
Oleh Parihah*
Ada lagu yang tak sekadar terdengar di telinga, tetapi menggema di lorong sunyi dada. Mangu—sepotong kidung yang ditenun Fourtwenty dari serpihan kisah nyata: dua hati yang pernah saling menetap, pernah saling menua, lalu berpisah di simpang keyakinan. Lagu ini diam-diam menjadi jendela bagi jiwa-jiwa rapuh yang barangkali sedang menakar, di mana cinta harus pulang, dan kepada siapa keyakinan mesti bersandar.
“Cerita kita sulit dicerna, tak lagi sama arah kiblatnya…”
Sepotong bait itu menjelma pisau. Ia menorehkan pahit di dada mereka yang pernah mengira cinta mampu menawar segalanya—bahkan iman. Namun pada akhirnya, kebenaran selalu pulang pada hakikatnya: ada cinta yang indah, namun tak selamat. Ada cinta yang dipelihara, tapi berkhianat pada Tauhid.
Islam dan Batas yang Tak Bisa Digugat
Dalam Islam, cinta bukan candu buta. Ia dituntun oleh cahaya iman. Al-Qur’an, penuntun segala resah, berkata tegas—dan dengarkanlah betapa firman-Nya tak butuh banyak retorika:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221)
“Mereka (wanita ahli kitab) tidak halal bagi mereka (laki-laki musyrik), dan merekapun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)
Di antara batas-batas itulah cinta diuji. Siapa yang berani menggadaikan Tauhid demi detak jantung yang fana? Siapa yang sanggup merobek satu halaman wahyu demi genggam tangan yang sementara? Di sinilah, akal dan hati mesti berunding. Sementara air mata jatuh satu-satu di sajadah malam.
Ketika Cinta Harus Menepi di Tepi Iman
Cinta, betapapun manis, bukan azimat keselamatan. Cinta, betapapun dalam, tak akan mengantar ke surga jika tak dituntun kalimat La ilaha illallah. Ada yang rela mengganti keyakinannya, menukar Allah dengan cinta fana. Tapi tanyalah pada nurani: siapa yang menjamin, jika Allah pun pernah ia tinggalkan, engkau akan abadi di hatinya?
“Allah saja dihianati, apalagi kamu!”
Kalimat itu bukan sekadar sindiran murahan. Ia tamparan mesra bagi hati yang rapuh—sebuah alarm sunyi agar kita tak menyesali seumur hidup pilihan yang menodai Tauhid.
Relakanlah, Meski Luka Membelah Dada
Memilih Allah berarti memilih luka di awal, agar kelak kau tak menangis di akhir. Kadang, kita dituntut merelakan yang dicinta, sebab Allah tahu, di ujung derai air mata itu ada pengganti yang lebih suci, lebih lurus kiblatnya, lebih setia menuntun langkah ke Jannah.
Mungkin malam ini kau duduk termangu-mangu di tepi ranjang, menimang pesan Mangu, menahan rindu pada wajahnya, menolak logika agama yang menegurmu. Tapi pejamkanlah mata, dan tanyalah dalam hening: maukah kau bahagia di dunia, lalu kehilangan selamat di akhirat?
Karena Bahagia Tanpa Tauhid Hanyalah Fatamorgana
Percayalah, tak ada takdir yang cacat. Jika harus patah, biarlah patah demi Allah. Jika harus melepaskan, maka lepaskan dengan doa yang basah: Ya Allah, gantilah luka ini dengan jalan yang Engkau ridhai.
Biarlah hati pecah malam ini. Biarlah airmata menenggelamkan bantal. Karena sungguh, lebih baik tergores demi Allah, daripada senyum palsu yang menuntunmu menjauh dari-Nya.
Pamungkas: Di Antara Cinta dan Surga
Dan jika esok pagi kau masih termangu-mangu, ingatlah:
Cinta yang bertentangan dengan Tauhid hanyalah pintu kesesatan.
Tak semua yang manis pantas dipertahankan.
Tak semua genggaman harus kau genggam selamanya.
Maka genggamlah Allah erat-erat.
Dan relakan yang lain, meski pedih.
Sebab di ujung luka itu, ada Surga yang menunggu.
Wallahu ‘alam
*Penulis adalah mahasiswa KPI semester VII
Editor Nurdin Qusyaeri





