
BANDUNG, DARAS.ID — Institut Agama Islam (IAI) Persis Bandung mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mengubah ide menjadi usaha yang bernilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam Seminar Kewirausahaan Mahasiswa 2026 bertajuk “From Idea to Execution: Dari Ide Menjadi Usaha, dari Usaha Menjadi Kebermanfaatan”. Materi seminar disampaikan oleh H. Fajar Sulaeman Noviandi, MBA, Ketua BUMJ PP Persis.
Seminar tersebut menempatkan kewirausahaan bukan semata-mata sebagai aktivitas mencari keuntungan, tetapi sebagai proses mengembangkan ilmu, karakter, kreativitas, dan keberanian untuk menciptakan solusi.
Dalam materi yang disampaikan, mahasiswa diperkenalkan pada tiga orientasi masa depan, yakni employee, entrepreneur, dan impact maker. Mahasiswa dapat memilih jalur sebagai pencari kerja, menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha, maupun menggunakan ilmu, bisnis, dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan sosial.
Dari Masalah Menjadi Peluang
Salah satu kerangka yang diperkenalkan dalam seminar adalah proses “Idea to Execution”, yang dimulai dari kemampuan membaca masalah di sekitar.
Tahapannya meliputi identifikasi masalah, menemukan ide dan solusi, merancang model bisnis, mencari dukungan pendanaan, melakukan eksekusi, hingga menghasilkan profit dan impact.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki ide kreatif, tetapi juga mampu menguji apakah ide tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Materi seminar juga menekankan pentingnya Business Model Canvas sebagai salah satu instrumen untuk membantu mahasiswa memetakan model usaha secara lebih sistematis.
Orientasi akhirnya tidak hanya berhenti pada keberlanjutan usaha. Kewirausahaan diarahkan untuk menghasilkan manfaat bagi umat dan masyarakat, sekaligus memiliki nilai kebermanfaatan yang lebih luas.
Kewirausahaan dan Tantangan Dunia Kerja
Materi seminar turut mengangkat data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 mengenai tingkat pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan. Dalam materi tersebut disebutkan bahwa tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,6 persen, lebih tinggi dibandingkan kelompok pendidikan SMA dan SMP.
Data tersebut digunakan sebagai bahan refleksi mengenai pentingnya membangun kompetensi kewirausahaan sejak mahasiswa.
Menurut materi seminar, tantangan lulusan tidak hanya berkaitan dengan persaingan kerja, tetapi juga kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, pengalaman praktis, jejaring, serta orientasi pendidikan yang selama ini dapat lebih banyak diarahkan pada pencarian pekerjaan.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak hanya bertanya, “Di mana saya akan bekerja?”, tetapi juga mulai memikirkan, “Masalah apa yang dapat saya selesaikan dan nilai apa yang dapat saya ciptakan?”
Disrupsi: Memulai dari yang Belum Terlayani
Pembahasan kewirausahaan juga dikaitkan dengan teori disruptive innovation yang diperkenalkan Clayton M. Christensen.
Dalam materi seminar, disrupsi dijelaskan sebagai inovasi yang dapat dimulai dari pasar yang kurang terlayani dengan menawarkan solusi yang lebih sederhana, terjangkau, dan mudah diakses.
Mahasiswa kemudian diarahkan untuk melihat peluang dari persoalan yang sering kali dianggap kecil.
Gagasan utamanya adalah bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Peluang dapat muncul dari kebutuhan masyarakat yang belum memperoleh solusi yang memadai.
Tiga Jalur Sederhana Menciptakan Profit
Seminar juga memperkenalkan tiga cara dasar menciptakan keuntungan dalam aktivitas kewirausahaan, yaitu berdagang, produksi, dan jasa.
Perdagangan dilakukan dengan memindahkan barang dari satu titik ke titik lain melalui proses pembelian dan penjualan. Produksi dilakukan dengan mengolah bahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Sementara jasa dilakukan dengan membantu pelanggan menyelesaikan kebutuhan tertentu dan memperoleh imbalan atas layanan tersebut.
Ketiganya memiliki prinsip yang sama, yakni menciptakan nilai.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak menunggu peluang yang sempurna. Peluang dapat dimulai dari skala kecil, kemudian dikembangkan melalui konsistensi, eksekusi, evaluasi, dan pembelajaran berkelanjutan.
Membangun Nilai Melalui Branding
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pentingnya branding.
Seminar menunjukkan bahwa produk atau kompetensi yang secara dasar serupa dapat memiliki nilai ekonomi yang berbeda ketika memiliki identitas, cerita, pengalaman, dan tingkat kepercayaan yang berbeda.
Branding tidak hanya berkaitan dengan logo atau tampilan visual, tetapi juga dengan kepercayaan, pengalaman, cerita, nilai pembeda, dan reputasi.
Konsep tersebut kemudian diperluas pada personal branding. Mahasiswa tidak hanya perlu memiliki kompetensi, tetapi juga perlu membangun identitas profesional yang dapat dikenali dan dipercaya.
Potensi Ekosistem Ekonomi Persis
Materi seminar juga menghubungkan kewirausahaan mahasiswa dengan potensi ekosistem organisasi Persis.
Dalam materi dipaparkan bahwa Persis memiliki basis komunitas yang besar serta jaringan organisasi dan berbagai layanan. Potensi tersebut meliputi komunitas anggota dan simpatisan, organisasi otonom, perguruan tinggi, lembaga keuangan, layanan pendidikan, hingga berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.
Namun, materi tersebut juga mengidentifikasi adanya tantangan berupa belum terhubungnya berbagai potensi tersebut menjadi satu arus transaksi dan ekosistem ekonomi yang terintegrasi.
Gagasan transformasi yang ditawarkan adalah membangun ekosistem ekonomi yang lebih terhubung melalui digitalisasi, integrasi, dan tata kelola.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi, aktivitas ekonomi dapat menjadi lebih terukur dan diharapkan mampu memberikan dukungan terhadap keberlangsungan dakwah, pendidikan, serta kesejahteraan umat.
Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Masa Depan
Pada bagian akhir, seminar menekankan bahwa sumber daya untuk memulai sebenarnya telah tersedia. Ilmu dapat diperoleh dari kampus, dosen, buku, artikel, media digital, komunitas, dan berbagai sumber pembelajaran lainnya.
Sementara itu, akses terhadap modal, jaringan, mentor, komunitas, pemerintah, lembaga pendanaan, serta pasar juga semakin terbuka.
Karena itu, tantangan kewirausahaan tidak semata-mata terletak pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada mentalitas dan tindakan untuk mengubah sumber daya tersebut menjadi sesuatu yang bernilai.
Seminar ditutup dengan penekanan bahwa ukuran keberhasilan tidak berhenti pada kekayaan pribadi. Pendidikan dapat memberikan ilmu dan membuka peluang, kekayaan dapat menjadi instrumen untuk memperbesar manfaat, kesehatan dapat memberikan kenyamanan, sementara masjid dan berbagai aktivitas sosial dapat menjadi sarana menghadirkan manfaat bagi umat.
Dengan demikian, semangat “From Idea to Execution” diarahkan bukan sekadar untuk melahirkan mahasiswa yang mampu berwirausaha, tetapi generasi yang memiliki knowledge, character, entrepreneurship, dan impact—berilmu, berakhlak, mampu menciptakan nilai, serta menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Penulis: Lalan Sahlani





