Keberanian Yang Hilang

Saat Indonesia Memilih Diam, Malaysia Memilih Berdiri

sumber gambar dibuat oleh AI
sumber gambar dibuat oleh AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ketika kezaliman dipertontonkan secara terang-terangan, ketika darah rakyat sipil mengalir tanpa ampun, justru yang muncul bukan gelombang perlawanan global, melainkan standar ganda yang memuakkan.

Pernyataan tegas Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menjadi tamparan keras bagi dunia internasional—dan lebih khusus lagi bagi kita di Indonesia. Dengan lantang ia menyebut Israel sebagai negara yang “biadab, khianat, dan gila.” Sebuah ungkapan yang bukan sekadar retorika, tetapi cerminan keberanian moral dalam menghadapi ketidakadilan global.

Anwar Ibrahim tidak berhenti di sana. Ia menegaskan bahwa ketika Iran membalas, justru Iran yang diserang dan disudutkan. Ini adalah potret nyata dunia yang dikendalikan oleh kekuatan besar—Amerika Serikat dan sekutunya—yang dengan angkuh menentukan siapa yang boleh menyerang dan siapa yang tidak boleh membela diri.

Pertanyaannya: di mana posisi Indonesia?

Negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini justru tampak gamang. Bahkan lebih menyakitkan, Indonesia memilih bergabung dalam skema Board of Peace—sebuah forum yang banyak pihak nilai sebagai konstruksi politik yang tidak lepas dari pengaruh Amerika dan Israel.

Ini bukan sekadar keputusan diplomatik. Ini adalah krisis keberanian.

Kita seperti kehilangan nyali. Seolah-olah lebih memilih aman dalam lingkaran kekuatan global daripada berdiri tegak membela kebenaran. Dalam bahasa yang lebih jujur: kita tampak seperti “banci” dalam menghadapi kezaliman—tidak berani bersikap tegas, tidak berani menyebut salah sebagai salah.

Padahal sejarah Indonesia dibangun di atas keberanian melawan penjajahan. Bung Karno tidak pernah mengajarkan bangsa ini untuk tunduk pada ketidakadilan global. Para ulama dan pejuang kemerdekaan tidak pernah menggadaikan prinsip demi kenyamanan politik.

Hari ini, semangat itu seolah memudar.

Kita menyaksikan Malaysia—negara yang secara geopolitik lebih kecil—justru tampil lebih berani, lebih tegas, dan lebih bermartabat dalam sikapnya. Sementara Indonesia, dengan segala potensinya, justru terjebak dalam sikap abu-abu yang membingungkan.

Baca Juga:  Peran Sekolah Swasta dalam Mencerdaskan Bangsa

Pertanyaan besar harus kita ajukan, termasuk kepada pemimpin negeri ini, Prabowo Subianto:
Apakah kita masih punya keberanian untuk berdiri di pihak yang benar?
Ataukah kita akan terus menjadi penonton dalam panggung ketidakadilan global?

Sejarah akan mencatat sikap kita hari ini.
Dan generasi mendatang akan bertanya:
ketika dunia terbakar oleh kezaliman, Indonesia berada di pihak siapa?

Wallahu’alam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *