Allah masih Sayang, Meski Diambang Maut

Allah masih sayang, meski diambang maut
Foto medsos

Oleh Iim Marlina

Hari kemarin, Sabtu 23 Agustus 2025 menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Kami sekeluarga bersiap untuk menghadiri acara wisuda Putri Kami yaitu Putri Azzahra Ameliana di Politeknik Negeri Bandung. Dengan penuh semangat, saya berangkat bersama suami, anak, dan ibu tercinta. Hati kami dipenuhi kebahagiaan karena ingin menyaksikan momen bersejarah itu.

Namun, perjalanan yang kami kira akan berjalan lancar, berubah menjadi pengalaman penuh ketegangan. Sejak awal, mobil yang kami kendarai terasa kurang nyaman. Kami sempat menepi, memperbaikinya sebentar, lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Di tengah pejalanan yang akan memasuki tol paster, perasaan kami sudah mulai tidak enak. Mobil terasa goyang, membuat hati kami was-was. Dan benar saja,tiba tiba mobil yang kami tumpangi tiba-tiba oleng ke kiri dan tergelincir Ban depan sebelah kanan pun terlepas. Seketika suasana berubah mencekam. Jantung kami serasa berhenti berdetak.

Baca Juga:  Allah Selalu Dekat: Jangan Merasa Sendiri

Tetapi di saat itulah, kami benar-benar merasakan perlindungan Allah. Alhamdulillah, Puji dan Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT bahwasannya kami masih bisa bernafas padahal di belakang mobil kami ada truk besar yang melaju hanya beberapa meter jarak dengan kendaraan kami. Seandainya Allah tidak menjaga, mungkin ceritanya akan sangat berbeda.

Setelah kita menungu beberapa waktu lamanya datanglah petugas jasa marga yang membantu Kami.

Lalu Kami Saya bersama ibu dan anak kami melanjutkan perjalanan dengan memakai mobil patroli dan suami menunggu untuk mengangkut mobil Kami Walaupun terlambat, kami tetap diberi kesempatan untuk mengahadiri acara wisuda.

Pengalaman ini meninggalkan bekas mendalam di hati kami.

Kami disadarkan bahwa maut bisa datang kapan saja, tanpa memberi tanda, tanpa bisa kita duga. Mobil yang tergelincir itu seolah menjadi peringatan, bahwa hidup ini rapuh. Kita hanya bisa berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia yang menentukan kapan ajal menjemput.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits shahih:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”

(HR. Tirmidzi, no. 2307; dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani)

Hadits ini benar-benar terasa maknanya bagi kami. Bahwa kapan pun dan di mana pun, maut bisa datang. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri, memperbanyak amal shalih, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pengalaman itu membuat kami semakin sadar: umur hanyalah titipan, keselamatan hanyalah karunia, dan hidup hanyalah persinggahan menuju akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *