Puisi  

Titipan yang Menuju Surga: Sepenggal Rindu dari Orang Tua yang Mengikhlaskan

Titipan
Foto: Dokpri Penulis

Oleh Popi Sri Mulyani*

Anak bukanlah milik kita…
ia hanya titipan, sepotong cahaya yang Allah percikkan ke dalam dada.
Dalam tangis pertamanya kita bahagia,
dalam langkah kecilnya kita tertawa,
tapi dalam kepergiannya—kita diuji oleh-Nya.
Ketika ia pergi ke pesantren,
bukan karena tak cinta,
bukan karena ingin menjauh,
melainkan karena Allah memilihnya untuk lebih dekat kepada-Nya.

Wahai Ayah, wahai Ibu…
jangan biarkan air mata kalian menjadi keluh,
biarlah ia menjadi embun doa yang jatuh di sepertiga malam,
mengalir lembut di sajadah cinta,
karena sejatinya anak kita sedang Allah jaga dalam pelukan cahaya-Nya.

Ia mungkin jauh di mata,
tak lagi duduk di pangkuan seperti dulu,
tak lagi tidur di sisi kita,
tak lagi riuh dengan tawa di rumah sederhana ini,
tapi ia sedang tumbuh di taman surga—yang disebut pesantren.
Di sanalah ia mengenal ayat demi ayat,
menghafal firman Tuhan dengan matanya yang teduh,
membasahi bumi dengan sujudnya yang lirih,
menyirami hatinya dengan ilmu dan adab yang tak ternilai.

Maka, wahai hati…
belajarlah ikhlas,
lepaskan bukan karena kehilangan,
tapi karena ingin mengembalikan titipan kepada Pemiliknya—dalam keadaan terbaik.

Bukankah kita ingin anak kita dijaga oleh Yang Maha Menjaga?
Bukankah kita ingin ia menjadi cahaya dalam kubur kita kelak,
menjadi syafaat dalam panjangnya hisab?

Hari ini… biarlah rumah ini sepi,
biarlah dapur tak lagi riuh oleh celotehnya,
biarlah kita menangis dalam doa—asal bukan dalam duka.
Karena ini saatnya kita belajar:
bahwa mencintai anak juga berarti sanggup melepasnya ke jalan Allah.

Bagi para ibu yang rindu…
jadikan Qur’an sebagai pelukan harianmu,
jadikan sajadah sebagai sandaran rindumu,
dan jadikan malam sebagai waktu paling indah
untuk menyebut nama anakmu dalam doa-doa panjang.
Bagi para ayah yang diam-diam menyeka air mata…
ketahuilah, di balik tembok pesantren sana,
anakmu sedang meniti jalan menuju surga,
dan engkau sedang menjadi bagian dari jalan mulia itu.

Jadi…
berbahagialah, wahai orang tua yang anaknya mondok.
Karena Allah sedang menulis cerita indah,
tentang cinta yang tak egois,
tentang rindu yang menguatkan iman,
dan tentang pengorbanan yang kelak berbuah kemuliaan.

“Titipan itu kini sedang dijaga oleh Langit.”
Semoga kelak ia pulang,
membawa cahaya bukan hanya untuk dirinya,
tapi juga untuk dunia—dan untukmu, orang tuanya.

*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung 

Baca Juga:  Ketika Rasa Menjadi Alasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *