
Oleh Farhan Ferdian Ganarty*
Di tengah derasnya arus modernitas, manusia menemukan bentuk-bentuk baru dalam mengekspresikan eksistensinya. Jika dulu ruang publik terbatas pada forum diskusi, majelis, atau pertemuan fisik, kini manusia memiliki ruang tak terbatas bernama media sosial. Instagram, TikTok, X (Twitter), hingga Facebook telah menjelma menjadi panggung utama kehidupan sosial.
Media sosial, yang awalnya diciptakan sebagai sarana berkomunikasi dan membangun koneksi antarmanusia, telah mengalami pergeseran makna yang mendalam. Media sosial telah meradikalisasi cara manusia hadir, berbicara, dan bahkan berpikir tentang diri sendiri. Manusia membangun profil, membagikan momen, dan memburu validasi. Dunia digital menjadi panggung utama peradaban modern, tempat manusia menyusun narasi hidupnya secara terbuka dan terus-menerus.
Di sinilah letak persoalannya: ketika media sosial tidak lagi sekadar ruang sosial, melainkan ruang konstruksi identitas.
Kedaulatan Diri yang Terkikis
Ketika identitas diri dipertontonkan secara publik dan terus diperbarui demi keterlibatan sosial, perlahan kita menyadari ada hal mendasar yang mulai terkikis—kedaulatan diri. Kedaulatan yang dulu berarti otonomi individu dalam berpikir, merasa, dan menentukan jalan hidup, kini berubah menjadi proyek representasi yang diarahkan oleh selera pasar, algoritma, dan budaya populer.
Individu kehilangan kendali atas dirinya karena terdikte oleh ruang digital yang tak henti-hentinya menuntut eksistensi. Fragmentasi ini terlihat dari semakin banyaknya orang yang memiliki lebih dari satu akun untuk kebutuhan berbeda—akun profesional, pribadi, alter, hingga akun stalking. Setiap akun menjadi serpihan identitas yang tidak saling terhubung secara utuh.
Panoptikon Digital: Pengawasan Sukarela
Michel Foucault memperkenalkan konsep panoptikon, sebuah sistem pengawasan yang membuat individu merasa diawasi setiap saat, sehingga menyesuaikan perilakunya secara otomatis. Dalam konteks media sosial, panoptikon digital bekerja melalui keterlibatan konstan—like, comment, view, share—yang membuat individu merasa harus terus tampil, harus terus relevan.
Kita tidak sadar bahwa kita hidup dalam mekanisme pengawasan sukarela, di mana kita menjadi pengawas sekaligus yang diawasi. Foucault menunjukkan bahwa dalam masyarakat modern, kekuasaan bukan lagi datang dari negara atau lembaga, tetapi dari sistem pengetahuan dan pengawasan yang dibentuk oleh struktur sosial. Media sosial adalah sistem itu—halus namun mengikat.
Simulakra dan Hiperrealitas di Media Sosial
Lebih dari sekadar pengawasan, media sosial juga menciptakan bentuk realitas baru. Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation menyatakan bahwa masyarakat kini hidup dalam hiperrealitas—dunia yang tidak lagi merujuk pada kenyataan, tetapi pada simbol dan tanda-tanda yang dibuat-buat. Representasi menjadi lebih penting daripada realitas itu sendiri.
Di Instagram, seseorang bisa terlihat bahagia, sehat, religius, atau kaya, padahal semua itu hanyalah konstruksi visual yang dikurasi. Baudrillard menyebut ini sebagai simulacra—tiruan yang menggantikan kenyataan. Tak heran jika seseorang bisa merasa hampa di balik kehidupan digital yang tampak sempurna. Ia bukan sedang hidup sebagai dirinya, tetapi sebagai versi dari dirinya yang disesuaikan agar terlihat “hidup.”

Fragmentasi Identitas dan Kehilangan Keutuhan
Ketika semua ini berlangsung lama dan terus-menerus, manusia mengalami apa yang bisa disebut sebagai fragmentasi kedaulatan diri. Ia tidak lagi menjadi satu kesatuan pribadi yang utuh, melainkan menjadi serpihan-serpihan persona yang ditampilkan dalam berbagai ruang digital.
Ada diri yang “cerdas” untuk LinkedIn, diri yang “lucu” untuk TikTok, diri yang “bijak” untuk Twitter, dan mungkin diri yang sebenarnya tidak pernah muncul ke permukaan. Identitas bukan lagi sesuatu yang ditemukan melalui perjalanan hidup dan refleksi, tetapi sesuatu yang dikurasi, dipoles, dan diunggah.
Kedaulatan diri hari ini berada dalam ancaman yang tidak terlihat secara kasat mata. Bukan karena paksaan, tetapi karena jebakan yang dibungkus dalam kenyamanan dan validasi sosial. Foucault menunjukkan bagaimana pengawasan bekerja dalam sistem yang tampak bebas, dan Baudrillard menegaskan bahwa yang kita hidupkan bukan realitas, melainkan imitasi dari realitas.
Mengembalikan Kedaulatan Diri
Untuk menjadi utuh kembali bukan berarti manusia harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Namun, manusia perlu mulai mengenali bentuk-bentuk kuasa dan rekayasa yang bekerja di dalamnya.
Menjadi sadar bahwa “menjadi diri sendiri” di media sosial adalah pekerjaan yang sulit dan penuh tantangan, namun bukan tidak mungkin. Kita harus merebut kembali ruang batin yang selama ini dipenuhi ekspektasi luar.
Kedaulatan diri dimulai bukan dari bagaimana manusia tampil di hadapan dunia, tetapi dari bagaimana kita berdialog dengan keheningan dalam diri sendiri—tanpa algoritma.
*Penulis Mahasiswa IAI Persis Bandung
Editor: San





