
Internasional, Daras.id – Gelombang pengakuan terhadap Palestina sebagai negara terus menguat di Eropa menjelang sidang Majelis Umum PBB pekan ini. Pada Minggu (21/9), Inggris dan Portugal berencana secara resmi mengumumkan mengakui Negara Palestina, meski mendapat tekanan kuat dari Amerika Serikat dan Israel.
Langkah ini dinilai sebagai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Barat, terutama karena kedua negara tersebut sebelumnya dikenal berhati-hati dalam isu Palestina.
Inggris Ambil Sikap Meski Ada Tekanan
Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan pengakuan terhadap Palestina sebagai bentuk dukungan terhadap solusi dua negara. Keputusan ini diambil meskipun ada tekanan dari Washington dan protes keluarga sandera Israel yang masih ditahan Hamas.
“Ini adalah saat yang tepat untuk mengakui Palestina sebagai negara. Perdamaian tidak bisa dicapai tanpa adanya dua negara yang hidup berdampingan,” tulis The Guardian (20/9/2025).
Portugal Ikut Menyusul
Portugal juga menyatakan sikap serupa. Pemerintah di Lisboa menegaskan pengakuan Palestina dilakukan sebelum pidato di Majelis Umum PBB. Menurut laporan HuffPost, keputusan ini diambil sebagai “tindakan moral dan politik” untuk mendorong perdamaian di Timur Tengah.
Gelombang Dukungan dari Negara Lain
Tidak hanya Inggris dan Portugal, Prancis pun menegaskan akan mengakui Palestina pada sidang Majelis Umum PBB. Presiden Emmanuel Macron menyatakan pengakuan ini adalah komitmen politik untuk memperkuat solusi dua negara.
Sejumlah negara lain juga berencana mengikuti langkah tersebut, termasuk Andorra, Australia, Belgia, Luksemburg, Malta, dan San Marino. Belgia sudah menegaskan akan membawa isu pengakuan Palestina ke forum PBB, sementara Luksemburg menyampaikan rencana yang sama melalui parlemen nasional.
Reaksi Israel dan AS
Israel mengecam keras langkah Inggris dan Portugal, menyebutnya sebagai “penghargaan terhadap Hamas” yang justru akan memperburuk situasi keamanan. Sementara itu, Jepang menolak mengikuti jejak negara Eropa tersebut dengan alasan menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat.
Gelombang pengakuan Palestina ini menandai perubahan geopolitik penting di Eropa. Walau sifatnya lebih simbolis, langkah ini mempertegas dukungan internasional terhadap solusi dua negara. Namun, tanpa adanya perubahan nyata di lapangan—seperti penghentian ekspansi pemukiman Israel dan rekonstruksi Gaza—pengakuan ini berisiko hanya menjadi gestur politik.
(Daras.id, Newsroom)






