakan mana kasih sayang, mana kehilangan. Seperti kata Jalaludin Rumi, cinta yang sesungguhnya adalah membiarkan hati tetap hidup meski telah kehilangan apa yang dicintainya.
Lalu aku teringat pada kisah Imam Syafi’i. Seseorang berkata padanya, “Besok kita akan saling menghitung kesalahan.” Namun dengan kelembutan seorang bijak, beliau menggenggam tangannya dan berkata, “Tidak, besok kita akan saling memaafkan. Jika aku salah padamu, maafkan aku. Dan jika kamu salah padaku, aku telah memaafkanmu.”
Aku ingin seperti itu. Memaafkan, tanpa harus menunggu esok. Merelakan, tanpa harus menagih kembali.
Karena akhirnya, cerita kita hanyalah bagian dari sejarah. Sejarah yang akan dikenang, bukan sebagai luka yang menyayat, tetapi sebagai pelajaran yang membentuk kita di masa depan. Sebuah kisah yang telah usai, namun meninggalkan jejak yang tak akan pernah benar-benar hilang.
Wallahu’alam





