
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di negeri ini, bintang jatuh bukan dari langit, tapi dari istana. Tidak perlu berdoa di malam purnama, cukup dekat dengan pusat kuasa, maka bintang Mahaputera akan jatuh ke pangkuanmu.
Ironi sejarah berulang. Bintang yang dulu hanya pantas menempel di dada Soedirman yang batuk darah di medan perang, kini bisa menempel di jas pejabat yang hanya batuk basa-basi di podium.
Dulu, Natsir dengan Mosi Integral menyatukan republik, kini cukup dengan mosi integral setia pada Presiden, bintang pun tiba. Dulu Ki Hajar Dewantara mencetak generasi merdeka, kini cukup mencetak kata sambutan meriah, bintang sudah berkilau di dada.
Apa sebenarnya fungsi bintang hari ini? Apakah ia masih tanda kehormatan, atau sudah berubah jadi voucher belanja politik?
Kalau dulu bintang adalah mahkota, kini ia sekadar bros pesta. Kalau dulu ia cahaya pengorbanan, kini hanyalah lampu sorot endorsement.
Cendekiawan Yudi Latif menyebutnya dengan tepat: “Souvenir Bintang Mahaputera.” Ya, souvenir! Sama saja dengan pulang dari resepsi pernikahan, dapat kipas plastik atau mug bertuliskan nama pengantin. Bedanya, souvenir dari istana ini bisa disematkan di dada, difoto, lalu dipajang di Instagram dengan caption, “Terima kasih, Pak Presiden. Saya terharu.”
Bintang itu kini seperti pin promosi di marketplace: siapa yang rajin check-in kuasa, siapa yang setia klik tombol “like” pada penguasa, akan mendapat label “Star Seller” alias Mahaputera.
Lalu rakyat, yang dulu melihat bintang sebagai simbol pengorbanan, kini hanya bisa terkekeh getir. Karena mereka tahu, bintang itu tidak lagi menerangi jalan bangsa, melainkan hanya menerangi panggung selfie politik.
Jadi, wahai para pejabat yang sudah menerima bintang, jangan salah kira. Rakyat tidak iri pada logam di dadamu. Rakyat justru kasihan—karena bintang itu tampak terlalu berat untuk dipikul oleh bahumu yang masih kosong dari jasa.
Kalau Soedirman bisa tersenyum dari alam sana, mungkin senyumnya getir. Karena bintang yang dulu diperjuangkan dengan darah, kini bisa didapat dengan darah manis lobi-lobi politik.
Dan akhirnya, kita hanya bisa berkata:
“Selamat, wahai para penerima souvenir negara. Semoga bros di dadamu cukup kuat menahan rasa malu yang suatu saat akan datang ketika sejarah membandingkanmu dengan Soedirman, Natsir, dan Ki Hajar.”
Wallahu’alam






