Website Berita dan Opini
Indeks

Ketika Tubuh Bicara: Autoimun dan Luka yang Terpendam

Ketika Tubuh Bicara
Gambar Ilustrasi

Oleh Popi Sri Mulyani*

Ada yang tak terlihat tetapi perlahan menggerogoti. Bukan luka di kulit, bukan pula memar yang bisa dioles balsem atau disembuhkan dengan tidur panjang. Ini luka yang tumbuh diam-diam—dari perasaan yang lama dipendam, air mata yang ditahan, hingga suara hati yang tak pernah diberi ruang untuk bicara. Seakan tubuh pun lelah menjaga rahasia hati yang terlalu lama disembunyikan.

Autoimun merupakan salah satu penyakit yang hingga kini masih menjadi misteri dalam dunia medis. Lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, dan yang mencengangkan: mayoritas penderitanya adalah perempuan. Berdasarkan data dari National Institutes of Health (NIH), sekitar 80% penderita autoimun adalah perempuan, terutama usia produktif antara 20–50 tahun. Tapi mengapa perempuan lebih rentan?

Salah satu jawabannya mungkin bukan hanya biologis—tetapi juga emosional.

Baca Juga:  Kamaluddin Latief Ingatkan Bahaya Lonjakan COVID-19 di ASEAN dan Ketimpangan Kesehatan Global

Autoimun: Saat Tubuh Menyerang Dirinya Sendiri

Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi dari serangan luar seperti virus dan bakteri, justru keliru menyerang jaringan sehat tubuh itu sendiri. Akibatnya muncul berbagai gejala seperti:

  • Nyeri sendi dan otot
  • Kelelahan kronis
  • Peradangan organ
  • Gangguan kulit
  • Masalah pencernaan
  • Komplikasi serius pada ginjal, paru, atau otak

Beberapa penyakit autoimun yang umum di antaranya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Rheumatoid Arthritis (RA), Hashimoto’s Thyroiditis, dan Multiple Sclerosis.

Selain faktor genetik dan lingkungan, para ilmuwan juga mulai meneliti kaitan antara emosi yang terpendam dan perkembangan penyakit autoimun.

Baca Juga:  Belajar Menjadi Wanita Tenang, Bukan Wanita Tantrum

Perempuan dan Kebiasaan Menyimpan Perasaan

Perempuan dikenal memiliki peran ganda bahkan tiga kali lipat: sebagai istri, ibu, anak, pekerja, sekaligus pengelola rumah tangga. Di balik senyum dan keteguhan itu, sering kali tersimpan berbagai rasa yang tidak pernah tuntas: marah yang dibungkam, kecewa yang dipendam, dan kesedihan yang disangkal.

Perempuan kerap menjadi sumber ketenangan bagi orang lain, tetapi mengabaikan hak dirinya sendiri untuk dimengerti. Banyak dari mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa “menangis itu lemah”, “marah itu egois”, dan “perempuan hebat harus kuat tanpa mengeluh”.

Maka lahirlah generasi perempuan tangguh, tetapi diam-diam lelah.

Menurut studi dalam Psychoneuroendocrinology Journal, stres emosional jangka panjang dapat mengganggu sistem imun dan memicu reaksi autoimun. Sebuah systematic review yang dipublikasikan oleh Frontiers in Psychology (2020) juga menyimpulkan bahwa trauma psikologis masa lalu, tekanan peran gender, dan kesulitan mengekspresikan emosi menjadi faktor risiko signifikan pada penyakit autoimun.

Ketika Emosi Tak Terucap, Tubuh yang Menjerit

Tubuh adalah cermin jiwa. Ketika emosi ditekan terlalu lama, tubuh akan menciptakan jalannya sendiri untuk “berteriak”. Jeritan itu bisa berupa nyeri, peradangan, bahkan kerusakan organ.

Autoimun bukan hanya gangguan imun semata, tetapi juga bisa menjadi cermin luka batin yang tak pernah dipulihkan.

Maka pertanyaannya: sudahkah kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk didengarkan?

Baca Juga:  Peran Istri dalam Menguatkan Keintiman Emosional dalam Rumah Tangga

Langkah Pemulihan: Fisik dan Emosional

Mengelola autoimun bukan hanya soal obat dan diet. Tetapi juga soal memaafkan diri, mengenali luka batin, dan mengizinkan diri sendiri untuk merasa.

Berikut langkah sederhana untuk mulai berdamai dengan diri:

  • Kenali Emosi: Sadari kapan kamu merasa tertekan, lelah secara emosional, atau mulai memendam.
  • Ekspresikan Secara Sehat: Menulis jurnal, berbicara dengan orang terpercaya, atau berkonsultasi dengan psikolog.
  • Berhenti Mengejar Sempurna: Sempurna adalah tekanan, bukan tujuan. Cukup baik adalah cukup.
  • Bangun Dukungan Sosial: Jangan takut meminta bantuan. Kelemahan bukan aib.
  • Keseimbangan Aktivitas dan Istirahat: Dengarkan tubuh. Jangan terus memaksa.

Perempuan, kamu bukan superman. Kamu bukan mesin.

Kamu adalah manusia yang berhak didengarkan, dimengerti, dan dicintai—termasuk oleh dirimu sendiri. Autoimun bisa menjadi alarm dari tubuhmu, mengingatkan bahwa sudah waktunya berhenti mengabaikan dirimu sendiri.

Karena mencintai diri sendiri bukanlah egois—tetapi langkah pertama untuk sembuh, secara utuh.

*Penulis Mahasiswa IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *