
Daras.id – Dunia digital pernah kita percaya sebagai ruang bebas. Tempat di mana suara siapa pun, termasuk suara umat, bisa mengudara tanpa dibungkam. Namun, kejadian ketika YouTube dan Instagram Masjid Jogokariyan diblokir pekan ini menyadarkan kita: platform-platform digital seperti YouTube dan Instagram tidak selalu netral. Mereka bisa, dan memang kerap, tunduk pada opini dominan.
Semua bermula dari unggahan video ceramah dan wawancara di YouTube Masjid Jogokariyan, yang rutin membahas isu Palestina dari sudut pandang kemanusiaan dan keadilan. Pada 20 Juni 2025, kanal itu di-blokir total. Tak lama berselang, giliran akun-akun Instagram Masjid Jogokariyan ikut lenyap satu per satu: @masjidjogokariyan, @kampoengramadhanjogokariyan, @remajamasjidjogokariyan, hingga akun anak-anak masjid yang bernama “HAMAS”—akronim dari Himpunan Anak Masjid Jogokariyan.
Kebetulan? Rasanya tidak.
“HAMAS” yang Memicu Pemblokiran?
Nama “HAMAS” tampaknya menjadi pemicu. Sistem otomatis Meta—perusahaan induk Instagram—kemungkinan besar mengaitkan nama itu dengan Hamas Palestina, kelompok yang oleh Barat dicap sebagai organisasi teroris. Padahal, dalam konteks Masjid Jogokariyan, HAMAS hanyalah sekelompok remaja masjid yang aktif mengadakan kegiatan positif: belajar ngaji, bersih-bersih masjid, hingga penggalangan donasi kemanusiaan.
Namun, logika algoritma tidak mengenal nuansa. Begitu satu kata dicurigai, pemblokiran bisa terjadi tanpa klarifikasi terlebih dahulu.
Media Sosial: Netralitas yang Dipertanyakan
Kasus YouTube dan Instagram Masjid Jogokariyan diblokir ini membuktikan satu hal penting: platform ini bukan ruang yang benar-benar netral. Di balik kode algoritma, mereka tidak lepas dari bias geopolitik global yang sering kali memihak kekuatan besar dunia. Ketika isu Palestina disuarakan oleh masjid atau komunitas Muslim, platform menjadi waspada berlebihan. Sementara, konten-konten pro-Israel yang provokatif justru dibiarkan bebas.
Ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, akun aktivis Palestina, jurnalis Gaza, dan organisasi bantuan kemanusiaan juga mengalami nasib serupa. Platform digital global ternyata rentan terhadap tekanan politik. Keadilan informasi? Masih menjadi impian.
Pengurus Masjid Jogokariyan saat ini sedang mengajukan banding. Mereka juga mulai membuat akun baru dengan penyesuaian nama agar tidak mudah disalahartikan oleh algoritma. Namun, lebih dari sekadar memperbaiki akun, peristiwa YouTube dan Instagram Masjid Jogokariyan diblokir ini mengingatkan kita untuk tidak sepenuhnya bergantung pada platform global dalam menyebarkan dakwah dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kita membutuhkan alternatif ruang digital yang lebih mandiri atau setidaknya memperkuat ekosistem informasi independen yang tidak mudah dikendalikan oleh narasi global.
“Keadilan tidak lahir dari algoritma, tapi dari keberanian menyuarakan kebenaran meski dibungkam.” – Daras.id
(San)






