
Oleh Parihah
Suasana hangat dan penuh kekhidmatan tampak di salah satu rumah warga Komplek Bahagia Permai Kota Bandung, setiap Senin pagi. Sejumlah ibu-ibu dan warga sekitar berkumpul mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an yang rutin dilaksanakan pukul 09.30 hingga 11.00 WIB. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam.
Pengajar tahsin, Ustadz Kristiono, S.I.Kom. menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak sebelum pandemi Covid-19. Menurutnya, kegiatan tahsin lahir dari keresahan masyarakat terhadap bacaan Al-Qur’an mereka yang dirasa belum fasih dan belum sesuai kaidah tajwid.
“Kegiatan tahsin ini adalah upaya masyarakat untuk memberantas buta huruf Al-Qur’an sekaligus mendekatkan masyarakat terhadap Al-Qur’an sehingga rasa cinta terhadap Al-Qur’an semakin tumbuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik berkat dukungan salah seorang warga yang turut memfasilitasi tempat dan kebutuhan kegiatan, yaitu Ibu Hj Yunel Fitri dan Bapak Haji Yusrizal . Antusiasme warga pun dinilai sangat tinggi sejak awal pelaksanaan hingga saat ini.
Dalam setiap pertemuan, peserta mempelajari berbagai materi tajwid, mulai dari makhraj huruf, sifat huruf, hukum tebal tipis bacaan, panjang pendek, hingga ghunnah. Selain pembelajaran teori dan praktik, kegiatan juga diisi dengan tadarus Al-Qur’an secara bergiliran.
Menurut Ustadz Kris, begitu beliau biasa di sapa, pembelajaran tahsin menjadi hal penting bagi umat Islam karena membaca Al-Qur’an tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
“Karena kita ini umat Islam yang kitab sucinya Al-Qur’an. Sementara cara membaca Al-Qur’an ini tidak asal-asalan,” katanya.
Peserta kegiatan tahsin tidak hanya berasal dari warga Komplek Bahagia Permai, tetapi juga warga dari luar lingkungan komplek. Jumlah peserta yang cukup banyak menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Dalam proses pembelajaran, metode yang digunakan ialah dengan mencontohkan bacaan terlebih dahulu, kemudian peserta mengikuti bersama-sama. Setelah itu, peserta diuji satu per satu untuk mengetahui ketepatan bacaan sekaligus mendapatkan koreksi secara langsung.
Meski mayoritas peserta sudah tidak lagi berusia muda, semangat belajar mereka tetap tinggi. Namun, kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran.
“Tantangannya adalah bagaimana memahamkan ilmu tajwid kepada peserta yang usianya sudah tidak muda lagi, terkadang mudah lupa bahkan kadang tidak paham dengan materi tajwid,” ungkapnya.
Meski demikian, perubahan kemampuan membaca Al-Qur’an para peserta terus terlihat seiring berjalannya waktu. Ada peserta yang mengalami perkembangan dengan cepat, ada pula yang memerlukan proses lebih lama.
Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, Ustadz Kris menilai bahwa belajar Al-Qur’an tetap harus menjadi prioritas bagi setiap Muslim.
“Belajar Al-Qur’an harus kita paksakan karena ini kitab kita sebagai umat Islam. Kitab ini merupakan petunjuk kehidupan dunia akhirat, sehingga sesibuk apa pun harus kita luangkan,” tuturnya.
Selain menjadi sarana belajar membaca Al-Qur’an, kegiatan tahsin ini juga menghadirkan suasana kebersamaan dan semangat belajar di tengah masyarakat. Terkadang, suasana kelas menjadi cair ketika peserta berusaha keras menirukan pengucapan huruf hijaiyah hingga memunculkan momen lucu yang mengundang tawa bersama.
Ke depan, Ustadz Kris berharap para peserta tetap istiqamah dan tidak mudah menyerah dalam belajar Al-Qur’an. Ia juga berpesan agar masyarakat tidak merasa malu ataupun ragu untuk mulai belajar membaca Al-Qur’an.
“Belajar Al-Qur’an itu wajib. Maka jangan ragu, karena nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT,” pungkasnya.





