
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di negeri +62, buruh itu ibarat nasi padang bungkus—penting, sering dibawa ke mana-mana, tapi kadang cuma dilirik, gak pernah dimuliakan. Coba saja mampir ke kawasan industri; dari Subang sampai Cikarang, banyak buruh yang kerjanya nyaris kayak robot pabrik: shift pagi, lembur malam, pulang hanya untuk tidur, bangun kerja lagi. Mirip game The Sims, cuma tanpa cheat motherlode.
Kapitalisme: Sistem “Beli Tenaga, Bukan Orangnya”
Kapitalisme, kata Karl Marx, menjadikan buruh tak lebih dari komoditas. Tenaga kerja dihitung pakai kalkulator keuntungan, bukan perasaan manusia. Sistem ini fokus pada efisiensi, bukan empati. Buruh dapat gaji, tapi kadang tidak cukup untuk hidup layak—apalagi healing ke Bali, ke Indomaret pun mikir.
Sosialisme: Semua Milik Bersama, Tapi Tetap Ada Bosnya
Di sisi lain, sosialisme menjanjikan kesetaraan. Tapi sejarah berkata lain. Banyak negara sosialis malah menciptakan “elite partai” baru yang tak kalah eksploitatif. Akhirnya, buruh tetap aja jadi alat produksi, hanya ganti baju ideologinya.
Lalu, Islam Bilang Apa?
Islam hadir dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286, Allah menegaskan bahwa manusia tidak dibebani melebihi kemampuannya. Rasulullah SAW pun pernah bersabda:
“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibn Majah)
Gak perlu HRD, Nabi sudah lebih dulu mengatur soal hak buruh.
Islam memandang pekerja bukan sekadar mesin penghasil nilai tambah, tapi manusia utuh yang punya hak dan kehormatan. Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad SAW pernah mempekerjakan Zaid bin Haritsah dan memperlakukannya bukan sebagai budak, tapi sebagai keluarga. Bayangkan kalau HR zaman sekarang kayak gitu, bisa jadi tiap Senin pagi isinya pelukan, bukan resign.
Realitas di Lapangan: Buruh Indonesia, Korban Sistem atau Budak Zaman?
Di tahun 2024, data dari BPJS Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa sebagian besar buruh Indonesia masih hidup dengan penghasilan UMR, bahkan banyak yang tidak terdaftar di jaminan sosial. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok dan cicilan motor naik tanpa minta maaf dulu. Gak heran kalau buruh makin hari makin stres, bahkan istilah “makan gaji buta” berubah jadi “digaji buat makan mi instan”.
Contoh paling tragis terjadi di pabrik-pabrik tekstil Jawa Barat, di mana buruh perempuan harus kerja berdiri selama 10 jam, dengan istirahat seadanya. Alih-alih disebut pahlawan devisa, mereka malah disebut “anggaran berjalan” oleh atasan.
Jalan Tengah: Islam sebagai Solusi Etis dan Spiritual
Islam memberikan panduan hubungan industrial yang seimbang
- Hak Pekerja. Upah layak, waktu kerja manusiawi, dan perlindungan jiwa-raga.
- Kewajiban Pekerja. Disiplin, tanggung jawab, dan profesional.
- Etika Majikan. Dalam QS. An-Nisa [4]: 58, Allah perintahkan menunaikan amanat kepada yang berhak. Artinya, boss harus bayar upah sesuai kontribusi, bukan semaunya.
Natijah:
Jika kapitalisme menjadikan buruh sebagai bagian mesin dan sosialisme menjadikan mereka pion revolusi, maka Islam mengembalikan martabat buruh sebagai insan mulia. Maka, andai para CEO, HRD, dan pemerintah mau baca sedikit QS. Al-Muthaffifin, mungkin upah buruh bisa naik tanpa perlu demo sambil bawa poster “Gaji Segini, Mau Makan Apa?”.
Wallahu’alam
Referensi:
- Chapra, M.U. (2000). The Future of Economics: An Islamic Perspective. Islamic Foundation.
- Ahmad, K. (2003). Islamic Ethics in the Changing Workplace. IIIT.
- Badan Pusat Statistik. (2023). Indikator Ketenagakerjaan Indonesia.
- ILO (2022). Indonesia Labour Market Update.





