
“Hati-hati dengan cinta.
Karena cinta dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, Raja menjadi budak.
Jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu.” (HAMKA)
Oleh Nurdin Qusyaeri
Nasihat Hamka di atas mengenai cinta menyentuh aspek mendalam dari bagaimana cinta dapat mengubah seseorang—terkadang menuju kebaikan, namun sering kali juga menjadi sumber penderitaan.
Cinta memang kuat, menggetarkan bahkan meluluhkan lantakan, dan kerap sulit untuk dikendalikan. Dalam peringatan ini, Hamka menyoroti bahaya ketika cinta, yang sejatinya adalah perasaan murni dan indah, jatuh pada orang yang salah—pecinta palsu.
Pecinta palsu adalah mereka yang memanfaatkan, mengkhianati, dan mengecewakan, yang tidak memiliki ketulusan atau niat baik di dalam hati mereka.
Ketika cinta diarahkan kepada orang yang tak jujur, itu dapat menguras seluruh energi positif, hingga menjungkirbalikkan kehidupan seseorang.
Orang yang dulunya penuh vitalitas menjadi lemah, yang kaya menjadi miskin, yang berkuasa jatuh derajatnya.
Bukan karena cinta itu sendiri buruk, tetapi karena manusia seringkali lalai membedakan antara cinta yang sejati dengan kepura-puraan.
Inilah sebabnya cinta memerlukan kebijaksanaan, agar kita mampu melihat dengan mata batin dan tidak terjebak pada rupa atau kilau sementara.
Hamka mengajarkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang memuliakan, mengangkat, dan menumbuhkan kebaikan.
Cinta ini melahirkan kebahagiaan yang sejati, yang tak terkurung oleh tipu daya.
Maka, dalam setiap keputusan mencintai, hati perlu berhati-hati agar tidak memberi kesempatan kepada mereka yang hanya menawarkan fatamorgana, dan bukan ketulusan. Wallahu ‘alam.






