
Oleh Bramantyo
Kadang cinta tak datang untuk dimiliki, tapi untuk menguji seberapa kuat kita melepaskan.
Ini bukan kisah dua manusia yang tak tahu arah, melainkan dua hati yang saling menuntun untuk kembali pada Tuhan.
Yuka dan Anggara — dua nama yang terjebak di antara cinta dan dosa, lalu memilih jalan paling suci: perpisahan. Berikut adalah kisahnya.
Suatu saat di bawah lampu temaram kantor yang mulai sepi, Yuka menatap layar komputernya yang telah lama mati. Jemarinya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena ada sesuatu yang hendak ia lepaskan dari dada—sebuah rasa yang salah alamat, tapi pernah membuat hidupnya terasa hidup.
Ia bukan perempuan yang haus perhatian. Ia hanya haus akan kehangatan yang seharusnya datang dari rumah, tapi tak pernah benar-benar tiba.
Di rumahnya, cinta telah lama membeku, terkubur di balik kesombongan seorang suami yang hanya tahu menuntut, tak pernah benar-benar memahami. Hak-haknya—lahir dan batin—tercabut perlahan, meninggalkan dirinya yang terpaksa bertahan demi anak-anak.
Hingga suatu hari, di sela pekerjaannya yang berat, ia bertemu Anggara—atasan yang selalu menatapnya bukan dengan mata penguasa, tapi dengan mata manusia.
Dari sekadar percakapan tentang pekerjaan, mengalir cerita tentang hidup yang kehilangan arah. Dari empati tumbuh simpati, dari simpati tumbuh sayang, dan dari sayang tumbuh sesuatu yang dilarang: cinta.
Cinta yang membuat Yuka hidup, tapi juga membuatnya merasa berdosa setiap kali ia menatap mata Anggara terlalu lama.
Cinta yang tak seharusnya tumbuh, tapi juga tak mampu ia bunuh.
Mereka tahu garis batas itu. Mereka tahu tembok besar yang memisahkan mereka bukan sekadar norma, tapi juga takdir. Namun hati manusia kadang tak tahu malu. Ia tumbuh liar di tanah yang tandus, menembus batu, menolak mati.
Sampai pada suatu malam, Yuka menulis pesan panjang. Tangannya bergetar, hatinya robek. Ia tahu, inilah akhir dari kebodohan yang paling manis dalam hidupnya.
“Mungkin sudah saatnya aku menerima bahwa kamu hanya ilusi dalam hidupku. Terima kasih atas semua kebaikanmu, atas warna baru dalam hidupku, atas fantasi dan kebodohan yang pernah kita bagi. Terima kasih karena telah membuatku sadar bahwa hidup adalah pilihan…
Jujur, aku kecewa. Jujur, aku sakit. Ketulusanku ternyata tak ada harganya. Tapi aku harus memilih, harus menentukan arah, harus menghilang. Aku harus sadar, tertampar, tahu diri. Aku menutup semua akses, bukan karena aku benci, tapi karena aku ingin sembuh. Aku mohon, biarlah kisah ini hanya kita, malaikat, dan Allah yang tahu. Aku pamit.”
Pesan itu dikirim dalam diam, lalu sunyi menelan Yuka.
Tak lama, balasan datang dari Anggara—singkat, tapi dalam, seperti doa yang menenangkan luka.
“Alhamdulillah… Ini anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Aku hanya berharap Allah selalu menguatkan hati kita untuk melaju dalam keimanan yang kokoh. Alhamdulillah rasa yang menggiring kepada kehancuran ini telah terselamatkan. Aku pun bertekad menjadikan peristiwa ini tamparan keras yang harus segera diakhiri.
Kita tetap bersilaturahim, tapi sebagai dua orang asing yang saling mendukung dari kejauhan. Maafkan aku atas kekeliruan ini. Semoga Allah menguatkan hati kita agar tidak ada lagi rasa yang mencelakakan di dunia dan akhirat.”
Yuka membaca pesan itu berkali-kali. Setiap hurufnya seperti menampar sekaligus memeluk. Ia menangis, tapi untuk pertama kalinya bukan karena kehilangan, melainkan karena diselamatkan.
Ia sadar, cinta ini memang bukan untuk dimiliki, tapi untuk dimaknai.
Malam itu, Yuka menatap langit dan berbisik lirih,
“Ya Allah, terima kasih telah mempertemukanku dengan seseorang yang mengajarkan cara melepaskan dengan cinta.”
Dan di suatu tempat yang lain, Anggara menatap sajadahnya yang basah oleh air mata. Ia tahu, sebagian hidupnya telah tertinggal di mata seorang perempuan yang kini ia doakan dalam diam.
Cinta mereka tak berakhir di pelukan, tapi di sujud yang sama—pada Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati.
Epilog: Doa dari Hati yang Belajar Melepaskan
Tak semua yang indah harus dimiliki.
Kadang, yang terindah justru harus dilepaskan agar tak menjadi dosa.
Yuka dan Anggara belajar, bahwa cinta sejati bukanlah yang menuntut untuk bersatu, melainkan yang saling menjaga agar keduanya tetap utuh di hadapan Tuhan.
Mereka bukan kekasih, tapi dua jiwa yang pernah bersentuhan dalam takdir yang keliru.
Kini keduanya berjalan di jalannya masing-masing, namun di sudut hati yang paling sunyi, ada sebaris doa yang tak pernah padam:
“Ya Allah, jika rasa ini salah, maka hapuslah dengan kelembutan-Mu,
tapi jika rasa ini lahir dari kasih-Mu, jadikan ia kekuatan untuk tetap taat kepada-Mu.”
Maka berakhirlah kisah itu — bukan dengan kebahagiaan duniawi,
melainkan dengan kemenangan spiritual.
Yuka dan Anggara kehilangan cinta, namun menemukan Tuhan.
*Indonesia Jaya, Juni 2025






